Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI Resmikan Desa Adat di Tobasa

Tobasa| Pemerintah melalui Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI DR. Hilmar Farid meresmikan 3 desa adat sebagai bagian dari program pemerintah dalam mewujudkan destinasi wisata danau toba.
Adapun desa adat yang diresmikan adalah Desa Adat Ragi Hotang di Desa Meat, Kec Tampahan, Desa Adat Hutagaol Sihujur di Kec Silaen, Tobasa dan Desa Adat Rumah Bolon Gunung Malela di Simalungun. Namun acara peresmian desa adat ini dilaksanakan di Desa Adat Ragi Hotang yang berada di Desa Meat, Kec Tampahan, Tobasa, Sabtu (11/2).
Acara peresmian ini turut dihadiri oleh Direktur BODT (Badan Otorita Danau Toba) Arie Prasetyo, Bupati Toba Samosir Ir. Darwin Siagian, Wakil Bupati Toba Samosir Ir. Hulman Sitorus, Plt Sekdakab Toba Samosir Drs. Arifin Silaen, Kapolres Toba Samosir AKBP Jidin Siagian serta jajaran SKPD Toba Samosir.
Dalam sambutannya, Bupati Tobasa Ir. Darwin Siagian mengatakan jika saat ini ada sekira 4000-an rumah adat di seluruh Toba Samosir.
Karena itu, ia meminta agar pemerintah pusat tetap menaruh perhatian untuk merevitalisasi rumah adat tersebut. Darwin juga memberikan sedikit penjelasan soal histori 3 rumah adat batak dan 1 sopo (lumbung padi) yang direvitalisasi di Desa Meat.
“Jadi Pak Dirjen, saya sedikit jelaskan soal historis rumah Adat Batak ini. Ini sudah dibangun pada tahun 1890-an. Ini juga dibangun tanpa paku, hanya modal tali ijuk dan setiap kayu saling berkaitan. Ini juga tidak memakai pondasi, tiang bangunan hanya diganjal menggunakan BATU. Pengerjaannya bersifat gotong royong dan bisa sampai 1 tahun,” ujar bupati menceritakan sedikit soal proses pembangunan rumah batak.
Sementara dalam keterangannya, Hilmar mengajak masyarakat untuk melakukan pemeliharaan terhadap beberapa rumah adat yang ada di Toba Samosir.
“Jika hanya berharap dari bantuan pemerintah, jelas tidak akan mampu. Karena itu masyarakat juga harus turut berperan serta dalam melestarikan dan merawat adat dan budaya kita. Termasuk rumah adat ini,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, usai menerima ulos sebagai cendera mata dari masyarakat, Hilmar Farid selanjutnya menandatangi peresmian batu pertanda ke 3 desa tersebut disaksikan oleh para pejabat Toba Samosir dan Direktur BODT Arie Prasetyo.
Selain itu, Hilmar dan rombongan juga diulosi oleh masyarakat sebagai bagian dari adat batak. Usai diulosi, masyarakat juga menunjukkan cara menenun ulos batak. Mulai dari proses mewarnai benang hingga mengayam menjadi ulos yang memakan waktu hingga 1 minggu.
Dalam dialognya bersama Hilmar, penenun mengeluhkan pemasaran ulos hasil tenunan dengan cara tradisional yang kalah oleh ulos karya industri.
“Jadi selain terkendala dimodal, kami juga kalah bersaing dengan ulos hasil industri, karena harganya jauh lebih murah daripada ulos hasil tenun. Karena itu kami berharap agar pemerintah membantu kami untuk memasarkan ulos hasil tenunan ini, Pak,” ujar penenun yang ditanggapi serius oleh Hilmar.
 Tak hanya memperkenalkan ulos dan proses tenunannya, warga juga menunjukkan proses adat seperti pembagian jambar dalam adat batak.(alex)
Tags:
Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.