Kasus Penipuan Fadlun Djamalul, Saksi Ahli Sebut Bukti Harus Ada Saat Kejadian

7

MEDAN-M24 | Sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Fadlun Djamalul kembali bergulir di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (28/8).

Dalam sidang yang digelar di Ruang Cakra IV, beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli dari Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr Edy Warman. Menurut Guru Besar Fakultas Hukum USU ini, seseorang bisa dipidanakan apabila ada kerugian materil, orang yang dirugikan serta unsur kesengajaan.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan dari kuasa hukum terdakwa yang mempertanyakan apakah bukti yang dibuat setelah terjadinya dugaan penipuan, tidak bisa dijadikan bukti untuk menjerat seseorang dengan pasal pidana.

“Tidak bisa kalau bukti-bukti, baik itu berupa surat yang dibuat di depan notaris kalau tidak pada saat kejadian dijadikan bukti. Menurut hukum, bukti-bukti yang bisa menjerat seseorang dengan pidana, apabila ada saat kejadian,” katanya.

Selain itu, Edy Warman menjelaskan apabila suatu aset yang dipakai namun ada pengembalian, tidak bisa dikatakan sebagai perbuatan tercela.

Sedangkan, penasehat hukum terdakwa menyesalkan sikap Hakim Ketua, Richard Silalahi yang dianggap terlalu menyudutkan dalam persidangan ini.

“Kenapa hakim kok melontarkan pertanyaan seperti jaksa? Seharusnya hakim bersifat netral dan tidak menyudutkan,” kesalnya. (donny)

Loading...