Mabuk Bareng Cewek Kafe, Tewas Dengan Kedua Kaki Putus

48

Adi Suyono Sipayung masih sempat duduk dan melhat kedua kakinya putus. Ia pun tewas karena kehabisan darah sebelum sempat mendapat pertolongan.

BELAWAN-M24 | Seorang nelayan tewas setelah kedua kakinya putus digilas kereta api di lintasan Jln Sumatera, Kel Belawan II, Kec Medan Belawan, Kota Medan.
Informasi dihimpun metro24 di lokasi, Jumat (10/8), nelayan berumur 50 tahun itu bernama Adi Suyono Sipayung. Berasal dari Kota Brandan, Kab Langkat, dia hidup seorang diri di Belawan.

Adi Suyono tak memiliki tempat tinggal menetap di kota pelabuhan itu. Baginya, seluruh gudang yang ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Gabion dapat dijadikan tempat untuk tidur, sekadar agar tidak diterpa hujan.

Peristiwa yang mengakibatkan Suyono kehilangan nyawa terjadi Kamis (9/8) malam, sekira pukul 22.30 WIB. Sesaat sebelum digilas ‘si ular besi’, duda yang akrab disapa Wak Brandan ini terlihat berduaan dengan Rosita.

Sama seperti Wak Brandan, Rosita juga tak tercatat sebagai warga Belawan. Dia berasal dari Pasar 3, Desa Tembung, Kec. Percut Sei Tuan, Deliserdang. Sehari-harinya, perempuan bertubuh tambun ini mencari nafkah dengan menjadi pelayan di Kafe Robin, salah satu dari lima kafe remang-remang di tepi rel lintasan Jln Sumatera, Belawan.

Paino, warga sekitar, memastikan saat itu Wak Brandan berjalan terhuyung-huyung akibat menenggak minuman keras di Kafe Robin. Memang, ungkap dia, Wak Brandan kerap menghabiskan waktu dengan menenggak tuak dan beragam minuman keras, bila sedang tidak melaut.
“Jalannya sempoyongan. Kayaknya sudah mabuk berat. Tapi, dia masih juga mau bergeser dari Kafe Robin ke kafe lain,” tambah Paino.

Dari Kafe Robin, Wak Brandan memboyong serta Rosita. Warga melihat keduanya berjalan berdampingan. Wak Brandan memilih berjalan di atas rel. Sementara Rosita di sisi luar.

Baru beberapa langkah Wak Brandan dan Rosita meninggalkan Kafe Robin yang berdekatan dengan Sekretariat Pengurus Anak Cabang Pemuda Pancasila (PAC PP) Medan Belawan itu, kereta api dengan sederet gerbong tangki pengangkut crude palm oil (CPO/minyak sawit mentah) bergerak dari Pelabuhan Ujung Baru, Belawan, menuju inti Kota Medan.

Diyakini lantaran sudah mabuk berat, Wak Brandan terlihat tak menghiraukan laju kereta api itu. Padahal, dia dan kereta api itu berhadap-hadapan.
“Kafe yang mau mereka tuju itu mengarah ke Pelabuhan Ujung Baru. Jadi, berhadap-hadapan posisinya. Karena mabuk berat, dia mungkin gak tau lagi ada kereta api lewat. Atau, dia tak lagi kuat untuk menjauh,” tambah warga lainnya, yang juga melihat kejadian itu.

Lantaran kondisi di sepanjang jalur kereta api itu sedikit temaram, memang tak ada satupun warga yang mengaku melihat persis bagaimana tubuh Wak Brandan dihajar kereta api itu. Yang pasti, kedua kakinya putus tergilas hingga sebatas tulang kering. Sedangkan Rosita terlempar dan hanya mengalami luka di kepala lantaran terbentur bebatuan tepi rel.

Detik-detik terakhir sebelum mengembuskan nafas terakhir, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Wak Brandan. Nelayan separuh abad ini hanya mencoba menegakkan badannya di atas bebatuan tepi rel dengan bertopangkan kedua tangan.

Usai memperhatikan kondisi kedua kakinya, Wak Brandan pun ambruk di atas genangan darah yang terus saja mengalir dari kedua kakinya. Warga yang berkerumun tak berani menyentuk Wak Brandan. Terlebih, mereka meyakini setelah ambruk Wak Brandan sudah tak lagi bernyawa.
Mengetahui ada kecelakaan di jalur kereta api, petugas Lantas Polres Pelabuhan Belawan langsung menuju lokasi. Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas mengevakuasi jenazah Wak Brandan ke Rumah Sakit TNI AL Belawan. Setiba di rumah sakit, pihak medis memastikan Wak Brandan memang sudah tak bernyawa.

Kasat Lantas Polres Pelabuhan Belawan, AKP MH Sitorus SH ketika dihubungi mengatakan jenazah Wak Brandan sudah diserahkan ke pihak keluarga. “Salah seorang pejalan kaki tewas setelah ditabrak kereta api. Sedangkan satu lagi harus dirawat di rumah sakit akibat luka di kepala. Jenazah korban tewas sudah kita serahkan ke pihak keluarga,” kata AKP MH Sitorus.

Ditemui dalam proses perawatan di Rumah Sakit TNI AL, Belawan, Jumat (10/8), Rosita tidak bersedia buka mulut. Rosita hanya memilih menjawab dengan gelengan kepala saat ditanya apakah dirinya dan Wak Brandan sempat bertengkar. (mag-1)

Loading...