UNS Kembangkan Penimbang Kendaraan Berbasis Optik

147

supersemarM24.CO | Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, mengembangkan alat penimbang tonase kendaraan berbasis sensor fiber optik untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. “Dan sekarang juga tengah mencari investor untuk melakukan kerja sama memproduksi alat tersebut secara massal,” kata dosen Fakultas MIPA UNS Ahmad Marzuki di Solo, Kamis (6/10/2016).

Alat tersebut dikembangkan oleh Ahmad Marzuki dan Ary Setyawan, dosen Fakultas Teknik UNS. Ia menjelaskan alat itu selain meminimalkan pungutan liar yang sering terjadi di layanan jembatan timbang dan bisa secara pasti menyajikan penyebab kerusakan maupun memprediksi usia teknis jalan. “Ya kami sekarang sedang mencari investor yang mau bekerja sama untuk memproduksi massal dari hasi temuan kami yang diberi nama Weight In Motion (WIM),” kata Ahmad Marzuki.

Ia mengatakan alat tersebut mampu mengetahui bobot muatan serta bisa merekam plat nomor kendaraan yang diperiksa. Hasil riset mereka telah terpasang di beberapa ruas jalan di Sukoharjo dan dalam proses untuk diproduksi massal. “Alat ini cukup dipasang di jalan dan kendaraan yang melaju di atasnya dengan kecepatan tinggi sekalipun akan terdeteksi berat maupun tercatat plat nomornya. Selanjutnya, data akan tercatat di komputer yang terhubung dan tersampaikan ke server pusat sehingga akan sulit bagi petugas untuk main mata dengan pengemudi,” katanya.

Ary Setyawan mengatakan, alat berbasis kabel fiber optik tersebut ke depan tak hanya untuk mengukur tonase kendaraan, namun juga dikembangkan menjadi alat untuk mendeteksi kemacetan jalan. Dia mengemukakan, kontrol terhadap beban kendaraan sebenarnya telah lama dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan telah dibangunnya beberapa jembatan timbang. Ia mengatakan, masalahnya adalah jembatan timbang seperti yang dibangun pemerintah berharga mahal, membutuhkan lahan khusus sebagai stasiun timbang, menambah waktu perjalanan, dan rawan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Masalah harga dan kebutuhan lahan itu, katanya, menyebabkan pengadaan jembatan timbang mempunyai jumlah yang terbatas dan hanya untuk jalan-jalan besar, di mana lahan untuk penempatan jembatan timbang tersedia. Dia mengatakan data hasil penimbangan yang hanya dapat dilihat secara lokal di stasiun timbangan menjadikan tempat itu rawan terhadap praktik KKN.

“Karena tidak ada kontrol. Kelemahan jembatan timbang konvensional menjadi dorongan bagi peneliti untuk membuat alat penimbang kendaraan dengan biaya rendah yang tidak mengharuskan kendaraan yang ditimbang berbelok dan berhenti di stasiun penimbangan, sehingga menghemat waktu tempuh,” katanya.

Ary mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan jalan-jalan di Indonesia cepat rusak, namun kelebihan beban kendaraan dan kurang baiknya konstruksi jalan menjadi penyebab utama kerusakan jalan. Ia mengatakan ruas jalan nasional yang kekuatannya didesain hanya untuk dilewati kendaraan dengan bobot sekitar 10-12 ton, ternyata banyak dilewati oleh kendaraan dengan bobot 20-30 ton. Ia mengatakan jembatan timbang konvensional hanya berada di lokasi tertentu karena membutuhkan lahan. “Selain itu, dengan alat yang konvensional, hasilnya sering dimanipulasi sehingga keberadaannya kurang optimal,” katanya.(Red)

 

Loading...