Lapor Pak Kadispendasu!! Ada Praktek Percaloan di Kantor Samsat Gunungsitoli

Kepala Samsat Gunungsitoli, Elizaro Zebua

 

M24.COlGUNUNGSITOLI

Praktek kotor para calo dalam pengurusan kelengkapan surat-surat tanda kendaraan bermotor pada Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Gunungsitoli atau dikenal dengan Kantor Cabang UPT Dispenda Sumatera Utara, mulai terendus.

Terendusanya praktek percaloan setelah korban, Betty Manurung, warga Kecamatan Lotu, Nias Utara, melaporkan Fangenano Van Laoli ke Mapolres Nias atas tuduhan menggelapkan biaya pengurusan mutasi balik nama surat tanda kendaraan bernilai Rp3.500.000.

Fangenano Van Laoli merupakan seorang Pegawai Harian Lepas (PHL) pada Kantor Samsat Gunungsitoli yang bertugas sebagai juru parkir, sekaligus sebagai satuan pengamanan kantor (Satpam).

Melalui sambungan via telephone selular, (18/10/2016), Ama Nanda, suami korban, menuturkan bila penipuan yang dialami istrinya bermula saat hendak akan mengurus mutasi balik nama surat tanda kendaraan bermotor (STNK dan BPKB) roda empat milik mereka.

“Bulan Juli 2015 lalu istri saya mendatangi Kantor Samsat Gunungsitoli untuk mengurus balik nama surat tanda kepemilikan kendaraan roda empat, namun oleh seorang oknum polisi mengarahkannya untuk menemui Fangenano, ucapnya”.

Lanjut Ama Nanda, setelah itu Fengenano meminta biaya pengurusan bernilai Rp5.050.000, karena tidak membawa uang dalam jumlah besar, maka istrinya hanya memberi biaya bernilai Rp3.500.000 dengan perjanjian sisa dibayar setelah pengurusan selesai.

Namun janji tinggal janji, meski menunggu hingga bulan Oktober 2016, pengurusan mutasi balik nama surat tanda kendaraan bermotor dimaksud tak kunjung selesai, bahkan dikabarkan Fangenano telah melarikan diri dan dipecat sebagai PHL di Kantor Samsat Gunungsitoli.

Sementara saat ditemui diruang kerjanya, yang terletak di Desa Mudik, Kecamatan Gunungsitoli, Kepala Samsat Gunungsitoli, Elizaro Zebua, tak menampik praktek percaloan yang dilakukan bawahannya tersebut, namun ia membantah jika biaya bernilai Rp3.500.000 sudah masuk ke Kas Dispenda.

“Saya mendengar kejadian itu langsung dari korban saat datang ke kantor, namun saya tidak bisa berbuat banyak karena yang bersangkutan Fangenano sudah tidak berkantor lagi alias melarikan diri,” terang Elizaro.

Namun saat ditanyai soal keterkaitannya sebagai pimpinan atas praktek percaloan, Elizaro membantah keras bila dirinya terlibat. Namun anehnya, Elizaro  meminta wartawan untuk tidak melakukan perekaman suara hasil wawancara. (Noris)

Area lampiran
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.