KPK Kembali Periksa Mensos Idrus Marham

JAKARTA-M24 | Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham kembali mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (26/7) pagi. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam, ia datang sekitar pukul 10.00 WIB.
Dari jadwal pemeriksaan, Idrus diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo, pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Johannes diduga terlibat kasus suap terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau.
“Saya hadir, ya dalam rangka melanjutkan pemeriksaan apa-apa yang ditanyakan penyidik kepada saya. Karena pada saat itu, masih ada yang belum selesai,” kata Idrus sembari memasuki lobi gedung KPK.

Hal itu dibenarkan Juru Bicara KPK Febri Diansyah. “Terkait misalnya dengan kemarin pemeriksaan mengklarifikasi pertemuan-pertemuan dengan tersangka. Itu sudah kami tanya dan setelah kami pelajari, ada beberapa hal di dalam hal tersebut,” kata Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (25/7).

Disebutkannya, KPK juga akan mendalami lebih jauh berbagai pokok pembicaraan terkait proyek PLTU Riau-1 yang ada dalam setiap pertemuan, baik formal maupun informal. “Apakah dalam konteks pertemuan resmi kedinasan atau ada pertemuan lain yang membicarakan proyek Riau. Tentu perlu klarifikasi benar atau tidak seperti itu,” kata Febri.

Loading...

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih sebagai tersangka kasus suap terkait kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau. Politisi Partai Golkar itu ditangkap KPK saat sedang berada di kediaman Idrus Marham. Eni diduga menerima suap Rp500 juta yang merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek pembangunan PLTU Riau-1. Fee tersebut diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo, pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Diduga, suap diberikan agar proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1 berjalan mulus.

KALAHKAN KUBU SURYA PALOH & ALI UMRI
Publik lebih mengenal Idrus Marham sebagai politisi piawai. Padahal, ia juga seorang akademisi hebat, yang pernah menyandang predikat dosen terbaik di Universitas Islam Attahiriyah (UNIAT) Jakarta.

Selain pernah mengajar di UNIAT Jakarta, pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan ini juga pernah mengajar di Universitas Tarumanagara (UNTAR) dan Universitas 17 Agustus 45 Jakarta.

Sejak kecil, Idrus dikenal rajin belajar dan aktif di organisasi. Dia menempuh pendidikan dasar sampai sekolah lanjutan tingkat akhir di daerah kelahirannya, Sulawesi Selatan, salah satunya adalah PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Pare-Pare.

Saat menempuh pendidikan tingkat pertama Idrus Marham sudah mulai mengenal organisasi. Aktivitas organisasinya diawali dengan bergabung di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Setelah lulus SMA pada 1979, Idrus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di Makassar. Ia kuliah di Fakultas Syari’ah IAIN Alaudin Makassar.

Saat kuliah, Idrus Marham kian aktif di sejumlah kegiatan dan organisasi, seperti senat mahasiswa, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), serta Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII). Tahun 1983 Idrus melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, Semarang. Pada tahun 2009 ketika masih menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009, Idrus Marham menyelesaikan pendidikan S3-nya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Ia meraih gelar doktor ilmu politik dengan predikat cum laude setelah mempertahankan disertasi berjudul “Demokrasi Setengah Hati; Studi Kasus Elite Politik di DPR RI 1999-2004” melalui ujian terbuka promosi doktor yang diuji oleh Prof. Dr. Ichlasul Amal, Dr. Pratikno dan Prof. Dr. Bachtiar Effendi.

Karir politik nasional Idrus Marham dimulai saat ia terpilih sebagai anggota MPR RI pada Pemilu 1997 dan berlanjut hingga menjadi anggota DPR/MPR RI periode 2009-2014. Nama mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 2002-2005 serta Wakil Pemuda Dunia pada 2005 ini banyak menjadi sorotan media saat berkiprah dalam keanggotaan di Panitia Khusus (Pansus) Angket Century pada 2009-2010.

Karir politiknya semakin menanjak saat dipercaya oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) sebagai sekretaris jenderal (sekjen) partai berlambang pohon beringin tersebut. Ia mendampingi ARB sebagai sekjen sejak Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar Riau dan Munas Partai Golkar Bali.

Suami dari Ridho Ekasari ini merupakan suksesor utama ARB untuk pertama kali meraih predikat Ketua Umum Partai Golkar di Munas Riau tahun 2009. Idrus turun langsung ke Sumatera Utara (Sumut) untuk merebut suara dari DPD II Golkar. Hasilnya, ia sukses menumbangkan kubu Surya Paloh. Padahal, kubu Surya Paloh dimotori oleh Ali Umri yang ketika itu menjabat Ketua DPD I Golkar Sumut sekaligus Walikota Binjai.

Kekalahan di Munas Riau pulalah yang kemudian membuat Surya Paloh hengkang dari Partai Golkar dan mendirikan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Gebrakan politik itu juga diikuti oleh Ali Umri, yang selanjutnya didapuk menjadi Ketua Nasdem Sumut pertama. (gunawan/berbagai sumber)

Loading...