Kades Kwala Mencirim ‘Bodohin’ Warga, K3H Minta Klarifikasi Soal Galian C

k3h-copyyy

[Teks Foto: Ketua K3H Desa Pasar VI Kwala Mencirim, Sahring Setio]

M24.CO|LANGKAT

Merasa program konservasi yang dilakukan terkesan mendapat ganjalan dari beberapa pihak, Kelompok Koservasi Kukam Hijau (K3H) Desa Pasar VI Kwala Mencirim, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat meminta Kepala Desa (Kades) untuk mengakui keberadaan kelompok konservasi di tengah masyarakat desa.

Pasalnya, 63 batang pohon yang telah ditanam oleh K3H di bantaran sungai Kukam dirusak dan dibakar oleh oknum yang disebut-sebut merupakan orang suruhan dari pihak Galian C yang ada di Desa Pasar VI Kwala Mencirim. Sebagaimana hal tersebut diungkapkan oleh Ketua K3H Desa Pasar VI Kwala Mencirim, Sahring Setio.

“Kelompok ini sudah berdiri hampir dua tahun terkahir, dan tujuan dibentuknya kelompok ini adalah untuk menyelamatkan generasi muda desa dari ancaman bahaya narkoba. Tapi beberapa bulan lalu, tiba-tiba lahan yang sudah kami tanami pohon di bantaran sungai Kukam dirusak dan dibakar oleh seseorang. Dan dari informasi yang kami cari tau, ternyata orang tersebut merupakan orang suruhan dari pihak pengusaha galian C yang ada disini,” ujar Sahring kepada M24.CO, Selasa (18/10/2016) tadi siang.

Lebih jauh, terkait hal tersebut, Sahring meminta agar Kades dapat mengakui keberadaan kelompok konservasi yang mereka bentuk. Dimana hal tersebut dilakukan guna membuktikan bahwa Kades mendukung program positif yang dilakukan oleh masyarakat, sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang menyebutkan adanya orang suruhan dari pihak galian C yang merusak lahan yang dimanfaatkan oleh K3H.

“Makanya itu, kami minta agar Kades bisa mengakui keberadaan kelompok konservasi yang kami bentuk ini. Sehingga semua bisa mengetahui siapa sebenarnya yang menyuruh orang untuk merusak tanaman yang kami tanam itu,” jelasnya.

Selain itu juga, Sahring meminta agar Kades bisa memanggil beberapa pihak untuk dapat duduk bersama guna membahas tentang keberadaan kelompok K3H. Sebab, jelas Sahring, beberapa waktu sebelumnya, saat mereka meminta izin dari Kades untuk dapat menggunakan lahan yang berada dibantaran sungai sebagai lahan konservasi desa, Kades mengatakan kepada mereka bahwa hal tersebut harus mendapat persetujuan dari beberapa pihak dimana salah satunya adalah pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Langkat.

“Kami juga minta agar Kades bisa memfasilitasi kami agar memanggil beberapa pihak terkait, termasuk Dinas Kehutanan agar bisa membicarakan hal ini secara bersama-sama. Sebab, kemaren itu saat kami tanya langsung sama Kades soal pemanfaatan lahan yang mau digunakan itu, Kades bilang ke kami bahwa hal itu harus mendapatkan persetujuan dari Dinas Kehutanan juga. Maka dari itulah kami minta Kades bisa segera menyelesaikan hal ini dan memanggil pihak terkait. Sebab kami sudah merasa dibodoh-bodohi oleh Kades kami sendiri,” pungkas Sahring.[rel/winsah]

Loading...
author