Obral payudara, Keyboard Bongkar digeruduk ibu-ibu perwiritan

248

Darmawan – Sergai | Puluhan ibu-ibu perwiritan mengamuk. Empat biduan keyboard (organ tunggal) bongkar yang sempat mengobral payudara lari tunggang langgang ke belakang pentas.

Kemeriahan hajatan di Dusun IV, Desa Blok 10, Kec Dolokmasihul, Kab Serdang Bedagai (Sergai) dihentikan paksa oleh puluhan ibu-ibu perwiritan. Pasalnya, keempat biduan sudah menampilkan pornoaksi yang dapat merusak moral anak.

Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sergai sudah mengeluarkan Surat Edaran Bupati nomor: 035/331.1/410/2018 juga Peraturan Daerah (Perda) nomor 26 Tahun 2008 Tentang Ketertiban Umum yang melarang penampilan hiburan keyboard (organ tunggal) bongkar. Namun, hiburan rakyat selama puluhan tahun itu tetap eksis.

Bahkan, sebuah hajatan dirasa belum lengkap tanpa kehadiran keyboard bongkar itu sendiri. Seperti halnya pada hajatan pernikahan yang digelar di Dusun IV, Desa Blok 10, Kec Dolokmasihul, Rabu (2/5). Pihak penyelenggara salah satu hajatan meminta pihak penyedia jasa hiburan X3 untuk penampilan keyboard bongkar.

Sesuai pesanan, mereka menampilkan empat biduan untuk menghibur masyarakat sekitar lokasi hajatan digelar.

Di awal-awal, tak ada yang salah dari penampilan keempat biduan tersebut. Mereka bernyanyi membawakan lagu-lagu pop yang sedang hits. Namun semua berobah ketika malam semakin larut.

Keempat biduan yang tampil dengan busana seksi mulai bergoyang eksotis. Iringannya pun berganti dengan musik disko (house music) yang berirama kencang.

Sekitar pukul 22:00 WIB, keempat biduan yang di atas panggung 4×4 meter semakin berani.

Selain menampilkan tarian tidak senonoh, mereka dengan sengaja memamerkan payudaranya kepada penonton yang memadati bagian depan panggung.

Tak peduli meskipun aksi tak senonoh tersebut disaksikan puluhan anak-anak. Para biduan tadi bahkan hanya tersenyum saat penonton ada yang menyentuh payudaranya.

Melihat itu, puluhan ibu-ibu perwiritan desa setempat pun gerah. Mereka kompak menggeruduk kerumunan penonton dan menuju panggung.

Tak pelak, keempat biduan yang tadinya bergoyang dengan garang lari tunggang langgang ke belakang panggung.

Para penonton awalnya sempat kesal. Namun, melihat suami dari ibu-ibu tersebut, mereka hanya menelan kekesalannya.

“Selain berpakaian tidak sopan, para biduan itu sengaja melakukan pornoaksi dan sengaja membiarkan payudara mereka dipegang. Kami para kaum ibu meminta pemerintah menindak tegas pemilik hiburan keyboard bongkar ini,” ucap Sulastri (45) dan Dwi Puji Astuti (46), perwakilan ibu perwiritan yang ikut aksi geruduk tersebut.

Salah seorang warga Sei Rampah, Ridwan (31) memaklumi aksi geruduk ibu-ibu perwiritan tersebut. Namun, atraksi biduan keyboard bongkar itu disebut sesuai permintaan pemilik hajatan.

“Jika pemilik hajatan tidak melarang, biduannya pasti mengayak di atas pentas. Di Sergai ini masih banyak keyboard bongkar,” ucap Ridwan.

Hal itu dibenarkan biduan keyboard bongkar berinisial Bun, warga Sei Bamban. Bun mengaku, sekali tampil mendapat bayaran Rp120 ribu. Namun ia membantah membuka bajunya dan membiarkan payudaranya dipegang penonton.

“Kalau dikasih pegang tidak. Hanya saja pura-pura dibuka lalu pura-pura kami kasihkan ke penonton. Jika mau dipegang kami tarik kembali. Biasanya aksi seperti itu di atas jam 10 malam kami buat. Tapi yang namanya keyboard bongkar itu wajib begitulah. Kalau tidak mau bongkar, kan ada keyboard kasidah yang lebih sopan,” beber biduan berusia 38 tahun ini.

Sementara itu, pengusaha keyboard, Rafik (45) warga Tanjungberingin, Sergai menjelaskan, untuk mentas di hajatan, ia mematok harga dari Rp1 juta ke atas. Untuk biduan, ia mengaku mendatangkan dari luar daerah. Namun sejauh ini, penampilannya belum pernah dikomplain.

Terpisah, Kadis Sat Pol PP Sergai, Drs Fajar Simbolon mengapresiasi tindakan ibu-ibu perwiritan yang menghentikan paksa penampilan keyboard bongkar tersebut. Pihaknya akan menindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan kepada pihak terkait.

“Kita akan panggil kedua pihak (pemilik keyboard dan hajatan) karena telah melanggaran aturan ketertiban umum. Kita akan berikan sangsi sesuai Perda agar ada efek jera bagi pemilik dan penyelenggaranya,” janji Fajar Simbolon.

Loading...