Polda Sumut sosialisasi UU penghapusan KDRT

19

Ahmad-Net| Dalam rangka memperingati HUT ke-38 Yayasan Kemala Bhayangkari, Polda Sumatera Utara mengadakan sosialisasi undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Aula Tribrata Mapolda Sumut, Sabtu (7/4/2018).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Bhayangkari Daerah Sumatera Utara Ny Roma Megawanti Pasaribu Paulus Waterpauw, Irwasda Polda Sumut, Pejabat Utama Polda Sumut, Kapolres Deliserdang, Kapolres Binjai, Kapolres Belawan, Kapolres Langkat, Bhayangkari Daerah dan Cabang se-Sumut, serta perwakilan anggota Polri dan Polwan jajaran Polda Sumut.

Adapun rangkaian kegiatan yaitu di awali dengan pembacaan doa, sambutan Kapolda Sumut, penyampaian sosialisasi oleh narasumber dari Koordinator Badan Pekerja Komnas Perempuan Ibu Detti Arstanti serta sesi tanya jawab.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, guna mengantisipasi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, pemerintah RI telah mensahkan UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan tujuan mencegah segalah bentuk kekerasan dalam rumah tangga, melindungi korban dan menindak pelaku serta menjaga keutuhan rumah tangga yang harmonis.

“Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu guna mencegah terjadinya segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan,” paparnya.

Paulus menjelaskan, bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang kerap terjadi digolongkan dalam tiga kategori antara lain kekerasan fisik, kekerasan psikis dan penelantaran. Untuk menghindari terjadi kekerasan dalam rumah tangga, beberapa hal perlu dilakukan antara lain perlunya keimanan yang kuat, harus tercipta kerukunan dan kedamaian, adanya komunikasi yang baik, butuh rasa saling percaya, memahami tentang hukum dan undang-undang serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.

“Semoga sosialisasi ini dapat berdampak positif bagi seluruh yang hadir khususnya dalam mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga,” terangnya.
Sementara itu, narasumber Detti Arstanti menyampaikan
perbedaan laki-laki dan perempuan itu tegantung dari cara pandang masing-masing individu. Ruang lingkup kekerasan dapat terjadi baik dalam lingkup rumah tangga maupun lingkup publik seperti ruang kerja ataupun tempat umum.

Menurut Detti, semua orang mempunyai potensi terkenanya kekerasan, tetapi sebagian besar kasus kekerasan terjadi pada perempuan dan hampir 90% perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan.

“Kekerasan sendiri terbagi menjadi beberapa aspek antara lain aspek keluarga, aspek rekan kerja, aspek rumah tangga. Bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di ranah personal/privat hanya terjadi di Indonesia.
Penyebab rata-rata terjadinya kekerasan dalam rumah tangga karena perempuan dan laki-laki tidak setara serta adat istiadat masing-masing suku yang berbeda,” ujarnya.

Deeti menambahakan, Indonesia berada di urutan 109 kekerasan dalam rumah tangga terbanyak di dunia, sehingga harus berbenah untuk menjaga dan merawat para wanita di Indonesia ini.

“Wanita adalah kaum rentan yang harus dilindungi dan kita jaga bersama,” pungkasnya.

Loading...