1 keluarga ledakkan 3 gereja di Surabaya

31

Net-Surabaya | Sebanyak 13 orang meninggal dunia dan 39 terluka dalam aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) pagi. Mirisnya, pelaku merupakan satu keluarga.

Pelaku pengemboman di tiga gereja yang ada di Surabaya, Jawa Timur diduga kuat berasal dari satu keluarga. Mereka adalah Dita Sopriyanto (ayah) dan Puji Kuswati (ibu) serta empat anaknya yaitu YF, FH, FS dan P.

Kapolri, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, keenam pelaku diketahui baru pulang setelah bergabung dengan ISIS di Suriah. Di sana, mereka belajar strategi teror, kemiliteran dan membuat bom.

“Pelaku diduga satu keluarga yang kembali dari Suriah besama 500 orang lainnya,” ujar Tito Karnavian di Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Di Surabaya, lanjut Tito, pelaku melakukan aksi bom bunuh diri dengan cara berpencar ke tiga titik ledakan. Dita menyopiri Toyota Avanza berisi bom bersama istrinya, Puji dan 2 anaknya yaitu FS dan P. Dita menurunkan Puji, FS, dan P di GKI Jln Diponegoro, kemudian berlanjut membawa mobil itu ke Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jln Arjuna.

Di Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel Madya, ledakan bom terjadi pada pukul 07.30 WIB, di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro pukul 07.15 WIB, sedangkan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno .

D kemudian menyerang gereja GPPS Arjuna pukul 07:53 WIB. Di waktu berdekatan si istri dan dua anak perempuannya juga menyerang DGKI Diponegoro pukul 07:15 WIB. Masih dalam waktu yang juga berdekatan, terjadi serangan teror ke Gereja Santa Maria Tak Bercela Jln NGagel Madya pukul 07:30 WIB.

“Pelaku serangan di gereja terakhir ini adalah YF dan FH yang merupakan anak laki-laki dari D dan PK,” kata Tito.

Jumlah korban tewas dari ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, bertambah. Untuk sementara, jumlah korban yaitu 13 orang. “Update hari ini tambah satu yang meninggal dunia di Ngagel, jadi totalnya ada 13,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Timur, Frans Barung Mangera di Polda Jawa Timur.

Barung mengaku belum bisa menyampaikan informasi tentang identifikasi korban. Saat ini, menurut Barung, proses identifikasi masih dilakukan. Sementara untuk korban yang luka-luka, Barung mengatakan ada 39 orang.

Korban meninggal dunia terakhir diketahui bernama Nathanael (8) setelah dirawat intensif di ICU Rumah Sakit Bedah Surabaya. Nathanael menyusul abangnya Vincensius Evan (11) yang juga meninggal dunia setelah jadi korban bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Jln Ngagel.

Direktur RS Bedah Surabaya, dr Priyanto Suwasono mengatakan Nathanael meninggal karena kegagalan fungsi organ. Kondisinya juga luka parah. Bahkan kaki bocah 8 tahun itu harus diamputasi. “Meninggal pukul 20.12 WIB karena kegagalan fungsi organ,” ujar Priyanto.

Selain itu, banyak pembuluh darah Nathanael yang robek. Robeknya pembuluh darah siswa SD kelas 2 itu karena terkena serpihan logam. Kondisi itu membuat pendarahan dalam pada tubuh Nathanael. “Fungsi hati/liver nya turun,” pungkas Priyanto.

Selain Ethan, ada juga satu jemaat, Mayawati meninggal dunia setelah dirawat di RS Sutomo pukul 20.00 WIB.

Presiden Joko Widodo menyebut serangan teroris di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) pagi, sebagai tindakan yang biadab dan di luar batas kemanusiaan. Hal itu mengingat adanya pelibatan anak-anak berumur sekitar 10 tahun dalam aksi bom bunuh diri tersebut.

Presiden Jokowi mengatakan, terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. “Semua ajaran agama menolak ajaran terorisme apa pun alasannya,” ujar Jokowi.

Dirinya pun secara tegas memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas jaringan pelaku terorisme sampai ke akar-akarnya. Ia juga mengimbau masyarakat tetap tenang, menjaga persatuan dan waspada.

“Seluruh aparat negara tidak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini. Kita harus bersatu melawan terorisme,” tegas Presiden sembari mengatakan seluruh biaya pengobatan korban teror bom Surabaya ditanggung pemerintah.

Loading...