5 Alasan Ini  jadi Dasar “Gerilia C6” Minta Batalkan Pilkada Siantar

M24.CO|SIANTAR

Menamakan diri Gerilia C6 yang dikoordinatori Hasanuddin Nasution melalui suratnya tertanggal 21 Nopember 2016, beranjak ke Jakarta untuk menuntut melalui Bawaslu Pusat untuk membatalkan hasil perolehan suara pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Pematangsiantar yang diselenggarakan tanggal 16 Nopember 2016 lalu.
Inilah lima alasan kenapa Gerilia C6 menuntut melalui Bawaslu Pusat di Jakarta untuk membatalkan Pilkada itu.
Pertama, menurut Gerilia C6 dalam relisnya, bahwa Formulir C6 setelah didistribusikan PPS secara kolektif ke KPPS, diboyong langsung oleh petugas KPPS ke rumah pribadi Hulman di Jalan Mual Nauli Kota Pematangsiantar.
Kedua, Formulir C6, setelah dikuasai KKPS diserahkan secara kolektif ke tim Hulman lain, untuk diboyong ke rumah Hulman.
Ketiga, Formulir C6, kata Gerilia C6 telah digandakan atau dipalsukan puluhan ribu untuk memenuhi target perolehan suara menurut kebutuhan.
Keempat, Formulir C6, (atau sebahagian kecil) dijemput langsung ke warga pemilih secara “door to door” .
Dan yang terakhir, kata Gerilia C6 dalam siaran persnya, telah terjadi aksi memoblisasi puluhan ribu pemilih eksodus atau pemilih siluman dari luar kota, antara lain Prop. Riau, Kab. Tobasa, Labuhan Batu Selatan dan Kabupaten Simulungun.
Selanjutnya diungkapkan, bahwa puluhan ribu formulir C6 yang “disandera” maupun yang digandakan itu kemudian, yang “digunakan” ribuan “pemilih siluman” yang dimobilisasi Hulman dari luar kota (diantaranya Kabupaten Labuhan Selatan), untuk mencoblos di sejumlah TPS- TPS yang diinventarisir “terbuka” untuk “diserang”.
Sedang sebahagian lagi pemilik C6 pada TPS- TPS yang “tertutup atau sulit dimasuki”, diserang dengan  politik uang antara Rp. 100.000 s/d Rp. 200.000.  Maka tidaklah heran, bila pada akhirnya, seluruh TPS- TPS secara mutlak dimenangkan oleh Paslon, Hulman Sitorus – Efriansyah.
Dijelaskan juga dalam siaran persnya, bahwa  warga pemilih Siantar dengan sangat vulgar dan terang – benderang, telah menyaksikan betapa paslon nomor 2, Hulman Sitorus- Efriansyah, tertanggal 15 – 16 Nopember 2016, mempertontonkan kepada publik tentang matinya demokrasi, matinya hukum, matinya institusi penyelenggara Pilkada dan matinya aparat penegak hukum. Sebab pada hari itu sesungguhnya Pilkada Siantar telah berakhir, dan pemenangnya adalah paslon No. 2, Hulman Sitorus- Efriansyah. 
Bahwa menurut ketentuan, tanggal 11 – 13 Nopember 2016, formulir C-6 (undangan memilih) seyogianya telah didistribusikan kepada masing- masing warga pemilih.  Namun hingga tanggal 15 Nopember 2016 bahkan hingga tanggal 16 Nopember 2016, puluhan ribu formulir C-6 tersebut, hilang dan tidak didistribusikan kepada yang berhak.   Lalu kemanakah formulir C-6 warga pemilih Siantar?
Dalam relisnya, Gerilia C6 menyebut, bahwa Hulman Sitorus, telah “merampas” puluhan ribu formulir C-6 warga pemilih Siantar di rumah pribadinya, Jalan Mual Nauli Kota Pematangsiantar. Tindakan perampasan puluhan ribu formulir C-6 itu, dilakukan dengan lima cara tadi. Mereka juga meminta pihak Bareskrim  untuk turun mengusut kasusnya, karena telah melibatkan banyak pihak.(maris/ril)
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.