Baru tiba dari NTB, Kompol Fahrizal tembak mati adik ipar

52

Irwan-Ahmad-Denny-Ansah-Medan | Gelap mata, Kompol Fahrizal mengarahkan senjata api (senpi) jenis Revlover dan melepas enam tembakan ke arah Jumingan alias Iwan. Adik iparnya itu langsung tewas di tempat dengan tubuh bersimbah darah.

Kompol Fahrizal diangkat menjadi Waka Polres Lombok Tengah pada Desember 2017. Ia mengganti Kompol H Lalu Salehuddin yang dimutasi sebagai Parik II Itwasda Polda NTB.

Suasana di Jln Tirtosari Gg Keluarga, Kel Medan Tembung mendadak mencekam. Setelah dikejutkan suara letusan senjata api (senpi), warga mendapati Jumingan alias Iwan (33) tewas bersimbah darah. Disebut-sebut, ia ditembak oleh Kompol Fahrizal (41), yang tak lain, abang iparnya.

Informasi dihimpun M24 di lokasi, terdapat dua versi terkait penembakan tersebut. Semua berawal ketika Fahrizal menjenguk ibunya, Kartini yang baru sembuh dari sakit, Rabu (4/4) malam. Rencana pulang kampung bersama istri itu pun sempat diposting Kompol Fahrizal di akun facebook miliknya disertai foto saat di bandara.

Perlu diketahui, sejak Desember 2017, mantan Kasatreskrim Polrestabes Medan ini diangkat menjadi Wakapolres Lombok Tengah. Ia menggantikan Kompol H Lau Salehuddin yang dimutasi sebagai Perwira Pemeriksa (Parik) II Inspektorat Pengawasan Umum Daerah (Itwasda) Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebelum tiba di rumah ibunya, Fahrizal serta istrinya sempat menyapa para tetangga. “Rumah ibunya (Fahrizal) kan berada di ujung sebelah kanan gang. Sempat dia sama istrinya menyalami tetangga-tetangga,” ucap Gloria (72), warga sekitar.

Gloria yang akrab disapa Ama (nenek, Tionghoa) ini menerangkan, selain Kartini, di rumah itu juga tinggal adik bungsu Fahrizal, Heny Wulandari alias Heny dan suaminya, Jumingan. Heny disebut bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi, sedangkan Jumingan membawa mobil. Heny memang diminta tinggal di rumah itu untuk menemani ibunya yang tinggal seorang diri setelah suaminya Nazir meninggal dunia.

Tak berapa lama, dirinya dikejutkan dengan suara letusan yang keras lebih dari sekali. Hal itu membuat warga di gang tersebut ketakutan dan masuk ke rumah masing-masing. Penasaran, Gloria keluar dan menuju rumah Kartini yang berkeramik coklat itu.

Setiba di halaman rumah tetangganya itu, Gloria melihat Fahrizal digandeng ibunya berjalan keluar gang, lalu pergi dengan mengendarai mobil putih.

“Saat itulah saya tahu bahwa pelaku bersama ibunya ke Polrestabes Medan untuk menyerahkan diri karena telah menembak adik iparnya. Sepertinya kambuh lagi depresinya (Fahrizal),” beber Ama.

Menurut Ama, saat menjabat Kasatreskrim di Polrestabes Medan, 2016 lalu, Fahrizal dimutasi ke Polda Sumut. Dua hari pascamutasi, ayah empat anak ini datang ke rumah ibunya itu dan bertingkah aneh. Adik dari Kapolsek Dolok Masihul, AKP Cahyandi ini pun dibawa berobat ke Jawa.

“Pelaku membakar-bakar surat-surat di rumah itu dibakar. Dibilangnya surat-surat itu banyak setannya. Malah pakaian yang dikenakan istrinya dibilangnya ada setan. Ya dan mau tidak mau istrinya mengganti pakaiannya. Cuma itu yang saya tahu,” kenang Ama.

Versi lain mengatakan, setiba di rumah ibunya itu, Fahrizal dan istrinya disambut oleh Heny. Mereka sempat bercengkrama bersama ibunya di ruang tamu. Sedangkan, Heny membuat air di dapur. Adiknya itu sempat melihat Fahrizal memijat kaki ibunya dan tiba-tiba menodongkan senjata ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.

“Tapi, korban (Jumingan) langsung melarang dengan berkata, “jangan Bang”. Namun Fahrizal menodongkan senjata api ke korban dan terdengar enam kali suara letusan,” ucap sumber yang meminta namanya tak dikorankan.

Melihat suaminya bersimbah darah, lanjutnya, Heny yang ketakutan langsung lari ke dalam kamar dan mengunci kamar. Fahrizal sempat menggedor pintu kamar. Tapi, ibunya menyuruh Heny untuk tetap di kamar.

Tak lama berselang, sejumlah petugas datang untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Heny tampak keluar dari warung dengan pengawalan petugas. Selanjutnya jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk keperluan penyelidikan.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan motif penembakan yang dilakukan Fahrizal hingga menewaskan adik iparnya tersebut.

“Ada beberapa versi yang saya dapat terkait insiden penembakan ini.
Jadi saya belum bisa menjelaskan modus dan motif pelaku secara detail karena masih dalam pengungkapan oleh penyidik kepolisian,” jelas Paulus saat paparan di Gedung Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sumut, Kamis (5/4).

Saat ini, lanjut Paulus, penyidik telah melakukan pemeriksaan kepada tersangka dan mengumpulkan sejumlah barang bukti. Seperti sempi Revlover milik tersangka, 3 proyektil dan 1 bahan proyektil serta Kartu Tanda Anggota (KTA) Polri.

Paulus memastikan Fahrizal memiliki izin dari kesatuannya di NTB untuk menjenguk ibunya. Hanya saja, ada kejanggalan terkait senpi yang dimiliki pelaku. “Seingat saya, jika polisi ingin pergi meninggalkan kesatuannya maka wajib menitipkan senjatanya di dinas. Anehnya, pelaku datang dan dengan niat baik-baik. Namun tiba-tiba bisa terjadi seperti itu,” bebernya.

Sejauh ini, pihaknya sudah memeriksa tiga saksi yaitu istri korban, pelaku dan ibu pelaku. Hasil pemeriksaan tes urin dan darah pelaku negatif narkoba. Selanjutnya pelaku direncanakan melakukan pemeriksaan psikologi.

Di hadapan awak media, pelaku yang merupakan jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) 2003 ini membuat pengakuan yang mengejutkan. “Tidak, saya tidak menyesal. Biasa aja,” ucap Fahrizal terkait penembakan yang dilakukannya.
Sontak pengakuan pelaku membuat Kapolda, Wakapolda terkejut. “Sudah dengar? Itulah pengakuan tersangka,” tukas Paulus.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam hukuman 20 tahun. Paulus juga menunggu keputusan inkrah dari pengadilan etik kepolisian untuk menentukan apakah pelaku akan diberhentikan dengan tidak hormat (PDTH).

Terpisah, hasil otopsi di RS Bhayakara Medan, di tubuh korban ditemukan enam bekas luka tembakan. Tiga di bagian kepala dan tiga di perut. Sekitar pukul 15:00 WIB, jenazah korban disholatkan di Masjid Ikhlasiyah Jln Tirtosari. Dengan mobil jenazah RS Bhayangkara diiringi tiga mobil pihak keluarga, jenazah korban dibawa ke kampung halamannya di Brumbun Atas, Desa Teladan, Kec Tinggiraja, Kab Asahan untuk dimakamkan.

Kedua orangtua korban, Jumari dan Sri Wulan, warga Simpang Pir, Kec BP Mandoge, Kab Asahan, mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut. Menurut pengetahuannya, korban dan pelaku tak pernah bermasalah. Bahkan korban sangat sayang dengan mertuanya, Kartini.

Pun begitu, dirinya coba mengikhlaskan kematian bungsu dari tiga bersaudara ini. “Mungkin ini sudah garis tangan yang di Atas, apalagi ini menyangkut keluarga istri anak saya. Hanya kkhlas dan bersabar, agar tenang arwah korban nantinya,” pungkasnya.

Diperlukan Konseling Berkala Kepada Petugas Bersenpi

Tekanan pekerjaan yang tinggi membuat tak sedikit anggota Polri mengalami stres dan depresi. Hal itu membuat mereka rentan untuk melakukan kekerasan.

Hal itu disampaikan Psikolog USU, Dra Irna Minauli MSi menanggapi peristiwa penembakan yang dilakukan Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Faisal hingga menewaskan adik iparnya, Jumingan di kediaman orangtuanya Jln Tirtosari Gg Keluarga, Kel Medan Tembung, Rabu (4/4) malam.

“Untuk itu, dibutuhkan konseling dan pantauan secara berkala khususnya bagi anggota polisi yang memegang senjata api (senpi),” jelas Irna kepada M24, Kamis (5/4).

Kepemilikan senjata api, lanjut Irna, dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Dimana merasa kebal dan memiliki kekuasaan. Setiap bentuk penentangan akan dianggap sebagai penghinaan terhadap harga dirinya.

“Seringkali mereka mungkin mengalihkan kekesalannya pada orang lain seperti anggota keluarga. Padahal mungkin sumber stres ada pada pekerjaan atau pada atasannya. Akan tetapi karena mereka tidak mampu melawan atasan maka kemarahan dialihkan pada keluarga,” pungkasnya.

 

Loading...