Bayi dan Pasutri Tewas Ditelan Banjir

Rosdiana histeris memeluk jenazah cucunya SN

seorang bayi dan pasangan suami-istri tewas ditelan banjir, menyusul hujan deras yang mengguyur Sumatera Utara dua hari berturut-turut.

SEI RAMPAH-M24 | Situs bmkg.go.id melansir, curah hujan bisa mencapai lebih dari 500 mm sepanjang Oktober 2018 ini. Dua hari terakhir, Selasa-Rabu dinihari, curah hujan telah mengakibatkan banjir di sejumlah daerah dan merenggut tiga nyawa sekaligus. Jasad salah satu di antaranya bahkan belum ditemukan.

Korban pertama adalah Salsabila Nadhifa. Bayi 18 bulan ini ditemukan mengapung pada Rabu (10/10) pagi. Bayi malang ini merupakan putri kedua dari pasangan Irwan Effendi (32) dan (alm) Lisnawati (30).

Loading...

Informasi dihimpun, sejak ibunya meninggal Salsabila tinggal bersama kakeknya, Sabri (56) dan neneknya Rosdiana (51) di Dusun III, Kampung Mandailing, Desa Sei Rampah. Hujan deras yang mengguyur membuat Sabri membawa keluarganya, berikut Salsabila mengungsi ke rumah keluarga di Desa Sei Rampah, Kec Sei Rampah, Kab Sergai.

Selasa (9/10) malam rumah Sabri sudah terendam air. Pun begitu rumah yang mereka datangi tak luput dari genangan air. Di ruang tengah, air sudah menggenang hingga 60 cm.

Keesokan paginya, Salsabila yang mengantuk dimasukkan ke ayunan di bagian belakang rumah oleh neneknya, Rosdiana. Setelah Salsabila tertidur, sang nenek pergi mencari becak untuk anaknya yang akan berangkat kerja.

Begitu Rosdiana pulang, ia langsung melihat ke ayunan. Namun ia terkejut karena tak melihat cucunya. Suasana pun heboh. Rodiana dan anggota keluarga mencari Salsabila ke jiran tetangga. Namun, tak melihat keberadaan cucunya itu.

Ketika menyusuri ruang tengah rumah, Sabri melihat tubuh cucunya mengambang dengan posisi telungkup. Langsung ia mengangkat tubuh cucunya itu.

Ditemani Kepala Desa Sei Rampah, Munajat dan Kepala Dusun III, Andi Rangkuti, sang kakek memboyong cucunya itu ke Puskesmas Pangkalan Budiman. Dari puskesmas, korban dirujuk ke RSUD Sultan Sulaiman. Naas, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan telah meninggal dunia.

Menurut Munajat, korban yang baru belajar berjalan diduga terbangun dan turun dari ayunan. Selanjutnya, dia merangkak ke ruang tamu yang digenangi air. Munajat pun berharap intansi terkait segera melakukan normalisasi Sungai Bedagai.

“Karena banjir disebabkan luapan Sungai Bedagai yang sudah puluhan tahun tidak dinormalisasi. Jikapun belum terealisasi, saat surut nanti warga akan melakukan normalisasi dengan swadaya,” ungkap Munajat.

Kapolsek Firdaus, AKP R Samosir melalui Kanitreskrim, Ipda Surya Abadi telah menangani kasus tewasnya korban. “Korban meninggal akibat tenggelam di rumah yang terendam banjir. Dia luput dari pengawasan, kasusnya telah ditangani,” tandasnya.

Korban lainnya adalah Daulat Siagian (60) dan Yusnita boru Sitorus (50). Pasangan suami istri (pasutri) ini membuka warung tuak di pinggir Sungai Bah Bolon, tepatnya di sebelah Titi Maut Huta I Nagori Sahkuda Bayu, Kec Gunung Malela, Kab Simalungun.

Informasi dari sepupu korban, Kokong (40), nahas bagi pasangan itu berawal dari hujan deras mengguyur Simalungun sejak Selasa (9/10) malam. Rabu (10/10) dinihari, sekitar pukul 03:00 WIB, Kokong mengaku dikabari warga bahwa Sungai Bah Bolon meluap.

Kokong bergegas ke rumah Yusnita. Setibanya di lokasi, Kokong membangunkan kakak sepupunya itu. Yusnita dan suaminya kemudian berupaya menyelamatkan kreta ke dataran lebih tinggi. Selanjutnya, pasutri itu kembali ke dalam rumah.

Ternyata, dalam sekejap air sudah menggenangi rumah mereka setinggi satu meter. Kokong melemparkan seutas tali untuk menolong pasutri tersebut. “Sempat kulemparkan tal, Bang, namun talinya kurang panjang. Aku lari ke kereta lalu kuhidupkan untuk mengambil tali lebih panjang ke rumahku. Baru berjalan beberapa meter, keretaku kehabisan minyak. Sewaktu kembali, samar-samar kulihat dari jauh kakakku bersama suaminya hanyut ditelan derasnya air sungai,” tutur Kokong dengan air mata berlinang.

Tak lama, Daulat Siagian ditemukan warga di sekitaran pohon sawit dalam kondisi telentang dan tak bernyawa. “Sudah dibawa jasad korban Daulat Siagian ke rumah orang tuanya di Bosar Maligas untuk disemayamkan. Kalau istrinya belum berhasil ditemukan,” ujar Mesdi (35), warga sekitar.

Tim Basarnas Simalungun yang ditemui di lokasi mengaku akan terus melakukan pencarian hingga tiga hari ke depan. “Masih tetap kita lakukan pencarian tiga hari ke dapannya. Kita bawa peralatan perahu karet untuk menyusuri aliran Sungai Bah Bolon,” ucap petugas bermarga Siregar.

Tampak juga di lokasi Pangulu Nagori Desa Syahkuda Bayu, Suyatno Wakil Bupati Simalungun, Amran Sinaga Kapolsek Bangun, AKP Putra Jani Purba. “Akibat luapan air Sungai Bah Bolon dua korban pasangan suami istri tewas terseret arus. Satu jenazah telah ditemukan atas nama Daulat Siagian. Seorang lagi masih dalam pencarian Tim Basarnas,” tukas Jani Purba. (darmawan/john)

Loading...