Jeritan Korban DL Sitorus ‘Saya tak akan angkat kaki dari tanah ini, saya pertahankan sampai kapan pun’

caplok

Lokasi tanah yang dicaplok oleh DL sitoru diduduki warga kembali

M24.CO l PADANGBOLAK
Merasa tanah miliknya dicaplok D.L Sitorus, anggota keluarga Hj Hafsotul Mardiah Harahap kembali menduduki lahan tersebut. Kedatangan mereka kali ini untuk mendirikan tenda dan akan bertahan di lokasi tanahnya hingga persoalan sengketa tanah miliknya itu selesai, kemarin (14/10/2016).
Lokasi tanah yang didudukinya merupakan tanah miliknya seluas 3 hektar yang belakangan diketahui telah di caplok pengusaha DL Sitorus dan dijadikan lokasi pembangunan hotel.

Keabsahan kepemilikan tanah itu dibuktikan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) nomor: 116/K/AG/2007 yang menyatakan bahwa tanah seluas tiga hektar itu merupakan tanah waris dari suaminya Almarhum H Sutor Siregar.

Pemilik tanah Hj Hafsotul Mardiah Harahap saat menduduki lahan tanah miliknya juga membawa satu berkas surat klarifikasi pengukuran ulang dari DPR RI atasnama H R Muhammad Syafii SH Mhum dengan No anggota A.326.

Didalam surat yang bernomor 052/A326-DPRRI/X/2016 perihal mohon klarifikasi tentang ada indikasi pelanggaran hukum atas proses pengukuran tanah oleh BPN Tapsel atas lahan Almarhum Masrin Siregar (Ahli waris Paisal Siregar) di Paranginan, Desa Purba Sinomba, Kecamatan Padang Bolak yang dilakukan pada tanggal 13 Juli 2012 dengan tujuan surat dialamatkan kepada Kepala BPN Tapsel meminta kepada BPN Tapsel untuk kembali melakukan pengukuran ulang terhadap sebidang tanah yang dilakukan oleh penjual kepada pengusaha DL Sitorus karena tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan cacat hukum.

“Acuan jual beli tanah yang dilakukan oleh penjual yakni Paisal Siregar kepada DL Sitorus tidah sah dan cacat hukum,” kata Hafsotul Mardiah Harahap kepada sejumlah wartawan.

Lanjutnya, sesuai pernyataan Kepala Desa Purba Sinomba Damhuri Harahap dengan nomor: 25/18/2015 bahwa sertifikat hak milik nomor 32 dengan jumlah tanah 3.706 meter dan sertifikat hak milik nomor: 33 dengan luas 39.831 meter berdasarkan akta pinjam pakai nomor: 133 tanggal 29 Mei 2013 yang artinya luas lahan milik Paisal Siregar hanya seluas 4 hektar, bukan tujuh hektar seperti yang di jualnya kepada DL Sitorus.

Bentuk protes lainnya, katanya ia juga sudah melayangkan surat protes kepada BPN Tapsel yang ingin menyampaikan rasa keberatannya atas pengukuran yang dilakukan oleh BPN Tapsel pada tanggal 13 Juli 2012 lalu yang menurutnyanya dilakukan secara sepihak oleh si penjual tanah Paisal Siregar tanpa sepengetahuannya.

Untuk kata Hafso, ia dan seluruh keluarga besarnya yang berjumlah 30 orang akan mendirikan tenda dan akan memilih bertahan di lokasi tanah yang menjadi miliknya sesuai putusan Mahkamah Agung (MA) dengan nomor: 116/K/AG/2007.

“Saya tidak akan angkat kaki dari tanah saya ini, tetap akan saya pertahankan sampai kapan pun juga,” tegasnya.Sementara sekuriti maupun para pekerja yang berada di lokasi proyek pembangunan hotel milik DL Sitorus ketika dikonfirmasi menolak memberikan komentarnya.

Sebelumnya, Paisal Siregar si penjual lahan kepada DL Sitorus mengatakan, lahan miliknya yang ia jual kepada DL Sitorus akunya adalah seluas tujuh hektar. Hal itu Itu berdasarkan surat kepala desa Purba Sinomba. Paisal juga sempat mengeluarkan surat tanah miliknya yang mengatakan bahwa lahan miliknya yang dijual ke DL Sitorus seluas 7 hektar.

Pantauan sejumlah wartawan, pemilik tanah Hj Hafsotul Mardiah Harahap didampingi keluarganya mendatangi lokasi pembangunan hotel. Kedatangannya kali ini untuk mendirikan tenda dan akan bertahan di lokasi tanahnya hingga persoalan sengketa tanah miliknya seluas tiga hektar itu selesai. (sabar)

Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.