Bu Menkes Lihat Ini ‘Pasien RSU Djoelham Binjai Dua Hari Diterlantarkan’

41f58916-f0e6-416b-b553-723cdef94736

Anggota DPRD Binjai saat berdebat dengan petugas rumah sakit (m24.co/hamdani gurusinga)

M24.CO|BINJAI
Ketua Komisi B DPRD Binjai, Jonita Agina Bangun terkejut setelah mendengar pengakuan seorang keluarga pasien penderita saraf yang dirawat di RSU dr Djoelham Binjai. Pasalnya, keluarga pasien itu mengaku kalau mereka tak mendapatkan pemeriksaan dokter selama dua hari terakhir, Kamis (10/11/2016).

Diakui warga Brandan, Kabupaten Langkat itu, suaminya terdaftar sebagai pasien RSU dr Djoelham sejak 8 November 2016 lalu. “Ketika di IGD ditangani dokter. Setelah dari IGD sampai sekarang belum ada dokter yang memeriksa suami saya,” cetus wanita berambut lurus tersebut.

Menindak lanjuti hal tersebut, Jonita langsung memanggil Rulu, selaku Kepala Perawat ruang Cengkeh, Lantai 3 RSU dr Djoelham. Dari pangakuan Rulu, dokter spesialis saraf diketahui masuk pada 9 November 2016. “Semalam dokternya masuk kok pak. Lihat saja di catatan kami ini,” sebutnya.

Mendengar jawaban itu Jonita semakin berang. Sebab, keluarga pasien langsung mengakui kalau dokter tak masuk sejak mereka terdaftar di rumah sakit tersebut. “Saya tidak mau tahu catatan dan penjelasan. Karena bisa kalian tanya sendiri sama keluarga pasien itu,” tegas Jonita.

Lantas, Kepala Perawat dan sejumlah anggotanya masih tetap bersikeras bahwa dokter masuk pada 9 November. “Kemarin begini pak, pasien disarankan untuk scaning. Nah, disaat pasien scaning ke RSU Latersia, dokter spesialis masuk. Tapi disaat pasien sudah kembali, dokter sudah pergi. Kan scaning butuh waktu pak,” dalih Rulu.

Jawaban itupun membuat Jonita semakin berang. Pasalnya, pasien melakukan scaning diluar meski di rumah sakit itu memiliki alat scaning. “Kenapa pasien scaning di luar. Kemana alat scaning rumah sakit ini?,” tanya Jonita dengan nada tinggi dan dijawab Kepala Perawat bahwa alat Scaning sedang rusak.

Selanjutnya, Jontita mengaku akan mengagendakan pertemuan dengan Dirut RSU dr Djoelham guna membahas lebih jauh persoalan di dalam. “Bobrok rumah sakit ini. Nanti kita jadwalkan untuk pertemuan agar kita bahas guna mencari solusi dari permasalahan yang ada,” ungkapnya.

Sementara itu, dari informasi yang dihimpun M24.co, alat scaning RSU dr Djoelham Binjai sangat jarang digunakan. Sebab pihak rumah sakit sejak dahulu sampai sekarang memiliki alasan yang berbeda, ada yang mengatakan tenaga ahli untuk menggunakan scaning sedang belajar, dan ada juga yang mengatakan alat tersebut rusak. Sehingga seluruh pasien yang akan discaning harus ke pihak swasta dengan mengeluarkan dana mencapai Rp600-Rp700 ribu. (hamdani)

Loading...
author
Manusia biasa, Murah Senyum dan Ramah. Tapi, Benci Lihat Ketidak Adilan.