80 Persen Syuting Film Terpana di Berbagai Obyek Wisata Sumut

ralin-shah
M24.CO|MEDAN

Hampir 80 persen syuting film Terpana dilakukan di berbagai obyek wisata Provinsi Sumatera Utara. Film yang baru saja dilaunching di Jakarta, ditayangkan dalam acara nonton bareng beberapa komunitas masyarakat di Hermes XXI Medan, yang digelar oleh pengusaha H Rahmat Shah, Minggu (20/11). Oleh sesuatu hal, meskipun sangat disayangkan, film tersebut tidak beredar di luar Pulau Jawa.

Acara nonton bareng dihadiri oleh Walikota Medan, Drs HT Dzulmi Eldin, Ketua TP PKK Kota Medan Hj Rita Maharani, Ketua TP PKK Provinsi Sumut Hj Evi Diana Erry Nuradi, H Rahmat Shah dan keluarga, sutradara Richard Oh serta dua aktor utamanya, Raline Shah dan Fachri Albar.

Hidup adalah sebuah proses yang menyajikan banyak pertanyaan. Dan pertanyaan itu takkan pernah berhenti pada sebuah jawaban, karena akan selalu mengundang banyak pertanyaan lainnya. Proses berpikir dan keterbukaan manusia pada berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh alam semesta melalui science, filsafat, agama dan pencarian ke dalam diri adalah alur yang tak bisa dihentikan selama kehidupan itu berlangsung.

Hal itulah yang menjadi benang merah dalam jalinan cerita yang ditawarkan oleh Terpana, film besutan sutradara kawakan Richard Oh, yang sekaligus bertindak sebagai penulis skenario. Dibintangi oleh aktor kawakan seperti Raline Shah, Fachri Albar dan Reza Rahadian.

Richard Oh menegaskan bahwa Terpana merupakan sebuah film yang mencoba memberikan warna yang berbeda dengan film-film bertema percintaan pada umumnya. Jika biasanya sebuah film cenderung lebih mengutamakan sisi hiburan dan memanjakan para penonton dengan sebuah jawaban, maka Richard melakukan hal yang sebaliknya. Ia justru ingin menggiring penonton pada pertanyaan demi pertanyaan yang didapatkan melalui rangkaian dialog dan visualisasi adegan, yang pada akhirnya akan membawa semacam pencerahan menuju pada proses alamiah manusia itu sendiri sebagai makhluk yang berakal dan berpikir.

“Mungkin ini film yang tak bisa diterima dengan mudah oleh pada umumnya penonton. Namun, seni dan karya yang bagus, sebaiknya adalah pembaruan, bukan sekadar pengulangan atau repetisi belaka dari apa yang sudah banyak disajikan. Lagipula saya tak ingin membuat film yang hanya memanipulasi audiens,” tandas Richard Oh, yang tak gentar oleh anggapan bahwa film yang diproduksinya adalah film yang sulit dicerna dan membingungkan.

Menurut Richard, dengan menyajikan film yang sarat dengan muatan science, seni dan filsafat, berarti dia sudah mencoba membangkitkan semangat para sineas untuk membuat film yang semakin bermutu dan mampu berbicara di ajang Internasional. Pengakuan terhadap karya sineas Indonesia di kancah Internasional adalah sebuah kebutuhan akan eksistensi dan mutu film Indonesia.

“Sebuah film sebaiknya tidak dibuat hanya dengan menyasar keuntungan materi dan box office belaka. Namun memberikan sebuah makna dan pertanyaan-pertanyaan baik pada penontonnya. Jawabannya dipulangkan kembali pada masing-masing individu yang menikmati,” kata Richard.

Hampir 80 persen syuting film Terpana dilakukan di berbagai obyek wisata Provinsi Sumatera Utara. Di antaranya adalah kawasan Danau Toba, Gua Kampret, Sipiso-piso dan sebagainya. Proses syuting yang dilakukan pun kerap mengundang risiko. Sebagaimana diakui Raline Shah, ketika mereka harus mendaki gunung dan menapaki hutan di kala malam dengan penerangan yang sangat minim.

Namun, artis cantik itu mengaku bahwa Terpana merupakan film yang memberikan kepuasan batin bagi dirinya karena materinya yang sangat berbeda dengan film-film lain yang sudah pernah dijalaninya. Bermain dalam film yang ditangani oleh Richard Oh bagi Raline Shah adalah sebuah impian yang menjadi kenyataan. Meskipun tantangan yang dihadapi cukup sulit, yakni dalam penghayatan script dan dialog-dialog yang cukup panjang dan filosofis. Belum lagi lokasi syuting yang begitu menantang.

Walikota Medan, Drs HT Dzulmi Eldin, seusai menonton menyampaikan, sungguh pun Terpana bukan film yang gampang dicerna namun ia meyakini bahwa setiap hal yang disampaikan dalam film tersebut adalah sesuatu yang membawa manfaat bagi penonton.

Sementara H Rahmat Shah mengakui bahwa ia sedikit kesulitan dan bingung dalam menangkap benang merah film tersebut. Mengingat begitu banyak pertanyaan yang disajikan dan tak terjawab dengan mudah bahkan hingga di akhir cerita. Meskipun demikian ia tetap mengapresiasi Terpana sebagai sebuah film yang baik.[winsah]

Loading...
author