Ditemukan di Gubuk Reot, Betor Dicuri Kek Abdul Mati Kelaparan

Petugas saat mengidentifikasi jenazah korban

Percut-M24 | Warga Lahan Garapan Titi Runtuh, Jln Kamboja Ujung, Desa Sampali, Percut Sei Tuan digegerkan dengan ditemukan mayat seorang pria lansia dari dalam gubuk reot yang ditempatinya, Selasa (9/10) sore.

Korban diketahui bernama, Abdul Karim Nasution alias Kek Abdul (60), ditemukan oleh dua orang warga sudah terbujur kaku dengan posisi telentang tanpa busana di dalam gubuk bambu berukuran 4 meter persegi, tepatnya di sebelah Kafe Bambu di Lahan Garapan Titi Runtuh.

Kemudian dua orang warga setempat yang menemukan korban sudah tak bernyawa, lalu melapor ke Kepling dan diteruskan ke pihak kepolisian.

Loading...

“Yang pertama kali mengetahui ada dua orang warga yang datang ke rumahnya mau menemui korban dan berencana mau menyewa becak korban. Tapi korban sudah ditemukan tergeletak. Kemudian dua orang warga itu langsung memberitahukannya kepada warga lainnya dan menjumpai Kepling,” kata seorang petugas kepolisian di lokasi diamini warga sekitar.

Saat ditemukan, polisi tak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Sedang dari lokasi tubuh korban terbaring, hanya terlihat pakaian usang tergantung.

“Kematiannya masih dalam penyelidikan. Namun dugaan sementara korban sakit dan hidup sebatang kara,” ujar Kanit Reskrim Polsek Percut Seituan, Iptu MK Daulay saat ditemui di lokasi.

Sementara menurut beberapa warga, korban diduga baru beberapa jam tewas dan diduga karena kelaparan serta sakit tua yang dideritanya.

Hal itu terlihat dari kondisi tubuhnya yang kurus dan tempat tinggal yang sangat memprihatinkan. Di gubuk reoknya itu, korban sudah sekitar 1 tahun tinggal seorang diri. Selama tinggal di sana korban bekerja sebagai penarik betor. Tragisnya Betor korban dicuri orang hingga korban tak dapat lagi mencari nafkah.

“Tapi beberapa minggu belakangan ini korban sudah tidak narik becak lagi. Karena becaknya sudah dua kali hilang dicuri maling sampai korban melapor ke Polsek Percut tapi tidak ada hasilnya. Memang dia tinggal sendiri di gubuk itu, keluarganya kami gak ada yang tau di mana,” beber Sri (28) warga setempat.

Ditambahkan warga lagi, bahwa korban belakangan hari ini memang jarang kelihatan, hingga tak diketahui aktifitasnya.

“Sejak becaknya hilang itulah korban mulai jarang kelihatan. Tapi sekitar semingguan lalu, korban pernah menemui saya di kafe. Dia minta untuk bekerja sebagai penjaga parkir di kafe tempat saya kerja. Tapi saya bilang gak ada karena saya kasihan dia sudah tua. Dia sempat pesan minuman fanta dan mau bayar uang Rp10 ribu, tapi saya kembalikan uangnya,” tutur, wanita yang mengaku bernama Nani dan sebagai Kapten di Kafe Bringin ini di lokasi.

Bahkan beberapa warga disana banyak yang tak mengenal nama korban, namun warga mengenali wajahnya.

Hal itu diakui warga karena kurangnya peduli terhadap warga lainnya di kawasan lahan garapan yang banyak terdapat kafe remang-remang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan oleh Kepling setempat, yang tak mengenal korban, lantaran belum ada pemberitahuan pindah dan tinggal di kawasan itu.

“Gimana kita mau kenal, karena gak ada melapor. Seharusnya kan sekitar 2×24 jam harus lapor, ini udah setahun gak ada. Kalau begini kita yang dipanggil-panggil. Yah cemana lah, namanya juga tinggal di lahan garapan,” celetuk, Kepling setempat yang sering disapa Pak Lubis.

Guna menunggu adanya pihak keluarga korban, oleh polisi, jasad korban pun dibawa ke RS Bhayangkara Medan, setelah terlebih dahulu dilakukan identifikasi oleh tim Inafis Polrestabes Medan. (irwan)

Loading...