Balita tewas terminum lumpur

32

Jhon-Simalungun | Martha (46) hanya bisa menangis di samping tubuh kaku putra bungsunya, Galang Nuel Sianturi. Balita itu tewas setelah tercebur ke dalam comberan di belakang rumahnya. “Galang, Galang, bangun kau, kok kau tinggalkan mamak?” ratapnya.

Ratapan menyayat hati pecah di rumah Martha (46), Huta III Bandar Sawah, Nagori Bandar, Kec Bandar, Simalungun, Sabtu (31/3) sekitar pukul 18:15 WIB. Istri Pangapoan Sianturi (50) itu menyesali kepergian Galang Nuel Sianturi, putra bungsunya yang masih berumur 18 bulan, akibat kecebur di comberan belakang rumahnya.

Di rumah duka, Minggu (1/4), ratusan orang datang melayat menyaksikam acara pemberangkatan Galang ke peristirahatam terakhir. Bocah lelaki itu dikebumikan sekira pukul 15.00 WIB. Dalam suasana kabung, ratapan Martha sontak memicu tangis para pelayat.

“Ngeri kali kau Bang, cepat kali pergi. Galang, Galang, bangun kau! Kok kau tinggalkan mamak? Aapa salah mamak? Siapa lah kawan mamak main-main? Galang, Galang, dungo ma jo ho, bege jo omak (bangun dulu kau galang, dengar dulu mamak),” begitu ratap Martha, diiringi jerit tangis.

Sin Boru Pasaribu (42), salah seorang kerabat Martha, mengatakan keluarganya tak mendapat firasat buruk apapun sebelum kejadian yang menewaskan Galang. Terenggutnya nyawa Galang akibat kecelakaan yang sama sekali tak terduga itu menurutnya menimbulkan penyesalan tak berkesudahan bagi Martha.

“Dari semalam sampai di kuburan tadi, ibunya hanya menangis. Menyesal kali dia dengan kepergian putra bungsunya itu,” ujar Sin kepada M24 di rumah duka, usai pengebumian Galang.

Diketahui, korban merupakan bungsu dari empat bersaudara. Penghidupan keluarga korban tergolong sangat sederhana. Ayah dan ibunya dalam keseharian bekerja sebagai petani.

Di hari nahas itu, ayah dan ibunya pergi ke ladang. Seperti biasa, korban ditinggal bersama abang dan kakaknya di rumah. Namun, saat asyik bermain, kakak dan abangnya tak melihat ternyata Galang berjalan menuju comberan penampungan air limbah rumah tangga di belakang rumah mereka.

“Mereka bermain-main bersama mulanya. Si Galang pergi ke belakang rumah dan hendak bermain air di comberan itu. Tak taunya dia terbenam di comberan berlumpur itu,” ungkap Harija (48), tetangga korban.

Dijelaskannya, comberan berlumpur itu hanya berkedalaman 30 Cm. Lantaran korban masih balita, dia menduga tak mampu bangkit ketika kecebur dengan posisi telungkup.

Begitu menyadari adiknya tak terlihat, kakak korban yang berusia sekira 10 tahun langsung mencari ke sana-sini. Nah, setibanya di belakang rumah, dia mendapati sang adi menggelepar dalam lumpur.

Sang kakak langsung mengangkat tubuh adiknya, sembari menjerit meminta pertolongan dari warga. Wargapun bertindak dan melarikan korban ke rumah sakit terdekat. Nahas, diduga lantaran sudah terminum air berlumpur di comberan itu, korban menghembuskan nafat terakhir sebelum tiba di rumah sakit.

“Gitulah, nggaknya dalam kali comberan itu. Karena masih balita, mana tau dia berenang,” pungkas Harija.

Boru Sinaga, warga lainnya, menyebut kedua orang tua korban dikenal sangat baik bermasyarakat. “Tadi sore itu dikubur di pekuburan umum dekat sini. Karena masih anak-anak, harus cepat dikuburkan. Aku juga kaget, kok gak tau kakaknya si Galang main di sekitar buangan air itu. Tapi itulah, semua kehendak Tuhan,” ucapnya.

Dikonfirmasi Minggu (1/3) sekira pukul 16.30 WIB, Kapolsek Perdagangan AKP Daniel Tambunan menjelaskan bocah tersebut tercebur saat kedua orangtuanya tidak di rumah.

“Kami mengetahui ada korban anak kecil meninggal karena tenggelam tadi pagi (kemarin) sekira pukul 10.00 WIB dari warga. Begitu mendengar ada anak kecil meninggal, saya bersama anggota ke rumah duka untuk melihat korban. Atas kejadian tersebut, kami pihak kepolisian meminta kepada orang tua korban untuk membuat surat pernyataan agar korban tidak diotopsi,” jelas Kapolsek.

Loading...