Mafia Tanah Resahkan Petani, FKP ‘Serbu’ PN Simalungun

TEks Foto: Forum Komunikasi Partani (FKP) demo Pengadilan Negeri (PN) Simalungun.

Teks Foto: Forum Komunikasi Partani (FKP) demo Pengadilan Negeri (PN) Simalungun.

M24.CO|SIANTAR

Sekitar ratusan massa petani dari Nagori (desa) Pokan Baru Kecamatan Hutabayu Raja dan Nagori Bosar Galugur Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun mendatangi kantor Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Kamis (13/10/2016).

Kehadiran massa petani itu didominasi kaum ibu. Mereka mengatasnamakan Forum Komunikasi Partani (FKP), datang membawa spanduk bertuliskan terkait sengketa tanah yang sedang disidangkan di PN Simalungun. Penjelasan salah satu petani yang mengaku bermarga Sinaga, mereka sudah 30 tahun lamanya dizolimi oleh mafia tanah atas hak lahan pertanian yang mereka kelola.

Di pengadilan para petani itu membagi-bagikan selebaran bertuliskan permohonan kepada majelis hakim yang menyidangkan satu perkara yang melibatkan Helarius Gultom. Melalui selebaran yang ditulis tangan dan tanpa tandatngani itu mereka meminta agar majelis hakim memutuskan perkara Helarius Gultom dengan seadil-adilnya sesuai fakta persidangan.

Masih melalui tulisan dalam selebaran itu, mereka mengaku sudah 30 tahun lebih mencari keadilan atas kasus tanah di desa mereka tapi sampai sekarang belum tuntas juga selanjutnya memohon kepada Bupati, DPRD, BPN, Dinas Kehutanan dan PN Simalungun untuk dapat menyelesaikan dan memutuskan kepemilikan lahan pertanian mereka itu agar memiliki kepastian hukum.

“Kami warga petani ingin hidup damai mencari nafkah dan membesarkan anak-anak kami. Bantulah kami bapak-bapak penguasa,” teriak salah satu petani dengan nada memelas.

Pengakuan para petani itu, mereka sekarang sedang berhadapan dengan satu perusahaan berinisial PT.KG dan kuasanya inisial TJS, dan kepemilikan lahan yang dikuasai perusahaan itu sebut petani hanya berdasarkan ijin prinsif tahun 1991, selanjutnya tidak pernah diperpanjang lagi, begitu juga Hak Guna Usaha (HGU) tidak pernah terbit. Semenara para petani mengaku sudah menguasai lahan pertnian itu selama empat generasi. “Apakah mereka dari perusahaan itu berhak?” tandas petani lainnya.

Mereka juga mempertanyakan apa hak dari TJS memperjualbelikan tanah yang sudah lama dikuasai dan diusahai petani, malah menuduh warga petani memalsukan surat, malah menuduh petani mencuri di atas tanah yang diusahainya sendiri. “Kami juga diintimidasi,” ungkap Purba yang juga mengaku petani.

Para petani itu juga “mengancam” apabila persoalan tanah yang mereka hadapi tidak dituntaskan seadil-adilnya, maka petani akan mengambil sikap melakukan perlawanan.

Nada ancaman ini tertulis juga diselebaran yang mereka bagikan, bertuliskan; “Bangkit melawan sebab kami diam akan tetap ditindas, karena mundur dari tanah leluhur bagi kami adalah pengkhianatan!! Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”.(maris)

Loading...
author