Leluhur menyapa, daganganku meroket

9

Rel-Dedi | Yang diinginkan banyak orang tentu rezeki. Rezeki yang banyak. Melimpah ruah. Saya pun seperti itu. Saking ingin meraih aliran rezeki bak air bah, banyak sudah cara yang saya lakukan. Lalu cara apa yang kemudian membuat bisnis saya yang
nyaris hancur malah jadi meroket ? Ditulis secara bertutur dan disebar guna menginspirasi banyak orang, inilah pengakuan MJ, pengusaha sebuah restoran di Tanjung Morawa, Deliserdang.

Begini. Orang kaya sekali pun, meski hartanya ratusan miliar, bahkan triliunan, tentu menginginkan pundi-pundinya bertambah banyak. Apalagi yang pas-pasan, terutama yang tidak punya, pasti ingin sekali mempunyai uang banyak. Anda tentu ingat dengan pesan super keramat ini. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum atau seseorang itu mengubah nasibnya sendiri.

Nah, guna mengubah nasib, ada 2 jalan yang harus ditempuh. Yang pertama, mengubah kualitas diri. Semua sudah paham. Anda anak muda atau para remaja, bila ingin hidupnya mapan, hidupnya cerah, tentu harus menata diri sejak dini. Tingkatkan kualitas diri. Bila sekolahnya hanya lulusan SMU dan sederajatnya, hendaknya berusaha kuliah. Mencari keahlian, menambah pengetahuan, serta
menggali pengalaman. Itu karena derajat seseorang yang sarjana dengan yang hanya lulusan SMU berbeda. Pekerjaannya pun berbeda.

Cara kedua mengubah nasib, ya lewat ikhtiar. Ikhtiar ada 2 macam. Pertama, ikhtiar atau berusaha secara lahir. Anda yang banyak uang pun jika tidak berikhtiar mengembangkan dana, maka pulus akan habis untuk makan dan segala tetek bengek pengeluaran. Apalagi yang penghasilannya pas-pasan. Mencari penghasilan lain, penghasilan tambahan, tentu banyak jalan. Apa saja, tentu asal
halal dan menghasilkan keuntungan.

Yang paling gampang, bagi saya, tentu bisnis. Persisnya, bisnis restoran. Ikhtiar lahir itu saya lakukan sejak muda hingga berkeluarga, punya 5 anak, dan sekarang bermukim di Tanjung Morawa, Deliserdang. Tapi ikhtiar puluhan tahun tidak serta merta menjamin datangnya kesuksesan. Saya pun telah mengalami itu. Restoran lesehan yang lama saya rintis bahkan nyaris bangkrut belum lama ini.

Kesuksesan akan datang ketika perjuangan hidup dilengkapi dengan jalan kedua ikhtiar. Apa? Itulah ikhtiar batin. Ini ikhtiar secara spiritual. Begini. Rezeki memang sudah ditentukan Tuhan. Namun yang sudah ditentukan itu bukan berarti tak bisa diubah. Yang mengubah tentu Tuhan sendiri. Perantara pengubah takdir rezeki adalah doa. Tapi banyak orang mengaku sudah berdoa sejak lama dan rezekinya tetap saja seret. Saya pun pernah merasakan itu. Tapi belakangan saya sadar. Doa-doa yang saya panjatkan ternyata belum mustajabah. Karena itulah permintaan saya tak cepat dikabulkan.

Berikhtiar secara batin pun sebenarnya banyak cara. Satu di antaranya melalui orang-orang pintar, atau menjalankan amalan-amalan khusus. Lima bulan lalu, saat stres melihat usaha restoran baru maju mendadak terancam kolaps, saya yang membunuh suntuk dengan membuka internet menemukan kisah sosok Abah Rahman. Ini cenayang rajin menggali daya khodam roh-roh leluhur yang semasa hidup dikenal memiliki karomah luar biasa. Lewat karomah para leluhur itu, paranormal itu memiliki sejumlah ilmu, salah satunya amalan kerezekian. Itu info awal yang saya tahu tentang Abah Rahman. Adakah dia pembuka jalan solusi atas doa-doa saya
yang belum mustajabah? Demikian pikir saya, saat itu.

Begitulah. Setelah menemukan nomor kontaknya, saya pun memberanikan diri menghubungi beliau. Dua hari setelah komunikasi lewat ponsel dan WhatsApp (WA), saya menemui Abah Rahman. Begitu bertemu dan ngobrol, saya yang semakin terbuka membeber problem pun menjadi kian paham soal dahsyatnya kekuatan doa. Apalagi doa dari orang yang masa hidupnya dihabiskan dengan
beribadah dan membantu sesama manusia.

Dari spiritualis itu, saya juga menjadi tahu rahasia dasar tentang doa dan kerezekian. Salah satu soal itu ternyata ada pada misteri waktu. Ini soal momen pas untuk memanjatkan doa. Abah Rahman mengaku acap menemukan momen pas itu saat malam turun mengusir terang. Besok siangnya, saat batin ini dirasa semakin kuekueh untuk menjalankan ritual gaib, saya kembali menemui beliau. Di pertemuan kedua itu, Abah Rahman memberikan serangkai mantera serta doa khusus yang harus saya hafal. Juga soal tata cara
ritual.

Dan setelah 3 soal itu saya kuasai, jelang sore, dia pun membawa saya berziarah ke sebuah makam keramat. Di situ bersemayam sesosok lelaki zaman doeloe yang dikenal sakti. Saking sakti, di masa hidup konon dia mampu beribadah di tempat yang berbeda, di waktu bersamaan. Tak hanya sakti dan alim, leluhur itu juga dikenal dermawan. Dia bahkan sering mendonasikan uang dan hartanya untuk modal usaha banyak rakyat di jamannya.

Karena semua keluhuran budi itulah, tanpa niat kemusyrikan, pusaranya selalu didatangi peziarah. Lokasinya masih di Deliserdang, Sumatera Utara. Dengan ziarah ke situ, ada yang berharap pikirannya bisa sebening dan secerdas lelaki penuh karomah itu. Ada juga yang berharap dan meminta agar Tuhan menurunkan ilmu atau berkahnya seperti yang dimiliki sang leluhur sakti. Macam-macamlah
permintaan peziarah, termasuk saya yang menginginkan keberhasilan bisnis tengah di ambang kebangkrutan.

Selama ritual di situ saya tidak boleh bicara. Diam lazimnya orang bertapa. Ritual yang dipandu Abah Rahman itu memang menggabungkan laku tapa mbisu. Mbisu tentu tidak bicara. Idu Geni, istilah Jawa-nya. Di situlah, kekuatan batin harus dimaksimalkan. Batin diarahkan bicara, terus mengucap rangkaian mantra dan doa khusus yang saya dapat dari Abah Rahman.

Singkat cerita, setelah ritual yang kemudian mewajibkan saya setiap hari mengirim duit untuk membeli keperluan sesaji kesukaan leluhur itu, sejumlah kejadian aneh bin nyata terjadi. Rezeki tak disangka-sangka mendadak datang dari berbagai arah. Aksi seorang family yang dikenal super pelit datang dan memberi saya pinjaman modal Rp300 juta adalah satu di antara sejumlah kisah rezeki tak terduga itu. Saya tersadar. Itulah efek metafisis. Khodam sang leluhur akhirnya menyapa ritual yang selalu kujalankan. Dengan restu Tuhan, kekuatan gaibnya mendongkrak usaha restoran yang saat itu meredup seketika bersinar lagi. Bangkit.

Saking bangkit, nilai omset per hari pun terus merangkak naik. Makin hari usahaku semakin meroket. Fakta itu segera membuat saya dan keluarga bersyukur tak terkira. Tapi itu tak terjadi secara instan. Kesuksesan itu datang setelah mantra, doa, serta pengiriman sesaji saya lakukan berulang-ulang, rutin dengan kesungguhan, dan tanpa memperhitungkan jangka waktunya. Apa rupanya bacaan
mantra, doa, serta tata cara ritual itu? Ops, tentu itu tidak bisa saya beber di sini. Salam sukses. (***)

Loading...