Pencarian korban KM Sinar bangun gunakan Multi Steam Psy Scan Sonar

33

TIGARAS-M24 |Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, untuk mempercepat evakuasi korban tenggelamnya KM Sinar Bangun akan ada beberapa unit yang akan bekerja. Pertama, kepolisian akan memastikan jumlah korban. Kedua, Basarnas yang akan melakukan pencarian sesuai dengan SOP.

“Dengan data yang jelas akan membantu pencarian korban,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa nantinya akan didatangkan alat berteknologi canggih untuk pencarian di bawah permukaan air,” ucap Panglima TNI usai mendengar pemaparan Kabasarnas Medan Budiawan di Posko Utama SAR di Pelabuhan Tigaras, Kab Simalungun.

Dalam pencarian, Jumat (22/6), tim sudah menggunakan alat Multi Steam Psy Scan Sonar yang mampu mendeteksi objek hingga kedalaman 600 M. Hanya saja, hingga pencarian berakhir pukul 16:30 WIB, alat tersebut tidak dapat menemukan/mendeteksi keberadaan KM Sinar Bangun. Diduga, kapal berada di kedalaman melebihi 600 M.

Karena itu, Sabtu (23/6), tim pencarian akan mendatangkan alat side scan sonar (SSS) dan multibeam reson hydrobat (MRH) yang dapat mendeteksi benda di kedalaman 2.000 M milik Basarnas dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri).

Sementara itu, Kapolri, Jenderal Tito Karnavian akan melakukan menyelidiki peristiwa tersebut apakan masuk pidana. Pada penyelidikan awal, ada kelalaian yang menyebabkan peristiwa tersebut. “Idealnya KM Sinar Bangun hanya mampu menampung lebih kurang 62 orang. Namun nahkoda sudah sering mengangkut hingga 150 orang,” sebut Kapolri.

Polda Sumut sendiri telah membentuk tim untuk melakukan lidik atas tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Senin (18/6). Kabid Humas Polda Sumut melalui Kasubbid Penmas, AKBP MP Nainggolan menjelaskan, pihaknya telah mengamankan Nahkoda KM Sinar Bangun, Tua Sagala (40), Kamis (21/6).

Dari laporan yang diterima, lanjut Nainggolan, dari insiden kapal tenggelam tersebut, 21 penumpang dinyatakan selamat, 3 orang tewas dan 185 orang dilaporkan menghilang. “Laporan yang diterima, total 209 penumpang,” terang Nainggolan.

Suami Istri Asal Binjai Belum Ditemukan

Terpisah, cerita duka atas peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun masih berlanjut. Selain satu keluarga, sepasang suami istri di Binjai turut menjadi korban kapal naas tersebut.

Sepasang pasutri itu yakni, Doni Septyawan (28) dan istrinya Ariansa (26), warga Jln Datuk Bakar, Kel Pekan Binjai, Kec Binjai Kota. Pantauan m24, bangunan semi permanen tersebut dalam kondisi terkunci dengan lampu masih menyala.

Menurut para tetangga, selama ini korban berjualan kerang bersama ayahnya, Saleh di Pasar Tavip. Di rumah itu, tinggal Doni tinggal bersama istri dan anaknya yang berusia 8 bulan. “Doni bersama istri, anaknya serta ibunya pulang kampung ke Siantar tepat lebaran kedua,” ungkap kakek korban, Abdul Muluk (56), Jumat (22/06) siang.

Senin (18/6) sekitar pukul 06:00 WIB, Doni menititipkan anaknya ke sang ibu karena akan pergi wisata ke Danau Toba bersama Istri dan adiknya. Mereka berangkat dengan mengendarai kreta. Ketika mendapat informasi tenggelamnya kapal di Danau Toba, keluarga langsung menghubungi telepon genggam milik Doni. Namun tak tersambung.

“Kami merasa kehilangan. Kami berharap beliau bisa ditemukan, walaupun kondisi meninggal ataupun hidup. Kami juga mendoakan beliau dan bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberi kesabaran, karena hidup dan mati adalah urusan Tuhan,” harap Abdul Muluk.

Simbolon Berniat Membangun Tugu

Cerita duka lainnya datang dari Tebingtinggi. Ramli Simbolon (57) dan Piter Simbolon (23), warga Jln Pemuda Pejuang, Kel Pasar Gambir, Kec Tebingtinggi, Kota Tebingtinggi diyakini ikut tenggelam bersama KM Sinar Bangun.

“Kami berharap orangtua dan saudara kami tersebut dapat ditemukan dalam keadaan hidup. Kalaupun keduanya memang telah meninggal dunia, keluarga besar berharap jasad keduanya dapat segera ditemukan,” harap Lambok Simanjuntak (40), menantu korban.

Menurut Lambok, akibat kejadian itu, ibu mertuanya Hotma boru Sinaga terus menangis meratapi kepergian suami dan anaknya yang pergi ke Pulau Samosir, tepatnya Kampung Simbolon untuk memperbaiki rumah dan membangun tugu. Keduanya pergi dengan mengendarai kreta.

Ramli Simbolon disebut bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Bappeda, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dan berjualan sembako di Pasar Gambir, Kota Tebingtinggi. Sedangkan anak keduanya, Piter Simbolon baru saja menyelesaikan wisuda dari Perguruan Tinggi Advent, Kota Pematangsiantar.

“Sebelumnya ayah mertua masih sempat mengirim SMS, memberitahukan bahwa mereka sudah berada di atas kapal. Namun usai mendapat kabar bahwa kapal KM Sinar Bangun dari Simanindo menuju Tigaras tenggelam, telepon seluler mereka berdua tidak dapat dihubungi lagi,” ujar Lambok yang langsung berangkat ke Tigaras, Kab Simalungun.

Jaga Sikap dan Tingkah Laku di Danau Toba

S Samosir (67) mengajak masyarakat untuk belajar dari peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun yang menelan ratusan korban jiwa ini. Sebagai kelahiran Pualau Samosir, ia mengamini jika bagi warga setempat, Danau Toba merupakan wilayah yang sakral.

Karenanya, para penumpang kapal yang ingin menyeberang diimbau untuk menjaga sikap dan kelakukan selama berada di atas kapal. Mulai dari sikap pamer perhiasan mewah, suka bicara kotor, mabuk-mabukan, aktivitas maksiat hingga membuang sampah ke Danau Toba.

“Aku orang Samosir. Keluargaku banyak di Samosir. Aku sudah mengalami sendiri kejadian ganjil akibat kekhilafanku,” ungkap pria yang akrab disapa Pakcik saat ditemui M24 di kediamannya Jln Pelajar, Medan.

Ketika itu, Pakcik yang berkunjung ke Samosir memakai perhiasan kalung emas dan beberapa cincin berlian di jari-jarinya. Setelah selesai menyuci mobil di bibir Pantai Tapian Nauli, Desa Sitinjak, Kec Onan Runggu, Kab Samosir, kalung emas seberat 15 gram hilang dari lehernya. Padahal ikatan rantai kalung kuat dan diyakininya tidak mungkin lepas apalagi jatuh sendiri dari leher.

Usaha mencari kalung itu bersama warga pun sia-sia. Kemudian ia berdoa di bibir pantai dan menyampaikan permintaan maaf. Anehnya, 15 menit setelah menggelar ritual, ia melihat kalung emas tergeletak di atas pasir putih yang berjarak 1 meter dari tempatnya berdiri.

“Aku pungut dari dalam air. Benar memang kalungku. Tapi anehnya, gak ada ikatan rantai yang lepas atau rusak. Kalungku masih tetap utuh. Lalu kenapa bisa raib dari leher saya, kan gak masuk nalar kita lagi,” beber Pakcik.

Peristiwa lainnya pada tahun 2014. Kala itu dia berangkat bersama istrinya, Tengku Nursima untuk menghadiri pembangunan Tugu Samosir di Onan Runggu. Anehnya, kapal yang ditumpangi Pakcik bersama 300 penumpang dari Ajibata ke Onan Runggu, hidup-mati saat melintasi perairan Danau Toba. “Terakhir mesin kapal mati selama tiga jam. Kapal kami terombang-ambing dibawa air ke daerah Sipanganlombu. Aku dan istri sudah membayangkan kapal tenggelam,” ucapnya lirih.

Namun setelah sebagian penumpang turun di Sipanganlombu, mesin kapal disebut Pakcik hidup lagi hingga sampai ke Onan Runggu sekitar 30 menit. Belakangan disadarinya, jika sebelumnya, banyak penumpang mengeluarkan kalimat tak pantas. Beberapa pasangan muda-mudi kiga bersikap kurang wajar di depan penumpang lain.

Kembali ke tragedi KM Sinar Bangun, menurut Pakcik, tempat kejadian perkara (TKP) merupakan kawasan Tao Silalahi. Dimana hingga saat ini diyakini kawasan itu dihuni wanita cantik yang hanya dapat dilihat pemilik indra keenam.

“Saya ingatkan, jika ada penghuni Danau Toba itu. Jangan bersikap aneh-aneh di Danau Toba. Percaya atau tidak, terserah masing-masing,” tutup suami dari Kepling VI Teladan Timur, Kec Medan Kota ini. (dedi/ahmad/sopian/agus/budiman)

Loading...