Pembangunan Dermaga Pelindo Rugikan Nelayan

Pembangunan Dermaga Pelindo Rugikan Nelayan

Pembangunan Dermaga Pelindo Rugikan Nelayan

M24.CO|MEDAN
Pembangunan dermaga BICT milik Pelindo dikawasan Kampung Nelayan Indah,Kec.Medan Labuhan,membuat resah sejumlah nelayan ambai.Pasalnya,akibat pembangunan tersebut kini para nelayan tersebut tidak lagi memiliki penghasilan karena imbas dari pembangunan dermaga telah membuat sejumlah ambai milik nelayan rusak.

Hal ini disampaikan sejumlah warga Kampung Nelayan kepada anggota DPRD Kota Komisi C yang dipimpin Boydo HK Panjaitan,bersama Zulkifli Lubis Ratna Sitepu,dan Dame Duma Sari Hutagalung saat melakukan kunjungan kerja setelah menerima laporan warga,Selasa (15/11).

Ahmad Jafar,salah seorang warga mengatakan hampir 9 bulan warga berjuang mengadukan nasibnya,tapi hingga kini belum membuahkan hasil apa pun. “ Pembangunan Terminal II sudah mengangu ambai milik para nelayan karena dilakukan pengerukan alur-alur laut atau reklamasi jadi tempat ambai kami rusak,” keluhnya saat itu.

Sambung,Jafar,pengerukan sendiri dilakukan oleh pihak Pelindo I melalui BICT yang melibatkan PT Wika dan PT Prima. “ Kami sudah mengadukan hal ini kepada PT Pelindo,tapi diserahkan ke BICT sebagai sub unit usah.Dan sudah dilakukan pertemuan,tapi sampai sekarang tidak ada jawaban apa pun,” ucapnya.

Masri yang juga berprofesi sebagai nelayan juga mengeluhkan akibat pengerukan alur laut tersebut kini tidak lagi memiliki penghasilan apa pun. “ Ada 19 nelayan yang memiliki ambai disini (Kampung Nelayan,red),tapi semuanya sudah tidak ada lagi.Pada hal untuk membuat ambai itu bukan mudah karena hanya pada kawasan laut tertentu saja bisa,tapi sekarang kami sudah pasrah tak punya apa pun lagi,pak,” katanya.

Nasib yang serupa juga dialami,Samsiah,yang hingga kini hanya pasrah dengan keadaan dan berharap keadilan. “ Aku ini hidup sendiri dan sekarang bersama lima anakku,tapi apa pun sudah tak bisa dilakukan.Ambaiku sekarang sudah habis mau membuatnya pun tak mudah karena bahan-bahanya harus dari Aceh dan harganya membuatnya pun lumayan,mana lagi uang,pak,” ucapnya saat itu.

Ratna Sitepu juga menyatakan hal yang sama bahwa tanggung jawab penuh berapad pada Pelindo,bukan pada setiap unit perusahaan. “ Ekonomi sudah susah,tapi kenapa Pelindo menutup mata akan persoalan ini.Jadi hanya satu jalan yang harus ditempuh harus dilakukan pemanggilan sehingga persoalan ini membuahkan hasil,” ucapnya. (red)

Loading...