Terjadi di Sekolah GUPI Tembung, Bocah Kelas 3 SD Disumkuning

Setiap buang air kecil, sebut saja Bunga, merasakan perih di kemaluannya. Bagaimana tidak, bocah berusia delapan tahun ini diperkosa secara bergiliran (disumkuning) oleh pelajar SMP dan SD di salah satu ruang kelas.

PERCUT-M24 | Kekerasan seksual kembali menimpa anak bawah umur, sebut saja Bunga (8). Mirisnya, pelakunya adalah dua pelajar. R yang masih duduk di Kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan I, pelajar Kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Peristiwa ini pun sudah dilaporkan ke pihak kepolisian.

Untuk mendapat informasi yang akurat, metro 24 mendatangi kediaman korban di Jln Baru, Kel Tembung, Kec Medan Tembung, Selasa (24/7). Saat tiba di rumah terbuat dari papan itu yang dikontrak seharga Rp250 ribu perbulan itu, awak media disambut orang tua korban, Sar’an Batubara (40) dan Isma Ida Hanum Siregar (36).

Loading...

Di ruang tengah tampak korban bercengkrama bersama abangnya yang berbaring di atas tempat tidur. Masih tampak trauma di wajah lugu korban begitu melihat orang tak dikenal. Ia pun meringsut ke lengan ayahnya.

Peristiwa tragis itu pertama sekali diketahui ibu korban, Isma Ida Hanum Siregar, Sabtu (21/7). Saat itu Bunga tengah bermain bersama teman-temannya di depan rumah. “Tiba-tiba dia (korban) membuka celana dalam dan memegang kemaluannya sambil bilang perih,” kenang Isma.

Ternyata peristiwa itu (korban memegang kemaluannya yang pering) sudah sering dilihat dalam beberapa hari belakangan. Curiga, Isma pun membujuk anak kelima dari enam bersaudara ini untuk mengatakan penyebab kemaluannya perih.

Namun, jawaban yang didapat justru membuat buruh cuci ini terkejut. Bagaimana tidak, Bunga mengatakan jika dirinya telah dipaksa melayani nafsu syahwat R dan I, yang masih tetangganya. “Saat itu dia ketakutan dan meminta saya jangan memberitahukan kepada ayahnya. Tapi saya tetap menyampaikan dan meminta suamiku agar tidak marah sama dia,” tuturnya. (baca: Ayah Korban Dituding Memeras)

Seperti dituturkan korban, peristiwa itu terjadi Juni 2018. Saat berada di rumah, sepulang dari sekolah, korban didatangi pelaku I untuk mengajak bermain sambil mencari kotak rokok yang kosong. Korban pun mengamini. Keduanya lalu berjalan menuju areal Perguruan Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Sumatera Utara (GUPPI-SU) yang terletak tak jauh dari rumah korban dan pelaku. Di sekolah itulah korban terdaftar sebagai pelajar Kelas 3 SD.

Siang itu, areal sekolah tampak kosong melompong. Korban melihat pelaku R yang langsung menariknya dengan paksa ke salah satu ruang kelas. Di situ korban ditidurkan di lantai belakang meja. Kedua pelaku, R dan I lalu melorotkan celana dalam korban. “Mereka juga buka celana mereka, R dan I lalu memegang megang kemaluannya sendiri. Kemudian bergantian mereka memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluanku. Saat itu taplak meja di kelas itu, mereka tutup ke mukaku. Perih kali waktu itu,” kenang korban.

Usai melampiaskan birahinya, lanjut korban, R mengancam untuk tidak menceritakan perbuatannya. “Kata si R, kalo aku bilang ke ayahku, dia akan tumbuk (pukul) aku. Makanya aku diam saja walau setelah itu kalau aku kencing terasa perih,” tutup korban.

Mengetahui peristiwa yang menimpa putrinya, Sar’an Batubara langsung memanggil R dan I beserta kedua orangtuanya. Karena tak menemukan titik temu, kedua orangtua korban memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Mereka pun membuat laporan resmi ke Polsek Percut Sei Tuan, Senin (24/7).

Terkait laporan korban, Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Faidil Zikri tengah berada di luar kota berjanji segera menindaklanjuti kasus tersebut. “Nanti saya cek ke penyidiknya. Pasti kita tindaklanjuti,” janji Faidil Zikri. (irwan)

Loading...