Pegawai kosmetik dibunuh, mayatnya dibungkus kardus dibuang di samping Gereja

51

MEDAN-M24 | Rika Karina (21) ditemukan tewas mengenaskan. Berlumur darah, tubuh pegawai stand kosmetik di Millenium Plaza ini dibungkus kardus kemudian ditinggalkan di samping Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Rabu (6/6) dinihari. Rika Karina (21) warga Dusun II GG Melinjo, Kel Bandar Labuhan, Kec Tanjung Morawa, Kab Deliserdang

Warga yang bermukim di Jln Karya Rakyat Gg Melati I, Link IV Kel Sei Agul, Kec Medan Barat gempar menyusul temuan mayat wanita terbungkus kardus serta kreta dengan mesin masih menyala, Rabu (6/6) sekitar pukul 02:00 WIB.

Informasi dihimpun M24, kehebohan berawal Darwis (25) dan temannya Khairul (25), keduanya warga Jln Karya Rakyat, Kel Sei Agul, Kec Medan Barat, disuruh membeli makanan. “Tadinya kami disuruh kakak beli sate. Tapi karena sate gak ada, jadinya beli ayam penyet. Trus kami pulang,” ucap Darwis.

Saat melintas di lokasi, sekitar pukul 01:55 WIB, keduanya melihat kreta Honda Scoopy BK 5857 ABW warna krem terparkir dengan kondisi mesin dan lampu menyala di samping Gereja HKBP Ampera. Penasaran, mereka pun berhenti dan mencari tahu keberadaan pemilik kreta. Namun tak ketemu.

Keduanya lantas ketakutan setelah melihat bungkusan di atas kreta tersebut. Mengira bungkusan tersebut adalah bom, Darwis pun berteriak memecah keheningan suasana dinihari itu. Mendengar teriakan ‘bom’, warga langsung berhamburan keluar rumah. Setelah mendengar cerita Darwis, warga semakin ketakutan dengan keberadaan bungkusan berbalut lakban coklat di atas kreta tersebut.

Akhirnya temuan itu dilaporkan ke Kepala Lingkungan (Kepling) IV, Kel Sei Agul, Kec Medan Barat, Romina Hutabarat yang meneruskannya ke pihak kepolisian di Polsek Medan Barat. Tak lama berselang, sejumlah petugas kepolisian dipimpin Kapolsek Medan Barat, Kompol Rudi Silaen tiba bersama Tim Inafis Polrestabes Medan.

Petugas langsung memeriksa dan membuka bungkusan kardus tersebut. Ternyata, di dalamnya ditemukan koper hitam. Begitu dibuka, petugas menemukan dua tangan manusia menekuk di leher. Hal itu membuat warga yang berada di sekitar lokasi gempar. Saat itu juga petugas langsung mengevakuasi koper serta kardus tersebut ke Rumah Sakit Bhayangkara, Medan untuk keperluan penyelidikan.

Di rumah sakit, petugas kepolisian dibantu tim medis kembali membuka kardus dan koper. Ternyata di dalamnya terdapat tubuh wanita dengan posisi tertekuk dibungkus plastik dan kain putih berlumuran darah. Dengan perlahan, tubuh kaku yang hanya dibalut baju hitam dan celana dalam itu dikeluarkan dari dalam koper.

Dalam pemeriksaan terhadap jasad korban, petugas mendapati sejumlah luka akibat senjata tajam (sajam). Sebanyak enam luka tusuk di leher, satu luka tikaman di bagian dada dan satu luka sayatan di bagian pergelangan tangan yang nyaris putus. Di bagian mulut ditemukan bengkak bekas pukulan serta kedua tangan dalam kondisi menggenggam.

Identitas korban terungkap setelah petugas menemukan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) kreta. Petugas lalu menuju alamat di kawasan Japaris. Dari situ diketahui jika Devi, pemilik kreta tinggal di Binjai.

Mendapat kabar duka itu, keluarga meluncur ke rumah sakit yang terletak di Jln KH Wahid Hasim, Medan itu. “Tadi malam datang petugas dari Polda Sumut ke rumah sepupu kami yang punya kreta di Marelan, menanyakan kepemilikan kreta itu. Baru dibilangnya, kalau yang bawa sepupu dia (korban) di situlah dikasih tahu polisi kalau dia meninggal dan sudah di Rumah Sakit Brimob,” ucap Robi (30) ipar sepupu korban kepada M24.

Tangisan pun pecah melihat jasad kaku korban yang bernama Rika Karina (21). Korban diketahui anak kedua dari empat bersaudara tersebut. Kedua orangtuanya adalah Sarinah dan Muhammad Suali yang merupakan keturunan Tionghoa dan sudah mualaf serta tinggal di Tanjungmorawa, Kab Deliserdang.

Namun sehari-hari, korban yang bekerja sebagai pegawai di salah satu stand kosmetik yang terletak di Millenium Plaza Jln Kapten Muslim, Kec Medan Helvetia ini tinggal di Perumahan Malibu, Titi Papan Marelan, Kec Medan Labuhan.

“Dia (korban) berangkat pagi jam sembilan pagi dari rumah, pulang jam 10 malam. Tiap hari ya kek gitulah kesehariannya. Dia sudah sekitar tiga tahun kerja di sana,” ucap Roby (30) ipar sepupu korban.

Setelah diotopsi, keluarga akan membawa jenazah korban utnuk disemayamkan di rumah neneknya, Jln Pukat Gg Ikhlas, Mandala, Medan. “Di sana juga dikebumikan,” pungkas Roby.

Kapolsek Medan Barat, Kompol Rudi Silaen ketika dikonfirmasi mengatakan masih melakukan penyelidikan terkait temuan mayat wanita terbungkus kardus tersebut. “Sabar ya. Sampai saat ini kita masih mendalami dan menyelidiki motif dan pelaku pembunuhan tersebut,” tukas Rudi Silaen.

Mau Beli Baju Lebaran untuk Adik

Kepergian Rika Karina dengan cara mengenaskan tak pelak menimbulkan duka mendalam bagi keluarga. Apalagi, dalam komunikasi terakhir, korban berniat membelikan baju lebaran untuk adik-adiknya.

“Firasat enggak ada, tapi ibunya bilang kalau seminggu lalu ditelpon. Dia (korban) bilang mau beli baju lebaran untuk adik-adiknya. Itulah komunikasi terakhir sama ibunya,” ucap ipar sepupu korban Roby yang ditemui M24 di RS Bhayangkara Medan, Rabu (6/6).

Kedua orangtua korban, Sarinah dan Muhammad Suali pun tak dapat menahan air matanya. Mereka tak menyangka anaknya yang tertutup dan tak pernah bermusuhan itu tewas mengenaskan. “Kok tega anak saya diperlakukan seperti itu? Saya berharap polisi dapat nengungkap dan segera menangkap pelakunya,” harap Suali.

Dibunuh di Perumahan Malibu

Pascaditemukan tewas mengenaskan di dalam kardus, keluarga meyakini Rika Karina adalah korban pembunuhan. Bahkan anak kedua dari empat bersaudara itu diduga dibunuh di tempat tinggalnya, Perumahan Malibu, Titi Papan Marelan, Kec Medan Labuhan.

Menurut Kartini (54), warga Jln Rahmadsyah Gg Kemala, Medan, ia dikabari petugas kepolisian bahwa ditemukan bekas cap tangan darah di rumah tempat korban tinggal. “Kemungkinan korban dibunuh di rumah dulu baru dimasukkan ke kardus dan diletakan di atas kretanya di lokasi ditemukan. Korban juga kehilangan HP Vivo 7 dan uang penghasilan tiga hari sebesar Rp3 juta,” beber bibi korban yang ditemui M24 di rumah duka Jln Tangguk Bongkar 9 Gg Ikhlas, Mandala, Rabu (6/6).

Korban, sebut Kartini awalnya tinggal bersama putrinya, Devi. Namun enam bulan belakangan, Devi dan suaminya pindah ke Tanah Seribu, Marelan. Karena dekat tempat kerjanya, korban pun tinggal seorang diri di perumahan tersebut.

Oleh warga Perumahan Malibu, korban kerap terlihat dijemput pria mengendarai kreta sport. Namun, tak satupun mengetahui identitas laki-laki yang diduga pacar korban tersebut.

“Selama ini, dia (korban) jarang keluar rumah. Orangnya pendiam, paling dia ini pergi kerja selalu siang dan dijemput laki-laki. Jadi, kami tidak begitu tahu tentang dia (korban),” kata warga Perumahan Pesona Malibu, Hendri (15), Rabu (6/6) pukul 17:30 WIB. (ardi/tiopan/irwan/mag1)

Loading...