Ngerinya ! 2 cewek tewas, kepala pecah usus terburai

Mehuli – Irwan- Medan | Ajakan Mayang Sari Pane untuk foto terakhir menjadi kenyataan. Mayang tewas dengan usus terburai. Sedangkan temannya, Sri Handayani mengalami pecah kepala. Miris.

Hasyim Sitompul (82) hanya bisa mengiklaskan kepergian cucunya, Mayang Sari Pane (19) yang tewas mengenaskan bersama temannya, Sri Handayani (19).

Ditemui di kediamannya, Jln Madio Utomo Gg Ketapang, Kec Medan Perjuangan, Sitompul mengaku mengetahui kabar cucunya tewas, Minggu (8/4) sekitar pukul 20:00 WIB. “Saat itu saya dapat telpon dan mengatakan bahwa cucu saya kecelakaan,” ucap Sitompul kepada M24, Senin (9/4).

Loading...

Informasi yang diterima, kecelakaan itu terjadi di Jln Jamin Ginting, Simpang Pajak Pasar Induk, Kel Sidomulyo, Kec Medan Tuntungan. Ketika itu, Mayang dibonceng Sri Handayani yang mengendarai kreta Honda Beat warna hitam BK 4179 AHH baru pulang jalan-jalan bersama teman-temannya dari kawasan wisata di Berastagi. Saat melintas di tempat kejadian perkara (TKP), Sri Handayani coba mengelakkan lobang yang terdapat di tengah jalan.

Namun, ia justru kehilangan kendali dan kretanya melompati trotoar. Akibatnya, Mayang dan Sri terlempar ke tengah jalan. Bersamaan, truk tangki CPO BK 8621 VV yang dikemudikan MI (31), warga Stabat, Kab Langkat melintas dari arah Medan. Crasss… Roda depan bagian kanan mobil tangki menggilas kepala Sri Handayani hingga pecah. Bahkan isi otaknya berceceran di lokasi.

Mayang juga tak bernasib baik. Ia tergilas roda belakang kanan truk. Akibatnya, isi perutnya keluar. Peristiwa itu sontak menghentikan laju dua kendaraan teman-teman korban lainnya. Salah seorang teman korban bahkan mengumpulkan otak Sri yang berhamburan dan diletakkan ke helm korban.

Peristiwa itu langsung dilaporkan warga ke petugas kepolisian. Selanjutnya jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Medan. Jenazah Mayang tiba di rumah duka sekitar pukul 02:00 WIB dan dikebumikan di pemakaman Pasar III. Sedangkan jenazah Sri dibawa ke rumah duka di kawasan Jln Pimpinan, Pancing.

Menurut Sitompul, Mayang merupakan anak pertama dari pasangan Almarhum Rahmat Indra Utama Pane dan Almarhumah Hamidah Sitompul yang pegawai Perpustakaan USU. Sejak kedua orangtuanya meninggal, Mayang dan adiknya, M Furqon (10) yang masih duduk di Kelas 6 Sekolah Dasar (SD) tinggal bersamanya.

“Padahal, cucu saya ini baru sebulan bekerja sebagai sales aksesoris di (Jln) Brigjen Katamso, Medan. Rupanya menyusul anak saya (ibu korban) yang meninggal tahun lalu karena asam lambung,” tuturnya.

Sebenarnya, Sitompul merasakan firasat burut seminggu belakangan ini. Setiap hari, ia selalu mengingatkan korban berhati-hati saat pergi kerja maupun pulang. Sore hari saat kejadian, ia juga meminta keluarganya menghubungi korban agar cepat pulang.

“Sudah seminggu ini saya selalu was-was jika korban keluar rumah. Memang waktu kejadian itu korban tidak permisi dengan saya. Padahal saya ada di dalam kamar,” kenangnya.

Salah seorang teman korban yang ditemui di rumah duka mengungkap pertanda akan peristiwa naas itu. Sebelum pulang, korban mengajak teman-temannya berfoto bersama untuk terakhir kalinya.

“Katanya, ‘ayo kita foto-foto terakhir’. Saat pulang, korban juga mengatakan ingin cepat pulang, karena ingin tidur nyenyak,” ucapnya.

Loading...