Fotografer Dorong Kreta Mogok, Dituduh Maling Lalu Dibunuh

Dituding mencuri kreta, Janu Ari dihajar lima warga hingga tewas. Sang istri pun histeris dan meminta para pelaku dihukum seumur hidup.

SIMALUNGUN-M24 | Janu Ari (43), warga Simpang Marbo, Kec Kota Baru, Kab Labuhanbatu Utara (Labura) tewas setelah dianiaya lima pria di Blok 11 Afdeling V PTPN IV Mayang Nagori Parbutaran, Kec Bosa Maligas, Kab Simalungun.

Hal itu terungkap dalam rekontruksi kasus pembunuhan yang digelar di komplek Asrama Polisi (Aspol) Polres Simalungun, Jln Sangnawaluh, Kel Siopat Suhu, Kec Siantar Timur, Jumat (27/7) sekitar pukul 10:00 WIB. Tampak Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Poltak YP Simbolon SIK mewakili Kapolres Simalungun, AKBP Marudut Liberty Panjaitan memimpin langsung pelaksanaan rekontruksi tersebut. Sebanyak 21 adegan pembunuhan dilakukan oleh tiga tersangka yang telah ditangkap. Mereka adalah Donal Sihotang alias Donal, Harun Panjaitan dan Wais Aqurniawan Sidabalok alias Wiwis.

Loading...

Pembunuhan itu sendiri berawal ketika saksi, Ida Royani Sihotang melihat korban tengah mendorong kreta Vario putih ke arah jurang sawit milik Afdeling V PTPN IV Kebun Mayang di Nagori Parbutaran, Kec Bosar Maligas. Ida lalu menghubungi tersangka Donal yang merupakan keponakannya. Selanjutnya ketika tersangka dan dua tersangka yang masih buro, RD dan US mengejar ke lokasi sembari membawa pelepah sawit.

Begitu bertemu, tersangka Doni bertanya kepada korban perihal kreta yang didorongnya. Namun korban diam, sembari terus mendorong kretanya yang mogok. Para tersangka pun yakin jika korban pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor).

Tanpa basa-basi, para tersangka memukuli korban dengan pelepah sawit yang sudah dipersiapkan. Akibat luka parah yang diderita, korban tewas seketika. Tersangka Wiwis bahkan menginjak korban yang sudah tewas. Jasad korban baru ditemukan, Selasa (29/5). (Baca: Apa Salah Suamiku?)

Meskipun menyesali perbuatannya, para tersangka saling tuding terkait yang pertama melakukan penganiayaan. Tersangka Donal juga membantah menganiaya korban menggunakan senjata tajam jenis parang. “Kalau masalah membacok pakai parang, saya tidak tahu apa-apa. Saat itu kondisinya tidak terkendali dan saya tidak melihat,” ucap tersangka Donal.

Demikian halnya dengan tersangka Wiwis. Ia mengaku hanya menginjak tubuh korban yang sudah tak bernyawa. “Mereka yang pertama menganiaya. Kalau aku cuma memijaknya sebanyak satu kali setelah korban sudah tergeletak. Saya menyesal, Pak,” katanya.

Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Poltak YP Simbolon SIK menjelaskan, rekontruksi dilaksanakan untuk mengetahui perkara penganiayaan tersebut dengan jelas. Termasuk cara dan peran masing-masing tersangka saat melakukan penganiayaan di lokasi kejadian.

“Ketiga tersangka diancam hukuman maksimal 20 tahun dan minimal 12 tahun penjara sesuai Pasal 338 KUHPidana dan Pasal 170 KUHPidana ayat 2. Sedangkan dua tersangka yang masih DPO (daftar pencarian orang) yakni RD dan US masih kami kejar,” ujar Poltak.

Poltak berharap, dari peristiwa tersebut, kedepannya masyarakat tidak main hakim sendiri. “Jika menemukan orang tak dikenal, laporkan ke perangkat desa, kepada Bahbinkamtibnas dari Polri atau kepada Bahbinsa dari rekan kita TNI di kelurahan masing-masing. Ada aturan hukum, tidak dibenarkan main hakim sendiri,” pesan perwira tiga balok emas ini.

Sementara itu, selama pelaksanaan rekontruksi, Yani Rita Wati (30) beberapa kali menjerit histeris. Bersama ketiga anaknya, Rita tak hentinya menangis menyaksikan cara pelaku menganiaya suaminya.

“Apa salah suami saya, Pak? Sampai hati mereka melakukan itu kepada suami saya. Mudah mudahan mereka mendapat hukuman yang sepantasnya. Jika memungkinkan dihukum seumur hidup,” jarit wanita berhijab pink tersebut.

Kepada metro 24, Rita menyebut perbuatan para tersangka tidak manusiawi. Selain menghilangkan nyawa suaminya, masa depan ketiga anaknya juga terancam suram. Menurut Rita, selama ini korban memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan ketiga anaknya dengan bekerja sebagai fotografer.

Ia pun kerap membantu suaminya menyetak foto-foto hingga larut malam agar dapat diserahkan kepada si pemesan. “Selama ini suami saya itu fotografer lumaya dikenal. Kami dua bekerja hingga lembur mencetak foto. Tapi semuanya itu tinggal kenangan. Kini, saya menjadi tulang punggung menafkahi ketiga anak kami,” tutur Rita.

Dirinya mengaku, dua hari sebelum rekontruksi, ia dihubungi keluarga salah satu tersangka untuk bertamai. Tapi ia menolak. Kini dirinya hanya bisa berharap keadilan untuk almarhum suaminya. Sembari kekuatan untuk dapat menghidupi ketiga anaknya. (adi)

Loading...