Janda Hamil Dibunuh Pacar Gelap

TANJUNGPINANG-M24 | Pembunuhan terhadap Supartini (38), warga Bukit Cermin Tanjungpinang, Kepulau Riau (Kepri) terungkap. Polisi menetapkan Nasrun (58) sebagai tersangka tunggal dalam kasus ini. Nasrun tega menghabisi nyawa Supartini karena kesal dituntut tanggungjawab atas kehamilan korban.

Jasad wanita yang berstatus janda satu anak ini ditemukan terapung di bawah jembatan di sekiar perairan Dompak, Tanjungpinang beberapa hari lalu.
Tidak hanya itu, dari hasil penyidikan, polisi juga berhasil mengungkap motif tersangka yang tega menghabisi nyawa korban. Pembunuhan dilatarbelakangi masalah asmara.
“Motifnya, korban meminta pertanggungjawaban tersangka atas janin yang dikandungnya pada tersangka,” kata Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi, kemarin (20/7).
Ucok mengatakan, korban dihabisi Nasrun, yang diduga kekasih gelapnya di sebuah kebun di Jln Ganet, Kel Kijang Kencana, tepatnya arah lokasi pembuangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ucok mengatakan, antara korban dan tersangka diketahui tengah menjalin hubungan asmara sejak beberapa tahun lalu. Perkenalan keduanya terjadi saat mereka menjadi rekan kerja di PT Sinar Bodhi Cipta, sebuah perusahaan properti di Tanjungpinang.
Nasrun merupakan manajer perusahaan tersebut, sedangkan korban pernah menjadi bawahannya. Dikisahkan, pembunuhan bermula pada Jumat (13/7) malam lalu, saat Nasrun menjemput korban di sekitar Jln Bakaran Batu menggunakan mobil Toyota Rush yang dikendarai tersangka.

Loading...

Kemudian, keduanya menuju kebun di Jln Ganet. Kebun tersebut milik mertua Nasrun. Dalam perjalanan, keduanya sudah mulai bertengkar masalah kehamilan korban. Tiba di kebun, keduanya kembali bertengkar. Supartini terus menuntut pertanggungjawaban Nasrun.

Kesal karena terus menerus didesak, Nasrun emosi hingga akhirnya memukul korban dengan sebuah kayu ke bagian kepala dan wajah korban beberapa kali.
“Korban dipukul sebanyak 6 kali dengan kayu. Tiga mengenai kepala bagian belakang, dan di wajah tiga kali,” beber AKBP Ucok Lasdin.

Akibat penganiayaan tersebut, korban akhirnya meninggal. Lalu, mayatnya diikat dan dimasukkan tersangka ke dalam sebuah karung. Tersangka juga memasukkan batu yang didapat di sekitar kebun bersama mayat dalam karung. Batu tersebut digunakan sebagai pemberat.

Setelah itu, jenazah korban kemudian dibawa menggunakan mobil tersangka menuju jembatan Dompak Tanjungpinang. Mayat korban dilemparkan dari atas jembatan. “Aksi penganiayaan terjadi, sekitar pukul 20:00 WIB,” terang Ucok.

Atas perbuatannya, lanjut Kapolres, tersangka akan dijerat dengan pasal 338 jo pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal hukuman mati. Sementara itu, Nasrun, saat diinterogasi, mengaku sangat menyesali perbuatannya. Atas perbuatannya tersebut, tersangka menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan keluarganya. “Saya memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada korban dan keluarganya,” bilang Nasrun kepada sejumlah awak media di kantor Satreskrim Polres Tanjungpinang.

Tersangka menyatakan sudah mengenal cukup lama dengan korban. Korban telah dianggapnya sebagai saudara. Sedangkan hubungan cukup intim dengan korban baru terjadi beberapa bulan belakangan ini.
“Kalau hubungan sebagai saudaraan sudah lama. Tapi kalau intim, baru beberapa bulan terakhir ini,” ujar Nasrun.

Nasrun membantah jika ia nekat menghabisi nyawa korban karena dirinya dimintai pertanggungjawaban oleh korban atas janin yang dikandungnya.
“Tidak, justru dia (korban) pengen mengeluarkan itu (janin), karena takut aib sama keluarganya. Malah dia (korban) minta saya membunuhnya,” dalih Nasrun.

Masih menurut Nasrun, korban mengaku sudah berusaha menggugurkan kandungannya, akan tetapi niat tersebut tak terpenuhi. Nasrun bilang, sebenarnya ia ingin bertanggungjawab atas janin tersebut, akan tetapi korban merasa tidak sanggup lagi menanggung beban yang dihadapi hingga meminta dibunuh olehnya.
“Mau (bertanggungjawab). Tapi dia yang minta, bunuh saja saya karena tidak sanggup lagi mengeluarkan (gugurkan janin). Alasannya, ia (korban) tidak sanggup lagi menanggung aib kalau jadi,” kata Nasrun.

Walau ingin bertanggungjawab atas janin di rahim korban, Nasrun tidak menyakini jika janin tersebut hasil hubungan intim dirinya dengan korban. “Saya tidak percaya, itu anak (janin di rahim korban) saya,” kata Nasrun.
Keraguan atas janin tersebut disampaikan Nasrun karena ia menilai jika korban semasa hidupnya memiliki beberapa teman pria. “Ia (Supartini) banyak cowoknya. Jadi, saya tidak yakin itu anak saya,” ujar Nasrun lagi.

Selain itu, Nasrun juga mengaku sempat melayat ke rumah korban ketika jenazah korban disemayamkan di rumah duka untuk menyampaikan rasa bela sungkawa.
Nasrun juga membantah jika berusaha melarikan diri sebelum dirinya ditangkap polisi di rumah temannya di sekitar jalan KM 16 arah Tanjunguban, Bintan. “Saya mau cuti ke Makassar. Karena orangtua saya sakit. Saya ajukan cuti ke kantor seminggu sebelumnya,” pungkas Nasrun.

Loading...