Ritual Buru Harta Karun Renggut Nyawa di Pagar Merbau

19

LUBUKPAKAM-M24 | Niat berburu harta karun berujung petaka. Hendra (27) warga Bagan Siapiapi, Provinsi Riau tewas dalam ritual yang dilakukan. Korban ditemukan tewas di tepi kubangan kolam di Gang Bintang Dusun Industri, Desa Pagar Merbau III, Kec Lubukpakam, Deliserdang, Jumat (14/9).

Sebelumnya Hendra, pekerja di peternakan ayam milik Saham Situmorang, melakukan ritual mencari harta karun di antara pohon sawit dan beringin yang berada di belakang kandang ayam. Namun usai melakukan ritual, pri yang baru tiga bulan ini bekerja di peternakan ayam justru meregang nyawa.

Menurut Putra (51), kerja korban yang menetap di Jln T Raja Muda Lubukpakam, sebelum kejadian, Hendra pernah cerita soal mimpinya didatangi tiga wanita cantik berambut panjang dan berbaju putih yang menyuruhnya melakukan ritual jika ingin mendapat harta terpendam. Caranya, meletakkan ayam warna putih berikut bunga kembang tujuh rupa di antara pohon sawit dan beringin di sekitar lokasi. Usai meletakkan sesajen itu, sesuai mimpi itu Hendra akan diberi benda berupa keris dan peti berisi uang emas.

Yakin akan mimpi itu, Hendra lantas menjumpai Mamat (36) tenaga honor bagian kebersihan Pemkab Deliserdang yang setiap hari mengarit rumput di sekitar lokasi. Kepada Mamat, korban bercerita mimpinya dan meminta tolong agar dicarikan orang pintar.
Mendengar cerita korban itu, Mamat menjumpai Jumalik (60), ayah kandungnya sekaligus menceritakan soal mimpi Hendra. Gayung bersambut, Jumali tertarik oleh mimpi Hendra. Jumalik pun menemui Joko Saputra alias Koko (36), temannya, agar ikut menemani meletakkan sesajen di antara pohon sawit dan beringin sesuai mimpi korban.

Sekira pukul 23:50 WIB, Hendra, Jumalik, Mamat dan Koko bersama Putra berjalan ke lokasi. Sebelum melakukan ritual, sesuai petunjuk mimpi itu disarankan agar Hendra lebih dulu mandi dengan kembang tujuh rupa.

Lalu, Hendra duduk bersila di bagian depan, sedangkan Jumalik, Mamat dan Koko serta Putra duduk di belakangnya. Ayam putih, kembang tujuh rupa dan minyak wewangian diletakkan dekat pohon sawit dan beringin.

Sekitar 15 menit melakukan ritual, Jumalik, Mamat dan Koko tidak tahu apa mantera yang dibaca Hendra. Di saat itulah, Koko, pedagang ayam potong yang mengaku memiliki indera keenam merasakan nuansa seram dan bulu kuduknya berdiri. Tiba-tiba saja saat menggelar ritual itu terdengar suara gemuruh seperti pelepah sawit jatuh meskipun sebenarnya tidak ada benda jatuh.

Ketakutan, Koko pun mengajak yang lain pulang sekaligus menghentikan ritual. Sebelum pulang, mereka sempat duduk sambil menerka-nerka apa gerangan yang terjadi dari ritual yang baru selesai dilakukan. Koko bilang, dari cerita para orangtua untuk mengangkat harta karun itu tidak boleh dipaksa, sebab bisa beresiko, nyawa taruhannya. “Kalo dipaksa bisa muntah darah atau mati,” begitu kata Koko.

Sekira pukul 00:30, Jumalik, Koko dan Mamat pamitan pulang. Tapi saat berdiri, korban melihat sosok makhluk halus, seorang wanita melambaikan tangan ke arah Hendra. Saat itu juga Hendra mengaku kepada Koko jika wanita itulah yang muncul dalam mimpinya dan kala itu sedang berdiri di tower. Koko menoleh, ternyata benar ia juga melihat wanita yang dimaksud. Koko seketika berucap agar korban istighfar sambil buru-buru meninggalkan korban di lokasi.

Setelah kepergian ketiga pria itu, Hendra kembali ke gubuk untuk tidur. Namun sebelum tidur, ia melakukan zikir hingga terjatuh sambil menutupkan tikar ke badannya. “Dia sempat zikir dan tiba-tiba jatuh sambil menutupi badannya dengan tikar,” sebut Putra kepada kru metro24.

Namun saat terbangun, Putra kaget melihat korban tidak ada lagi dalam gubuk. Lalu Putra pun keluar dan saat berjalan melihat seekor ular kobra masuk dalam paralon yang ada di bawah gubuk. Untuk membunuh ular itu, Putra coba mencari Hendra. Alangkah kagetnya Putra karena ia justru menemukan Hendra sudah tak bernyawa dengan kondisi telungkup. Selanjutnya Putra memberitahukan kepada warga sekitar dan kasus inipun sampai ke personel Polsek Lubukpakam.

Kematian Hendra sontak membuat warga heboh. Warga berduyun-duyun datangi lokasi. Tak lama, sejumlah personel Polsek Lubukpakam tiba di lokasi melakukan penyelidikan. Petugas pun melakukan identifikasi sidik jari korban. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada korban. “Untuk penyelidikan, jasad korban dibawa ke RS Bhayangkara Medan,” kata Kanit Reskrim Iptu Herwin di TKP.

Saat melakukan pemeriksaan terhadap tiga teman korban terungkap jika Jumalik dan Koko mengaku bukan paranormal. Mereka mau menuruti ajakan melakukan ritual gaib itu hanya sekadar untuk menjaga perasaan korban saja. Selain itu, sekira pukul 07:00, korban sempat mengirim SMS ‘call me; ke nomor Mamat, tapi karena tidak memiliki pulsa, SMS korban langsung dihapus Mamat.

“Kalau ritual ini berhasil, dimana keris dan peti berisi uang emas itu bisa diangkat, korban berjanji mau buka usaha dan membantu masyarakat miskin serta menganggap Jumalik sebagai ayah angkatnya,” sebut Mamat dibenarkan Koko dan Jumralik di hadapan petugas.
Sementara Saham Situmorang, sang peternak ayam, mengungkap saat datang mencari kerja korban diantar oleh temannya bernama Budi, berprofesi sopir serap angkot di Terminal Lubukpakam. “Dia (Budi, red) bertemu korban di Perbaungan, lalu diantar ke sini untuk kerja. Hanya itu saja yang kutahu tentang korban,” ujar Saham. (yan febri)

Loading...