Peracik & Pemilik Home Industri Narkoba Nyengir Jalani Sidang

10

PN MEDAN-M24 | Ahmad Efendi bersama empat rekannya terlihat cengar-cengir saat menjalani sidang kasus narkoba di Pengadilan Negri (PN) Medan, Kamis (2/8). Pria yang ahli meracik narkoba ini terancam hukuman 20 tahun penjara atas kepemilikan 48 butir pil ekstasi.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim, Safril Batubara, Haris Pribadi bersama empat rekannya yakni Diana Nasution, Ahmad Efendi, Firmansyah dan Julfan Efendi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dwi Meli Nova sebagai saksi mengaku, terdakwa (Haris) benar pemilik home indutsri pembuatan pil ekstasi yang ditangkap BNN Sumut pada 2017 lalu dengan barang bukti 48 butir.

“Benar Pak hakim pemilik home industri pembuatan pil ekstasi dan barang bukti itu milik saya. Sedangkan empat rekan saya ini sebagai pekerja dan membantu saja,” ucapnya.

Menyikapi keterangan terdakwa, Ketua Majelis Hakim, Safril Batubara dan Hakim Anggota, Sri Wahyuni Batubara mempertanyakan prihal bahan-bahan maupun alat-alat pembuatan barang haram tersebut.

“Bahan baku membuat pil ekstasi itu dari obat-obatan, seperti bodrek dan jenis obat lainnya dicampur dengan bahan kimia.Sedangkan alat-alatnya, blender, palu dan cetakan terbuat dari jenis logam,” jawab sambil tertawa.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa dan JPU, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dalam agenda tuntutan.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Sumut, Dwi Meli Nova menyebutkan, kelima terdakwa diancam pidana dalam Pasal 114(2) Yo Pasal 132 Subs Pasal 112 ayat (2) Yo pasal 132 Undang undang RI No 35 Tahun 2009 tentang narkoba.

“Minimal hukumannya 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup,” katanya. (tiopan)

Haris Pribadi bersama 4 orang rekannya yakni Diana Nasution, Ahmad Efendi, Firmansyah dan Julfan Efendi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Meli Nova sebagai saksi terdakwa mengaku jika terdakwa (Haris) benar pemilik home indusri pembuatan pil ekstasi yang ditangkap BNN Sumut pada 2017 lalu dengan barang bukti 48 butir pil ekstasi dirumahnya.

“Benar Pak hakim pemilik home indusri pembuatan pil ekstasi dan barang bukti itu milik saya,sedangkan 4 rekan saya ini,sebagai pekerja dan membantu saja,” ucap Haris yang terkesan membela 4 terdakwa lainnya yang sama-sama ditangkap BNN Sumut di dalam rumah Haris.

Menyikapi keterangan terdakwa (Haris), Ketua Majelis Hakim Safril Batu Bara dan Hakim Anggota Sri Wahyuni Batu Bara langsung mempertanyakan prihal bahan-bahan maupun alat-alat pembuatan barang haram tersebut

Dengan gamblang sambil tertawa kecil Haris menjawab, “Bahan baku membuat pil ekstasi itu dari obat-obatan,seperti Bodrek dan jenis obat lainnya dicampur dengan bahan kimia.Sedangkan alat-alatnya blender, palu dan cetakan terbuat dari jenis logamPak Hakim,” jawab Haris

Setelah mendengarkan keterangan terdakwa (Haris) majelis hakim kembali menanya terdakwa,” berapa butir perhari pembuatan pil ekstasi dan kemana pasarkan,”tanya hakim

Tanpa ragu kembali Haris memjawab.”Kalau pembuatannya tidak setiap hari, sesuai pesanan pelanggan dalam 1 minggu 2 kali, bisa mencapai ratusan butir, paling sedikit 100 butir,” ucap Haris yang diamini 4 terdakwa lainnya.

Usai mendengarkan keterangan dari Haris dan 4 tersakwa lainnya dan JPU majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dalam agenda tuntutan.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Sumut Dwi Meli Nova menyebutkan kalau ke 5 terdakwa diancam pidana dalam Pasal 114(2) Yo Pasal 132 Subs Pasal 112 ayat (2) Yo pasal 132 Undang undang RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkoba,hukumannya minimal 20 tahun penjara.

“Minimal hukumannya 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup,”ucap Nova saat dikonfirmasi. (tiopan)

Loading...