Tujuh Jam Jalan Kaki Demi Mencerdaskan Anak Bangsa

1M24.COl TAPSEL

Ternyata dunia pendidikan di Tapanuli Selatan (Tapsel) masih sangat jauh dari harapan dan ironisnya sangat  memprihatinkan.

Guru-guru SD Negeri 100113 Desa Siuhum II, Kecamatan Angkola Barat misal. Mereka harus berjuang dan  berjalan kaki sejauh 7 kilometer (km) untuk sampai di sekolah.

Sementara para siswanya rata-rata berjalan kaki 4 km setiap hari. Meski jalan yang terjal, jurang yang dalam, dan harus melewati hutan belantara, tidak mengurangi semangat para guru dan ratusan siswa untuk bisa sampai ke sekolah.

Para guru terlihat ikhlas mengemban pekerjaannya, meski maut mengintai dalam perjalanan ke sekolah. Begitu juga dengan para siswa, mereka tetap terlihat ceria.

Tidak jarang kondisi alam demikian membuat guru dan siswa tersebut sering terlambat. Sebab para guru yang mengajar di sekolah itu bertempat tinggal di Sitinjak, ibu kota Kecamatan Angkola Barat.

Sebagian lagi ada yang bertempat tinggal di Kota Padangsidimpuan. Kondisi sama juga dialami siswa. Banyak siswa berasal dari Dusun Aek Martolu, Badoar, Perluasan, dan Tangga Batu.

Khusus untuk Dusun Aek Martolu, harus berjalan kaki sepanjang 4 km. Terkadang, para guru sengaja menunggu mobil pikap pembawa salak untuk pulang ke rumah.

Tanpa rasa malu, mereka naik ke bak mobil. Keberadaan mobil pengangkut salak itu sangat disyukuri para guru karena mereka tidak berjalan kaki lagi, walaupun harus membayar Rp4.000 untuk sekali menumpang.

Sudah menjadi kebiasaan pula setiap guru harus membawa jas hujan dan payung untuk mengantisipasi cuaca buruk dan panas. Salah seorang guru, Santi Tambunan (47), mengaku harus pergi ke sekolah pada pukul 06.00 WIB karena tempat tinggalnya di Kota Padangsidimpuan.

“Paling lama saya harus keluar 06.30 WIB, karena saya harus naik angkutan dari Sidimpuan ke simpang (Desa Sitinjak),” ujarnya.

Sejak ditugaskan di sekolah itu, dia tidak pernah lagi sarapan pagi bersama keluarga. Sebab dia akan terlambat dan kehabisan angkutan untuk sampai ke simpang apabila sarapan pagi.

Dari tempat itu, dia harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah, meski dia juga kerap menaiki angkutan pengangkut salak. “Kalau ada mobil pengangkut salak, saya menumpang. Kalau tidak ada, terpaksa jalan kaki.

Tapi saya sering jalan kaki untuk ke sekolah,” ujarnya. Diceritakannya, pertama tugas ke sekolah itu, dia tidak bisa memakai sepatu untuk bekerja. Dia harus menggunakan sepatu kebun agar bisa berjalan di jalanan berbatu dan mendaki.

“Tapi kami sekarang sudah bersyukur karena jalan menuju sekolah itu tidak lagi berlumpur dan kami sudah bisa memakai sepatu biasa,” ujarnya.

Perempuan beranak satu ini tidak pernah berpikir untuk pindah ke sekolah lain. Pada prinsipnya, setiap pekerjaan yang diemban itu harus dijalani dengan hati ikhlas dan penuh tanggung jawab. Tanpa keikhlasan, semua pekerjaan akan terasa berat.

“Saya sudah mengabdikan diri saya kepada anak-anak di sini selama puluhan tahun,” ujarnya. Lain lagi pengakuan Malo’o Gulo, 10.

Siswa kelas IV itu mengaku harus berjalan kaki sepanjang 4 km setiap hari dari tempat tinggalnya di Dusun Aek Martolu. Tidak jarang dia sering terlambat sampai ke sekolah. Dia pergi ke sekolah pukul 06.00 WIB dan sampai ke sekolah pukul 10.00 WIB.

“Saya sering sampai ke sekolah ketika sudah istirahat pertama,” ujarnya. Menurut dia, untuk sampai ke sekolah harus melewati empat tanjakan curam dan jurang yang dalam.

Karena takut terlambat, dia bersama teman-temannya harus berlari ke sekolah. Namun, terkadang mereka harus pulang lagi ke rumah apabila hujan karena takut ada bahaya longsor.

Sementara Sondang Panuturi (6), siswa kelas 1 SD dari Desa Parluasan menuturkan, setiap hari harus berjalan selama tiga jam untuk sampai ke sekolah.(sabar)

Tags:
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.