Ini Miniatur Rumah Adat Tapsel dari Daun Pisang dan Kulit Salak

kerajinanM24.CO| TAPANULI SELATAN

Kerajinan tangan miniatur Bagas Godang (rumah adat) Tapanuli Selatan (Tapsel), karya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Batang Angkola, Kecamatan Batang Angkola, menjadi daya tarik… tersendiri bagi pengunjung diacara hari jadi Pemkab Tapsel ke 66 di Sipirok.

Bagi sebagian masyarakat, daun pisang hanya dipergunakan untuk membungkus masakan, begitu juga dengan kulit salak. Namun, lain halnya dengan siswa SMA Negeri 1 Batang Angkola, Kelas 11, Ilmu Pengatahuan Alam (IPA), bagaimana tidak, mereka berhasil menciptakan miniatur Bagas Godang Tapsel dari daun pisang dan kulit salak. Proses pembuatan terbilang mudah, awalnya siswa tersebut cukup membangun rangka bagas godang dari karton.

Selanjutnya, karton tersebut dilapis dengan kulit pisang yang sudah diolah.”Daun pisang tersebut dirakit dengan kartun yang menjadi rangka bangunan,”ujar Yusuf Effendi Lubis, 17, pembuat kerajinan tangan Bagas Godang Tapsel kepada metro24.co, ketika ditemui di stand pameran hari jadi Pemkab Tapsel  di Sipirok.

Lebih lanjut dia mengatakan, kulit salak yang sudah dijemur khusus untuk atap  bangunan, sehingga terlihat mewah namun berlatar kesederhanaan. Dia mengatakan, tidak ada spesifikasi  daun pisang dan kulit salak untuk membuat bangunan, karena semua daun pisang dan kulit salak dapat dipergunakan.

Dia mengakui, untuk pembuatan satu bangunan miniatur bagas godang hanya membutuhkan satu hari kerja. Saat ini, hampir seluruh siswa di sekolah tersebut sudah mampu menciptakan bangunan dari daun pisang dan kulit salak, karena setiap harinya, mereka mempelajari cara membuatnya.

“Mudah-mudahan kerajinan seperti ini dapat memberikan manfaat, karena saat ini sudah mulai bernilai ekonomis,”tuturnya.

Dia mengatakan, saat ini,  1 unit miniatur Bagas Godang Tapsel dijual dengan harga Rp225 ribu. Menurutnya, pemesanan miniatur itu sudah mulai banyak, karena para siswa di sekolah itu  terus melakukan promosi-promosi terutama di media-media online.

“Kami promosinya masih di facebook saja, karena untuk promosi ke tempat lainnya belum ada biaya,”tegasnya. Dia berharap kepada pemerintah dapat membantu dalam memasarkan hasil kerajinan tangan para siswa yang ada di sekolah itu, karena masih banyak kerajinan tangan lainnya.

Dia menambahkan, dari hasil pembuatan miniatur bagas godang tersebut sudah dapat membantu biaya sekolahnya.

“Dapat mengurangi beban dari orang tua untuk biaya sekolah,”tegasnya. Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Batang Angkola  Taufik Hidayat mengatakan, hasil kerajinan yang dibuat siswa-siswanya itu perlu mendapat promosi, sehingga dia menilai, kegiatan hari jadi Pemkab Tapsel  momentum yang baik untuk menggelar promosi.

“Tampil dengan stand sendiri merupakan inisiatif dan hanya dua sekolah SMA yang ambil bagian setelah SMA Plus Sipirok” katanya. Dikatakannya, ilmu keterampilan dan seni ini ditekuni siswa sejak dua tahun yang lalu  dengan memasukkan pada kegiatan ekstrakurikuler setelah pulang sekolah.

“Melalui tenaga pengajar yang memiliki kemampuan keterampilan dan seni menggambar para siswa dibekali dan hasilnya memuaskan. Hasil karya mereka mampu mendapat juara pada Festival dan Lomba Seni Tingkat Nasional (FLS2M) tingkat Propinsi Sumut,” katanya.

Dijelaskannya, kerajinan seni yang ditampilkan dan siap dipasarkan Bagas Godang, suvenir biji salak dan kulit salak, seni lukis sang pemburu kaligrafi Nabi Muhammad, gambar Ikan Arwana, Baby Mongky, tiga kupu-kupu, gambar lubuk larangan dan burung Murai.

“Untuk karya suvenir biji salak dan kulit tampil sebagai juara dua pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional  Tingkat Provinsi Sumut untuk karya dari Ayu Wulandari kelas II IPA III,”imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, miniatur Bagas Godang terbuat dari kulit salak dan pelepah pisang juara empat besar karya dari Yusuf Efendi Lubis kelas II IPA 11. Kedepannya,

Taufik berencana para siswa akan akan mempelajari cara membuat film pendek. Dia menilai, cara seperti itu dapat merubah pandangan masyarakat yang menilai  siswa SMA selama ini tidak memiliki kemampuan tersendiri. (sabar)

Area lampiran
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.