Sirungguk…Manusia pohon penghibur jelang berbuka puasa

6

SIPIROK-M24 |Seratusan anak di Kelurahan Paraosrat, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mendadak berlarian, ketika melihat sejumlah Sirungguk (manusia pohon) mengejar mereka. Ya, Sirungguk merupakan tradisi hiburan rakyat menjelang berbuka puasa.

Menurut sejarahnya, Sirungguk diadopsi dari nama jenis rumput atau belukar yang biasa digunakan membalut orang atau gerbang (gaba-gaba) saat gelar adat dan pesta. Karena dibalut rumputan itu maka trasdisi tersebut dinamakan tradisi Sirungguk.

Bagi warga Tapsel, khususnya yang sedang menjalankan ibadah puasa, Sirungguk memiliki arti tersendiri. Tradisi Sirungguk dapat menghibur, tak cuma bagi kalangan anak dan remaja tapi juga seluruh warga. Kondisi tubuh yang lemah dari menahan haus dan lapar sedikit terlupakan.

Seperti sore itu, sejumlah remaja dari Parausorat berangkat menuju Batu Olang untuk mengambil rumput Sirungguk. Dengan kebersamaan, sesuai dengan ciri khas asli masyarakat Sipirok, sekitar 10 anak remaja tersebut bergotong-royong mengumpulan bahan membuat Sirungguk. Empat orang diantara mereka dibalut dengan menggunakan tali plastik sebagai pengikat agar rerumputan tidak mudah lepas dari tubuh. Sedangkan pelepah bambu dijadikan topeng yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan lucu dan menghibur.

Setelah dibalut, mereka pun bersama-sama berjalan menuju perkampungan. Spontan, warga yang melihat langsung berlari dan mendekat badut-badut Sirungguk itu.
Namun, kehadiran Sirungguk membuat sebagian anak kecil takut tapi tetap ingin menyaksikan langsung hiburan rakyat tersebut. Sobirin (31), salah seorang warga menyebut keberadaan Siringguk merupakan hiburan rakyat secara turun temurun.

Hingga kini masih dipertahankan sekalipun telah banyak jenis hiburan yang lebih modern masuk ke kampung mereka. “Dinamakan Sirungguk karena dibalut dengan rumput Sirungguk. Tujuannnya untuk menghibur warga yang berpuasa terutama menjelang berbuka,” tuturnya kepada M24.

Dijelaskan Sobirin, seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Sirungguk di Parausorat memang mulai mengalami perubahan. Sebab, badut tidak hanya dibalut dengan jenis rumput Sirungguk tetapi juga dengan ijuk. “Setiap puasa keberadaan Sirungguk akan menjadi hiburan bagi rakyat di sini,” ucapnya.

Sementara menurut tokoh masyarakat, Amran Pohan (49), tradisi Sirungguk akan tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat.Dia mengku, tradisi ini merupakan khas kampung mereka. Tradisi ini menjadi salah satu ikon budaya yang ada di kampung. “Hanya di kampung ini yang ada, kalau di kampung lain tidak ada. Makanya, kami buat juga tradisi ini sebagai penyambut tamu,” ujarnya. (zia)

Loading...