Buruh Protes! UMK di Sidimpuan Masih Terlalu Murah

M24.CO|SIDIMPUAN

Upah Minimum Kota (UMK) Tahun 2016 Rp.1.927.500 yang ditetapkan Gubernur  dan telah efektif berlaku sejak januari lalu, masih dinilai kurang membantu dalam memberikan kehidupan yang layak bagi pekerja dewasa ini.

“UMK Kota Padangsidimpuan yang sudah ditetapkan Gubernur  pada tahun 2016 ini masih relatif murah apalagi harga kebutuhan sehari-hari yang cukup tinggi,” kata Ketua DPC FKUI-SBSI Padangsidimpuan, Safriani kepada wartawan hari ini.

Menurutnya, nilai UMK yang ditetapkan Gubernur Sumatera Utara itu adalah untuk kebutuhan hidup buruh atau pekerja yang masih lajang dan bukan yang sudah berkeluarga, namun hasil pengamatannya sebagian besar memberlakukan upah tersebut kepada buruh tanpa mau tau apakah sudah berkeluarga atau belum.

“Saya tidak menyebutkan angkanya berapa yang pas dan layak tapi angka yang ada sekarang ini dinilai kurang perlu ada penambahan antara 15 s/d 20 persen, karena biaya hidup yang cukup mahal sekarang,” katanya.

Ironinya, UMK  yang sudah ditetapkan sekarang ini juga masih banyak perusahaan yang tidak taat dan patuh terhadap aturan. “Diperkirakan baru 30-40 persen saja perusahaan yang mau mengikuti aturan UMK ini sebagai acuan menggaji karyawanannya. Paling perusahaan besar saja dan banyak perusahaan kecil lainnya belum mampu membayar karyawannnya sesuai dengan UMK,” kata Safriani.

Dikatakannya lagi mengingat dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan dimana pemerintah sudah mengeluarkan rumus baku yang tidak bisa ditawar membuat buruh semakin dipaksakan pasrah pada keadaan.

 Tapi meski demikian hendaknya pemerintah daerah bisa membuat kebijakan yang lebih mensejahterakan buruh meski  Kota Padangsidimpuan bukan daerah industri namun buruh sektor jasa dan perdagangan yang biasanya rentan dengan upah murah.

 Dalam hal ini sepertinya pemerintah juga terkesan memandang sebelah mata akan nasib buruh di Kota Padangsidimpuan yang mayoritas berada di sektor jasa dan perdagangan.

 “Buruh di sektor jasa dan perdagangan agak sedikit beda dengan sektor industri yang lebih kuat rasa solidaritasnya antar sesama buruh dan dari segi jumlah dalan satu lokasi kerja juga lebih sedikit dibanding di sektor industri.

 Sehingga para buruh ini kebanyakan berprinsip dari pada jadi pengangguran sehingga ketika menyadari apa yang mereka terima tidak sesuai, mereka hanya pasrah dan tidak berani menyuarakannya karena takut dikeluarkan dari pekerjaannya itu.

Apalagi kenaikan UMK untuk tahun 2017 yang sudah bisa dtebak angkanya dimana kenaikannya hanya sekitar 8,5 persen.

Semestinya baru bisa dibilang layak jika kenaikan itu bisa mencapai antara 15 – 20 persen mengingat harga kebutuhan pokok selama enam bulan terakhir ini terus merangkak naik.(sabar)

Loading...
author