Pascaoperasi Usus Buntu Perut Busuk, Dokter Sebut Jangankan Darah & Nanah, Mati pun Bisa

SIDIMPUAN-M24 | Dokter Fauzi Fahmi, yang menangani Adam Saputra (15), pasien usus buntu alami luka ‘busuk’ di perut pascaoperasi menyebut, pola makan dan gizi menjadi penyebab perut pasien berdarah dan bernanah.

“Jangankan keluarkan nanah dan darah, mati pun pasien bisa!” ujarnya kepada wartawan ketika ditemui di RSUD Padangsidimpuan, kemarin (24/7). Dijelaskan Dokter Fauzi, Adam menolak dimasukkan selang oksigen melalui hidung saat perawatan. Selain itu, Adam juga tidak mau mendengarkan nasihat tim medis agar mengonsumsi 6 butir telur setiap hari.
“Kami sudah sarankan agar dia (Adam, red) makan putih telur sebanyak 6 butir setiap hari agar gizinya bertambah, namun dia menolak,” ucap Fauzi Fahmi.

Ditanya alasan pihak rumah sakit memperbolehkan Adam pulang ke rumah, Fauzi Fahmi menjelaskan, kondisi pasien saat itu sudah mulai membaik.
Pihak rumah sakit, lanjut Fauzi Fahmi juga sudah menyarankan kepada keluarga agar Adam dirujuk ke Medan. Namun, dengan alasan tertentu, pihak keluarga menolak. “Kami sudah sarankan agar Adam dirujuk, tapi ditolak keluarganya,” sebutnya.

Loading...

Sesalkan Pelayanan Rumah Sakit
Terkait kasus pasien yang mengeluarkan darah dan nanah usai menjalani operasi usus buntu di RSUD Padangsidimpuan, Anggota Komisi III DPRD, Timbul Simanungkalit, mempertanyakan sistem pelayanan rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
“Ini sangat memalukan, dan saya sangat prihatin dengan nasib pasien. Rumah sakit yang digadang-gadang sebagai rumah sakit rujukan, ternyata pelayanan medisnya masih jauh dari yang diharapkan,” ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan, Rabu.

Ironisnya, menurut Timbul, pasien belum sembuh total, namun tim medis sudah memperbolehkannya pulang. Harusnya, apabila petugas medis tidak mampu menangani pasien, tharus jujur dan merujuknya ke tempat lain. “Jangan jaga gengsi, kalau memang tidak mampu segera rujuk ke rumah sakit yang bisa menangani,” tegas politisi asal Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu.

Mantan aktivis buruh itu juga menilai, sistem pelayanan di RSUD Padangsidimpuan hingga kini masih terkesan mengutamakan kepentingan administrasi daripada pelayanan terhadap pasien. Banyak keluarga pasien, terutama pasien gawat darurat yang mengeluhkan pelayanan. Bagaimana tidak, petugas rumah sakit kebanggaan pemerintah itu lebih mengutamakan kesiapan administrasi pasien yang datang.

“Selama ini, keluhan banyak yang datang kepada saya. Ternyata, pasien harus melengkapi adminitrasi lebih dahulu agar bisa diberikan pelayanan medis, atau pasien tidak boleh dirujuk sebelum semua administrasi diselesaikan oleh keluarga,” ungkap Timbul.
Sementara Bidasari, ibu kandung Adam hanya bisa menangis ketika sejumlah wartawan menjumpainya di RSUD Padangsidimpuan. Bagaimana tidak, mereka kesulitan mencari biaya berobat Adam. “Kami hanya bekerja sebagai petani, maka sulit untuk mendapatkan biaya berobat Adam,” tuturnya.

Dijelaskan Bidasari, berbagai cara sudah dilakukannya bersama suami untuk penyembuhan Adam. Namun hasilnya tak seperti diharapkan. “Sekarang ini, kami hanya bisa pasrah dengan menerima nasib Adam, karena keterbatasan biaya,” lirih Bidasari.

Dengan raut wajah sedih, Bidasari mengisahkan, sebelum jatuh sakit, Adam adalah seorang anak yang periang. Tak heran, jika siswa kelas 2 SMP tersebut memiliki banyak teman. Namun kini berbeda, Adam menjadi seorang yang hanya bisa merintih dan menangis di rumah. Kian hari, kondisinya semakin memprihatinkan. “Jangan untuk keluar rumah, untuk mengangkat badannya saja dia sudah merasa kesakitan. Dia tidak bisa sekolah, karena bergerak saja dia merasa sakit,” imbuh perempuan bersuamikan Parlindungan Harahap, seorang buruh. (kevin/agung)

Loading...