Miris memang, Ibu dan Anaknya tewas saat mencari parnap…Ini penyebabnya………..

37

MARELAN-M24 | Dinarki alias Pina boru Sinaga (14) dan ibunya, Lerinda boru Marbun (45) tewas mengenaskan. Kepala robek, kaki patah setelah becak motor (betor) yang dikendarai dihantam angkutan kota (angkot) Mars 130.

Dinarki alias Pina boru Sinaga (14) dan ibunya, Lerinda boru Marbun (45) tewas di tempat setelah ditabrak angkot Mars 130 di Jln Titi Pahlawan, Kel Payapasir, Kec Medan Marelan, Selasa (12/6/2018).

Informasi dihimpun, sekitar pukul 05:30 WIB, Dinarki membawa becak bermotor (betor) dengan membonceng ibunya, Lerinda boru Marbun. Kedua warga Jln Pulau Bangka, Kec Medan Labuhan ini hendak mengumpulkan parnap (makanan sisa untuk ternak babi).

Ya, sejak ditinggal wafat suaminya, Alm. R Sinaga karena sakit, 10 tahun lalu, Lerinda boru Marbun otomatis menjadi orangtua tunggal. Ia pun menghidupi kedua anaknya, Yanti (17) dan Dinarki dengan mengandalkan hewan ternak kaki empat (babi) peliharaan mereka.

Namun, penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Akhirnya Yanti memilih putus sekolah dan membantu ibunya mengumpulkan parnap. Dengan demikian sang adik, Dinarki dapat menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Karena libur sekolah, pagi itu Dinarki berinisiatif menemani ibunya keliling mencari parnap dengan mengendarai betor rewot tanpa nomor polisi itu. Ia jadi joki dan ibunya duduk di boncengan. Dari kediamannya, mereka menuju ke Pasar V Terjun, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Setiba di Jln Titi Pahlawan, Kel Payapasir, Kec Medan Marelan, Dinarti membelokkan betor untuk menyebrang ke kanan. Waktu bersamaan dari arah belakang meluncur angkot Mars 130 yang disopiri Wilprid Bona Tua Silaban (43), warga Jln Penampungan Gg Mufakat No.84, Desa Helvetia Timur, Kec Helvetia.

Subuh itu, hari yang masih gelap dan betor yang dikendarai Dinarki dan ibunya tak berlampu. Wilprid pun terkejut dan gagal menghentikan angkotnya. Brak!!! Dinarki dan ibunya terlempar dan terhempas ke badan jalan setelah betornya dihantam angkot bermuatan dua penumpang itu.

Suara benturan keras sontak menarik perhatian warga yang mendatangi lokasi kejadian. Peristiwa itu pun langsung dilaporkan ke pihak kepolisian. Tak lama berselang, personel dari Satlantas Polsek Medan Labuhan tiba untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Ternyata, kedua korban sudah tak bernyawa. Dinarki yang jatuh dalam posisi telentang mengalami luka parah di bagian kepala. Sementara ibunya, Lerinda jatuh dalam posisi telungkup dan mengalami patah kaki.

Selanjutnya kedua jasad korban dievakuasi petugas ke Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan. Sopir angkot diamankan di Makolantas Titipapan sedangkan kedua kendaraan di gudang kargo Kayuputih, Tanjungmulia.

“Dari keterangan yang kita terima, sopir tidak nampak becak korban mau menyebrang, karena tidak ada lampunya. Korban sudah kita visum untuk segera kita tindaklanjuti,” jelas Kanit Lantas Polsek Medan Labuhan, Iptu AW Nasution kepada M24. Selanjutnya jenazah kedua korban dibawa keluarga untuk disemayamkan di rumah duka.

Pendiam dan Baik Bertetangga

Isak tangis keluarga dan tetangga menyambut kedatang jenazah Dinarki dan Lerinda di rumah duka. Tampak puluhan pelayat memadati rumah berdinding tepas tersebut.

“Ibu itu orang baik dan pendiam. Kami salut dengan ibu ini, dia (Lerinda) setiap subuh pasti keluar cari nasi babi. Tapi, sekarang dia tidak ada lagi, kami sangat sedih,” ucap S Saragih (56), tetangga korban sembari berlinang air mata.

Meski berstatus janda dan jadi tulang punggung, lanjutnya, Lerinda tak pernah mengeluh. Korban juga disebut rajin beribadah. Karena itu, Saragih berharap putri sulung korban, Yanti mengikuti jejak sang ibu.

Pasalnya, sejak kedatangan jasad ibu dan adiknya, Yanti tak henti menangis. “Ibu ini rajin beribadah, mudah-mudahan anaknya si Yanti bisa tabah dan bisa ikut jejak ibunya yang baik dan rajin beribadah,” harapnya.Rencananya, kedua korban dimakamkan di kampung halamannya di Pematangsiantar. (mag1)

Loading...