Tuak bukan miras tapi minuman khas Batak

802

Sabar-Sidimpuan | Aksi penutupan kafe dan warung penjaja tuak oleh Pemko Sidimpuan diprotes. Khususnya suku batak. Menurut mereka (suku batak,red) minuman tuak bukan minuman keras melainkan minuman khas suku batak. Berbagai sumber dihimpun M24.Co menyebutkan, sejarah tuak atau dikenal dengan sebutan suku batak sadapan.

Tuak diambil dari mayang enau atau aren (Arenga Pinnata Atau pohon kelapa). Dalam bahasa Indonesia, sadapan disebut nira. Dan rasa nira sangat manis. Ada 2 jenis tuak, diantaranya manis dan pahit.

Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh serta berproduksi di daerah tanah yang subur di ketinggian 500-800 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 meter dan lebih dari 800 meter, tanaman aren tetap tumbuh. Tetapi produksi buahnya kurang memuaskan begitu juga dengan pohon kelapa.

Pohon kelapa atau enau beserta aren dalam bahasa batak disebut “Bagot”kelapa atau Harambir. Bagot atau pohon kelapa yang tetap digunakan untuk menyadap tuak. Di Sidimpuan sendiri, Bagot tidak tumbuh. Makanya warga di sana mengambil sadapan dari pohon kelapa. Walaupun begitu, setelah tahapan proses, minuman itu tetap dinamai tuak dalam masyarakat batak.

Penyadap tuak disebut juga dengan paragat (Agat=mirip pisau yang dipakai sewaktu menyadap tuak), sering diucapkan dalam bahasa batak . Caranya cukup sulit, setelah dipukul tandan hingga berulang-ulang dengan kayu yang disebut balbal-balbal selama beberapa minggu, baru dipotong mayangnya.

Selanjutnya membungkus ujung tandan itu dengan obat (kapur sirih atau keladi yang ditumbuk), selama 2-3 hari. Setelah prosedur ini selesai, airnya akan datang dengan lancar.

Paragat selalu menyadap tuak 2 kali sehari, yakni pagi dan sore. Tuak yang ditampung pagi hari, selalu dikumpulkan di rumah paragat, selanjutnya rasanya di ujicoba. Kemudian paragat memasukkan tuak itu ke dalam bak tuak sejenis kulit kayu yang disebut raru, tujuannya supaya cocok rasanya. Raru itu yang mengakibatkan peragian.

Dari dulu hingga sekarang, anak seorang paragat mengikuti orang tuanya untuk belajar dan selalu turun ke jurang, kemudian menaiki pohon bagot atau kelapa. Banyak juga paragat membuka lapo tuak sendiri, tetapi umumnya sebagian besar paragat menjual tuaknya itu ke warung atau agen tuak.

Dengan cara itu, paragat mendapatkan uang untuk menafkahi keluarganya. Di wilayah tapsel , paluta, palas bahkan taput tuaknya dibawa dari kota padangsidimpuan , lantaran di daerah itu terdapat kebun kelapa khusus untuk mengambil tuak. Produksi tuak dari pohon kelapa tidak berbeda dengan tuak dari bagot.

Loading...