Pulang Belanja Pasutri Tewas Ditabrak L300

SIMALUNGUN-M24 | Di tengah perjalanan pulang berbelanja dari Pasar Dwikora Parluasan Siantar, kreta yang dinaiki pasangan suami istri (Pasutri) ini ditabrak mobil L300. Akibatnya, nyawa pasutri tersebut melayang.

Pasutri itu adalah Rudi Robinson Siburian (47) bersama istrinya Riama Minar boru Lumban Gaol (45). Mereka tinggal di Huta Pasar, Kel Pardomuan Nauli, Kec Pem Bandar, Kab Simalungun. Pasutri ini tiap hari belanja sayuran di pasar tersebut untuk kembali dijual di lingkungan mereka tinggal. Kecelakaan terjadi jalan lintas KM 13-13,5 Siantar-Perdagangan, tepatnya di Nagori Senio, Kec Gunung Malela, Kab Simalungun, Jumat (27/7) sekitar pukul 05.30 WIB.

Kasat Lantas AKP Hendrik Barus saat dikonfirmasi awak media menyebut, keduanya dihantam mobil pick up L300 berplat BK 8465 TO yang dikemudikan Junaidi (36) warga Ling Pekan Kerasaan, Kel Kerasaan 1, Kec Pematang Bandar, Kab Simalungun. Ketika itu, mobil melaju kencang menuju Perdagangan.
Seketika mobil menghantam pasutri yang saat itu menaiki kreta Honda Revo BK 2240 TK. Hantaman itu membuat keduanya terpental dari kreta dan jatuh ke jalan. Riama Minar meninggal di lokasi kejadian. Sementara Rudi meninggal di tengah perjalanan ketika dibawa ke rumah sakit.
Hendrik menyebut, Junaidi sempat kabur. Namun kemudian pihaknya membekuk Junaidi di rumahnya. “Anggota menemukan mobil di halaman rumahnya. Pelaku lalu dibawa ke Sat Lantas,” jelas Hendrik.

Loading...

#Tinggalkan 4 Orang Anak
Di rumah duka, tangis para pelayat pecah. Terlebih saat mereka memikirkan nasib keempat anak korban yang kini menjadi yatim piatu.
“Gak bisa diungkapkan Lae kejadian ini. Lihat lah anaknya masih kecil. Anak korban empat orang. Paling besar masih SMP dan paling kecil SD. Mungkin sama opungnya lah anak-anak ini tinggal,” kata tetangga korban berinisial EP (53).

Hal senada juga diungkapkan tetangga korban lainnya SM (39). Menurutnya tidak ada firasat buruk di balik kecelakaan yang menimpa korban. “Nangis kami semua melihat anak-anak korban yang masih kecil harus merasakan tantangan beratnya hidup. Bagaimanalah nanti sekolah anak-anak ini. Iya kalau mau opung atau tulang (paman) mereka menyekolahkan,” bilangnya sambil berlinang air mata.

Kesedihan juga terlontar dari Boru Pasaribu, kerabat korban lainnya. Dia sesekali berteriak. “Edaa… Gak kasihan kalian melihat anak kalian ini. Masih kecil tapi sudah yatim piatu. Sudah enak lah kalian di surga. Tak kalian rasakan lagi sakitnya hidup di dunia ini,” jerit Boru Pasaribu. (john)

Loading...