Kasus Penipuan Bermodus Pura-Pura Gila, Surat Merah Mesti Diuji Ulang

6

MEDAN-M24 | Kandidat doktor bidang hukum, M. Erwin, S.H., M.H. angkat bicara terkait kasus penipuan yang dialami M Ali Nafiah, warga Huta Nagori Bandar, Kec Bandar, Kab Simalungun. Akademisi ini menegaskan, surat merah tanda sakit jiwa yang digunakan terlapor, Atiah, semestinya diuji ulang oleh penyidik.
“Selain itu, jika menilik kronologis peristiwanya, surat merah itu tak bisa dipakai oleh penyidik untuk membebaskan terlapor dari tuduhan penipuan dan atau penggelapan. Sebab, terlapor cakap saat membuat perjanjian untuk berbisnis ayam. Perjanjian seperti itu sudah dilakukannya berkali-kali, termasuk pada korban,” ujar Erwin saat dihubungi M24, kemarin.

Hal yang juga tak dapat diabaikan penyidik, lanjut dia, yakni perbuatan atau perjanjian bisnis ayam itu tak dilakukan oleh terlapor sendirian. Dia melakukan bersama-sama dengan istrinya. Itu dapat dibuktikan dengan penggunaan rekening sang istri untuk mentransfer dana pembelian ayam.
“Jadi, istrinya juga harus diperiksa,” tukas Erwin, sembari menjelaskan bahwa ketentuan Pasal 44 KUH Pidana, yakni seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika cacat kejiwaan atau terganggung karena penyakit, tidaklah tepat dipakai oleh penyidik untuk membebaskan terlapor.

Diketahui, M Ali Nafiah telah membuat laporan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sumut lantaran merasa pengaduannya di Polsek Lubuk Pakam tidak ditangani serius. Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja mengatakan pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan Polres Deliserdang untuk penanganan kasus tersebut.
“Kami akan mengecek ke Polsek yang menangani, khususnya penyidik yang dilaporkan berinisial A. Proses terhadap laporan masih berjalan,” tegasnya.

Tatan menegaskan, Polda Sumut sangat serius menuntaskan seluruh pengaduan terutama yang berkaitan dengan indikasi adanya penyalahgunaan wewenang oleh personel Polri. Hal ini menjadi komitmen untuk tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat. Khusus dalam kasus ini, pihaknya akan meminta agar Kapolres Deliserdang langsung turun tangan melakukan penyelidikan, termasuk melakukan gelar perkara sehingga kasus yang diadukan menjadi jelas.
“Kemudian lakukan klarifikasi berkaitan dengan para saksi yang sudah dimintai keterangan. Sejauh ini kami dapat info bahwa terlapor tidak ditahan karena gangguan kejiwaan,” ujarnya.

Pengaduan ke Propam Polda Sumut ini berawal dari kasus dugaan penipuan yang dialami M Ali Nafiah. Ia merasa ditipu oleh Atiah, rekan bisnisnya, yang meminta transfer uang sebesar Rp24 juta untuk pembelian ayam potong yang menjadi barang dagangan mereka. Setelah ditransfer ke rekening Yuli, tak lain merupakan istri Atiah, uang tersebut kemudian digelapkan.

Dalam perkara di kepolisian, Atiah justru tidak ditahan karena mengantongi surat keterangan gangguan jiwa yang dikeluarkan oleh Dr Dapot Parulian. M Ali Nafiah sendiri curiga dengan keluarnya surat tersebut karena menduga hal ini muncul berkat kolaborasi antara penyidik dengan Atiah. (donny)

Loading...