Masalah batas ladang Sitepu saling bunuh

65

KARO-M24 | Tatap mata membuat duo Sitepu saling bantai. Dalangit Sitepu (36) tewas di tempat dengan kondisi mengenaskan. Sementara Amonius Sitepu (40) sekarat karena tikaman di dada kiri.

Jerit histeris keluarga pecah menyambut kedatangan jenazah Dalangit Sitepu (36) di rumah duka Desa Ujungpayung, Kec Simpang Empat, Kab Karo, Kamis (24/5). Ia tewas setelah terlibat perkelahian dengan saudara semarta, Amonius Sitepu (40).

Menurut P Ginting (55), Dalangit Sitepu dikenal sebagai sosok pendiam. Meski hidup di pasaran, keponakannya itu tak pernah terlibat masalah. Setiap hari Dalangit hanya bekerja di ladangnya yang terletak di perladangan panggung, Desa Beganding, Kec Simpang Empat, Kab Karo.

“Dia (Dalangit,red) pagi-pagi sudah bangun. Langsung ke kede kopi. Siap minum ke kede kopi langsung ke ladang. Begitu dia setiap hari,” ucap P Ginting kepada M24.

Ternyata itu kali terakhir ia melihat keponakannya. Pasalnya, tak lama berselang, ia mendapat kabar dari pihak kepolisian, jika Dalangit sudah tewas setelah terlibat perkelahian dengan Amonius Sitepu, yang tinggal di perladangan panggung tersebut.

Dirinya berharap, pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus pembunuhan yang menewaskan anggota keluarganya itu. “Ini harus dikawal terus sampai selesai. Biar jangan lari,” pinta P Ginting.

Rencananya, jenazah Dalangit dikuburkan secara Islam, Jumat (25/5) di pemakaman keluarga, setelah zuhur. Kapolsek Simpang Empat, AKP Nazrides Syarif SH didampingi Kanit Reskrim, Ipda Solo Bangun yang ditemui M24 membenarkan hal itu. Pihaknya yang mendapat informasi langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Hasil keterangan sejumlah saksi, peristiwa itu berawal saat Dalangit Sitepu berjalan menuju ladang miliknya yang bersebelahan dengan ladang milik Amonius Sitepu. Saat itu, tatapan keduanya bertemu. Entah siapa yang memulai, keduanya pun terlibat perkelahian.

Keduanya bahkan menyabut senjata tajam (sajam) yang biasa mereka gunakan untuk berladang. Duo Sitepu ini pun saling serang secara membabi buta. Akhirnya, Dalangit Sitepu ambruk ke tanah dengan tubuh bersimbah darah. Tak lama berselang, Amonius Sitepu juga ambruk.

Warga yang mengetahui peristiwa itu langsung mendatangi lokasi untuk melerai sembari menghubungi pihak kepolisian. Namun, saat ditemukan, Dalangit Sitepu sudah meninggal dunia. Sejumlah luka sayat terlihat di tubuhnya. Daun telinga kirinya sampai terbelah, begitu juga lengan kiri nyaris putus, hanya terikat oleh kulit. Luka di pertengahan lengan bawah dan jari ketiga, keempatnya sampai ke tulang.

Sementara Amonius Sitepu mengalami luka tusuk pada bagian dada kiri, luka sayat pada lengan, jari-jari kiri, kening kiri dan pergelangan tangan kiri. Selanjutnya oleh petugas, keduanya dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe untuk keperluan penyidikan dan perawatan intensif.

“Diduga kuat, perkelahian disebabkan batas ladang keduanya yang memang bersebelahan,” jelas Nazrides Syarif. Masalah perbatasan ladang ini, lanjut Nazrides, sudah berlangsung dari orangtua keduanya. Yaitu Aman Sitepu (orangtua Dalangit Sitepu) dan Paten Sitepu (orangtua Anomius Sitepu). “Barang bukti yang telah kita amankan parang pnjang dan pisau. Kita juga telah meminta keterangan isteri dari Amonius Sitepu,” tukas Nazrides.

Sementara itu, Kepala Desa Beganding, Pelawi Sembiring tak mengetahui pasti penyebab perkelahian yang menewaskan Dalangit Sitepu ini. “Amonius Sitepu itu punya tiga anak dan orangnya pendiam. Apalagi mereka bisa dibilang masih berfamili. Saya pun terkejut mendengarnya,” tutur Pelawi Sembiring. (herlin/sekilap)

Loading...