Air terjun siluman, airnya berjatuhan, lalu mendadak hilang

39

UKIRAN batu berbentuk balok bak dipahat di Air Terjun Siluman, setinggi 15 meter, di Desa Garunggang, Langkat.

Airnya mengalir tampak hijau melewati batu yang berlumut, begitu pula saat jatuh di kolam yang beningnya seperti melihat kaca tembus hingga ke dasar kolam bewarna hijau toska.”Airnya turunnn, yessss,” terdengar sorakan rombongan wisatawan.

Mereka tampak kegirangan melihat air, seperti melihat air terjun merupakan yang langka. Mungkin anda bingung kenapa?. Ya, keindahan Air Terjun Siluman tidak memiliki kepastian, namanya saja sudah siluman, tiba-tiba ia memunculkan diri, kemudian bisa hilang seketika.

Tetapi, melihat beningnya air kolam yang seperti kaca saja, sudah dapat memberikan kesenangan tersendiri kepada wisatawan.

Penduduk dan pemandu tidak bisa menerka kapan arus air terjun muncul dan kapan hilang. Sehingga wisatawan harus siap menerima apapun yang akan tampak di Air Terjun Siluman, umpama berjudi, wisatawan bergantung pada keberuntungan.

“Jika dilihat dari atas, alirannya terhimpit batu besar. Sehingga jika tidak sedang banjir, aliran airnya sedikit sehingga tidak tampak seperti air terjun. Tempat ini pun baru ditemukan tahun 2012 dan dibuka akses untuk wisatawan pada 2013,” ujar Aman Ginting, penduduk setempat.

Guide Paradise of The Jungle atau juga yang disebut post Peje, lokasi yang mengantarkan wisatawan ke objek wisata, menuturkan, banyak pemandu yang jarang mau membawa rombongan ke Air Terjun Siluman, karena takut tidak memuaskan wisatawan sesampainya di sana.

“Pasalnya jika tidak beruntung, perjalanan berjalan dari desa Garunggung sepanjang 4 kilometer, ditambah tracking melewati jalan yang curam dan gemetaran melihat jurang, tak terbayar jika air terjun sedang hilang,” katanya.

Menurutnya, jika bukan dari pecinta alam atau komunitas wisata alam, biasanya akan langsung mengubah destinasi wisata yang lebih mudah dijangkau dan tetap indah seperti di kawasan wisata Pemandian Kolam Abadi atau Air terjun Tongkat yang juga berada di sekitar Langkat.

“Selain kondisi air terjun yang tidak pasti, resiko ke sana juga ekstrim,” katanya.

Ia menuturkan, saat masuk ke simpang, wisatawan akan melewati jalan dengan kondisi tanah berlumpur dan licin sepanjang 6 km, kemudian jalan kaki sepanjang 4 km karena akses jalan berlumpur yang dalam. Sepedamotor tidak bisa dipaksakan masuk. Karena pasti ban tenggelam hampir setengah. Apalagi kalau naik motor bebek. Kemudian harus tracking lagi sekitar 2 kilometer. Tapi traveller yang menyukai tantangan dan suka objek wisata yang ekstrim, objek wisata ini menjadi destinasi yang tepat.

“Kalau sabar menunggu, wisatawan sebaiknya datang pagi-pagi, jika air terjun sedang tidak muncul bisa mandi-mandi dulu di kolam beningnya sambil menunggu arus air keluar. Sambil nunggu bisa piknik, bakar-bakar ikan sambil main games misalnya,” tambahnya.

Aira Tanjung, wisatawan menuturkan, sebenarnya wisata ke Air Terjun Siluman memberikan pelajaran seperti halnya kehidupan yang memberi ketidakpastian. Proses adalah hal yang harus dinikmati, karena jika hasil tidak seperti dugaan, setidaknya ia beri pengalaman yang berarti.

“Kalau mau benar-benar menikmati alam ya harus tahu rasanya tracking di hutan, berjalan di pinggir jurang dan bersusah payah. Intinya menikmati proses dan kebersamaanlah,” katanya.

Untuk menuju ke lokasi wisata, wisatawan dapat menggunakan jasa Pemandu Track Alam Rumah Galoh (Petar), Pemandu Goa dan Pemandu PJ yang berada di sepanjang jalan Desa Rumah Galuh. Akses jalan menuju kawasan objek wisata dari Medan sudah cukup bagus. Hanya saat di Desa Garunggang yang sulit.

Jika dari Medan, untuk mencapai lokasi tersebut memakan waktu 2 jam. Bisa menggunakan sepedamotor atau mobil. Biaya jasa pemandu sekitar Rp40 ribu per orang per lokasi wisata. Biaya jasa pemandu cukup mahal karena pemandu menjadi penanggungjawab menunjukkan jalan dan membantu wisatawan saat tracking, sekaligus menjaga wisatawan saat mandi di area yang dalam serta memberikan sewa pelampung.

Loading...