Satu keluarga di Binjai korban KM Sinar Bangun

67

BINJAI-M24 | Senin (18/6/2018) dinihari kemarin menjadi kali terakhir Wati melihat tetangganya, Burhanuddin. Sejak pamit pergi liburan ke Danau Toba bersama enam anggota keluarganya, pedagang sate itu tak kunjung kembali. Tenggelam bersama Kapal Motor (KM) Sinar Bangun.

Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Pantai Ardara, Perairan Danau Toba, Kab Simalungun turut menelan sejumlah keluarga di Sumatera Utara. Diantaranya Burhanuddin dan enam anggota keluarganya.

Pantauan M24, Selasa (19/6) siang, tampak puluhan warga mengerumuni rumah pedagang sate keliling itu di Jln Gunung Bendahara, Link 1, Kel Pujidadi, Kec Binjai Selatan.

“Mereka pamit hari Senin kemarin, sekitar jam empat pagi. Mereka perginya sekeluarga tujuh orang,” ucap Wati, tetangga yang dititipi kunci rumah korban.

Saat itu, lanjut Wati, Burhanuddin mengatakan ingin membawa keluarganya berlibur ke Danau Toba, Parapat, Kab Simalungun. Burhanuddin pun membawa enam anggota keluarganya, Pahrianti (istri), Dede Handrian (anak), Yani (menantu/istri Dede Handrian), Neneng Nurainun (anak), Maya Oktavianti (anak), Dika Ferdian (anak).

Begitu mendengar kapal tenggelam di Danau Toba, Wati langsung menghubungi nomor handphone milik korban. Namun, hingga beberapa kali dihubungi, sudah tak aktif.

Tak putus asa, mereka langsung menghubungi anak sulung Burhanuddin yang tidak ikut liburan ke Danau Toba. “Anaknya seorang lagi yang bernama Pandi tidak ikut. Dia tinggal di Sibolga. Tapi tadi sudah kami kabari,” sambung Erwin.

Di mata warga, Burhanuddin yang sudah 10 tahun menetap di desa tersebut dikenal baik bertetangga dan aktif di acara keagamaan. Karenanya, mereka berharap Burhanuddin dan keluarganya yang dikenal jago berenang dapat ditemukan.

Cerita duka lainnya datang dari Kecamatan Simanindo, Kab Samosir. Adalah Jaodor Simarmata (50) dan istrinya Boru Tindaon (50), putrinya Grace Simarmata (10) serta keluarga dekatnya Boru Silaban (50) ikut jadi korban KM Sinar Bangun. Keempatnya dikabarkan hendak menghadiri pesta pernikahan adiknya di Marihat, Pematangsiantar.

Rahel Sidabariba yang ditemui di Pelabuhan Tigaras, Simalungun menuturkan, keempat sanak saudaranya itu sengaja mengantri trip kapal dari pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras pada pukul 17:00 WIB.

“Sengaja mau ngejar trip terakhir orang itu. Pas jam limalah dari Samosir ke Tigaras. Habis kejadian itu, nomor (korban) gak aktif lagi. Padahal acara nikah adiknya hari ini di Marihat,” kata Rahel kepada M24.

Masih di Pelabuhan Tigaras, seorang warga Bah Birong Ulu, Kab Simalungun tampak menunggu anak sulungnya, Joel Manurung, mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Medan. Joel diketahui berangkat bersama empat temannya dari Bah BIrong Ulu, Senin (18/6) pukul 08:00 WIB.

Ada juga keluarga dari Pematangsiantar yang hilang dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Manan Sitanggang (23), Lusi Nurbayati Sitanggang (20) dan Luki Pratama (17). Ketiganya warga Kec Siantar Martoba, Kota Siantar yang pergi bersama enam temannya asal Kisaran dan Rantauprapat untuk berlibur ke Pulau Samosir.

Ya, sejak peristiwa KM Sinar Bangun yang dinakhodai Tua Sagala (40), warga Desa Simarmata, Kec Simanindo, Kab Samosir terbalik hingga Selasa (19/6), Pelabuhan Tigaras dipadati ratusan orang. Dari petugas kepolisian, Basarnas, BPBD Sumut, hingga relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sumut turun untuk membantu pencarian korban yang hilang.

Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti penyebab peristiwa naas tersebut. Menurut salah seorang korban yang selamat, Hernando Lingga (24), warga Dusun I Pardamean, Kec Tanjungmorawa, Kab Deliserdang, KM Sinar Bangun terbalik setelah berlayar sekitar 30 menit dari Pelabuhan Simanindo menuju Tigaras.

Sebelum terbalik, bagian lambung kapal sudah dipenuhi air. “Saat kejadian, angin dan ombak memang sangat kencang ditambah lagi dengan jumlah penumpang dan kendaraan roda dua yang memadati kapal. Sekitar 200 penumpang kurasa di situ dan 20 kreta. Tiba-tiba kapal oleng dan perlahan terbalik sehingga membuat suasana semakin gaduh. Ratusan penumpang berlompatan. Paling menyedihkan lagi, ibu ibu yang membawa anaknya juga turut tenggelam,” tutur Hernando kepada Kapolres Samosir, AKBP Agus Darojat SIK MH sesaat setelah dievakuasi.

Adapun data terbaru yang diterima metro 24 menyebut, sekitar 19 penumpang telah ditemukan. Dari itu, 18 orang selamat adalah: M Fitri, warga Indrapura, Heri Nainggolan, warga Pane Tongah, Jamuda, warga Bungabunga, Hernando Lingga, warga Tanjungmorawa, Kab Deliserdang, Sri Santika, warga Kuala Tanjung, Rahman Saputra, warga Indrapura, Riko Sijabat, warga Kota Pinang, Tiambung Situmorang, warga Aek Kanopan, Hermanto Turnip, warga Tigaras, Suhendra, warga Siantar, Sanri Sianturi dan Dedi Setiawan, warga Lubukpakam, Hafni dan Toni, warga Siantar, Roni dan Josua Sinaga, warga Simpang Raja Huta, Rudi Wibowo, warga Jln Binjai KM 12 serta Juwita Morga, warga Serbalawan.

Seorang penumpang dinyatakan meninggal dunia bernama Tri Suci Wulandari (24), warga Dusun Ingin Jaya, Kec Tamiang Hulu, Kab Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Saat ini jenazah korban terbaring di RSUD Djasamen Saragih Kota Siantar menunggu pihak keluarga. Sebanyak 94 penumpang lainnya masih dalam pencaharian. (sopian/adi/john/ahmad)

Loading...