Ribuan Warga ‘Sambangi’ KPU Siantar Tolak Hasil Pilkada

20161118_154826
M24.CO | SIANTAR
Diperkirakan sekitar seribuan warga Kota Pematangsiantar, Jumat (17/11/2016) sore mendatangi Kantor Pemilihan Umum Daerah (KPUD) kota itu. Massa itu meneriakkan yel-yel “Siantar Bersih” dan menolak  hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menurut mereka penuh kecurangan dan sangt kental money politik.
Hasanuddin Nasution selaku salah satu orator dalam unjukrasa  dengan tegas mengatakan, kehadiran mereka ke KPU tak lain untuk menolak hasil Pilkada dan meminta agar KPU menggelar Pilkada ulang.
 
Desakan ini teriak Hasanuddin dikuatkan adanya indikasi dan ditemukannya sejumlah bukti-bukti bahwa telah terjadi kecurangan dalam Pilkada tanggal 16 Nopember kemarin, ini katanya dilakukan secara terang-terangan oleh kubu  pasangan calon nomor urut 2, Hulman-Hefriansyah.
 
Kecurangan yang dilakukan itu, tukas Hasanuddin terjadi secara terencana dengan cara terkoordinasi, sistemik dan massif (TMS), karenanya hasil Pilkada itu harus dibatalkan kemudian dilakukan Pilkada ulang.

Tidak hanya itu, selama proses Pilkada hingga proses pemungutan suara, pasangan Hulman-Hefriansyah dituding telah melakukan konspirasi dengan penyelenggara Pilkada, mulai dari tingkat PPS, PPK hingga Panwas.

Perbuatan itu juga dilakukan secara terang-terangan, dimana sebelum Pilkada berlangsung ada sepasukan orang-orang yang digerakkan secara terkoordinasi untuk mengmpulkan Formulir C6 dari para pemilih. Padahal orang-orng yang mengumpulkan C6 itu bukan petugas atau penyelenggara Pilkada, kemudian C6 itu diantarkan ke kediaman Hulman Sitorus di Jalan Mual Nauli.

Perbuatna itu sudah dilaporkan secara resmi ke Panwaslih, tapi hingga pemungutan Suara berlangsung tak ada tindakan dari Panwaslih. Malahan ketika laporan itu disampaikan, saat itu hadir Bawaslu Sumut, Bawaslu Pusat dan petugas Gakumdu yang terdiri dari unsur kepolisian dan kejaksaan.

 
Tidak hanya itu, sudah ada Tim Sukses Hulman Sitorus yang tertangkap, tapi kemudian setelah sempat diproses oknum itu malah dilepaskan.
 
“Ada yang ditangkap terlibat C6, malah dilepaskan. Tapi ada yang menolak money politik dan  jadi korban, malah dijadikan tersangka,” teriaknya.
 
Selain membiarkan terjadinya sabotase Formulir C6, konfspirasi itu teriak mereka semakin terasa adanya sikap keperpihakan petugas dan penyelenggara kepada Hulman-Hefriansyah. Ini sangat dirasakan dari kesan telah terjadi pembiaran “sabotase” formulir C6 yang terang-terangan itu, padahal sudah jelas niat dari pengumpulan C6 itu adalah imbalan pemberian uang untuk memenangkan Hulman-Hefriansyah.

Dalam aksi itu, Zainul Arifin yang ikut berorasi mengajak serbiuan massa untuk tetang tertib dan terkendali, kemudian meminta agar Ketua KPU Siantar, Mangasi Tua Purba SH mengirimkan lembar tuntutan mereka melalui faksimile ke KPU Sumut dan KPU Pusat di Jakarta.

 
“Kami meminta agar KPU Siantar mengirimkan tuntutan kami melalui fakisimile ke KPU Sumut dan KPU RI di Jakarta. Karena kami tidak mau tuntutan kami untuk membatalkan Pilkada mentok hanya di sini saja, tapi harus dikirim ke KPU Sumut dan KPU RI,” tandasnya.
 
Tak lama permintaan Zainul Arifin Siregar ini dikabulkan Mangasi Tua Purba yang pada hari itu juga lembaran tuntutan pengunjukrasa dikirimkan ke KPU Sumut dan KPU RI. Setelah tununtan mereka dikirimkan, massa pengunjukrasa meninggalkan KPU.
“Kita masih akan lanjut sampai tuntutan ini gol. Karena ini jelas-jelas curang dan money politik,” tukas seorang pengunjukrasa.(maris)
Loading...
author