Lewat foto, inilah ritual dhanyang penebus masalah

36

MEDAN-M24 | SELEMBAR foto sejatinya adalah kisah secuil masa yang berlalu. Karena itulah, Danyang, jenis makhluk halus dari roh orang meninggal dan bisa melihat kehidupan manusia, mafhum dengan media gambar tak bergerak itu.

Nah, lewat foto, ritual kebatinan guna menyelesaikan ragam masalah duniawi kini marak terjadi di areal situs Pancuran Puteri Hijau, Delitua (Deliserdang). Inilah asal-usul mistik soal itu.

Kawasan di tepi Sungai Deli itu sepintas tidaklah menarik untuk dikunjungi. Tapi demi ‘membeli’ jasa makhluk halus yang banyak berkumpul di sana, maka banyak orang mendatangi areal bekas istana kerajaan pimpinan Puteri Hijau itu. Ini bukan fiksi yang ‘dilangit-langitkan’. Mitologi yang berkembang sejak era Kesultanan Deli itu lahir dari kisah antropologi simbol, serta situs dan fakta kepurbakalaan dari kawasan yang doeloe bernama Kerajaan Aru Baru itu.

Abah Rahman, spiritualis yang nyaris menjadi penghuni daerah itu dan kerap melakukan ritual lewat foto orang-orang yang hendak ditolongnya, bercerita. Menurutnya, Demit dan Dhanyang atau Roh Leluhur adalah jenis penunggu terbanyak di wilayah eks area perang besar lebih 600 tahun lalu itu. Mereka mendiami sumber mata air, sungai, serta desa atau bukit di sana. Dan, Mambang Sakti adalah pimpinan 2 komunitas makhluk halus itu. Siapa dia?

Mambang Sakti adalah putra bungsu Paduka Mambang Diatas Awan. Ini raja sakti dari Beraja. Kerajaan ini doeloe berdiri di dataran tinggi Karo, Seberaya (kini masuk wilayah Kecamatan Barus Jahe). Ibu Mambang Sakti adalah Putri Merak Jingga.

Nah, Mambang Sakti mempunyai 2 saudara, yaitu Putri Siti Qadariah yang karena kecantikannya yang luar biasa bergelar Putri Hijau dan yang sulung Paduka Baginda Mambang Diyazid. Si abangan ini berwujud ular besar. Versi Batak, ular melegenda ini disebut simangombus.

Singkat cerita, setelah orang tua mereka meninggal, si sulung Mambang Diyazid menjadi raja dan mengubah nama kerajaan menjadi Aru Baru, beribukota di Pamah, Delitua. Inilah kerajaan cikal bakal Deli yang pernah berperang melawan tentara dari Aceh.

Saat perang hebat itu terjadi dan Putri Hijau diculik, Mambang Diyazid sang ular –dari Delitua- menelusur menuju Selat Malaka melalui alur Jl Putri Hijau (Medan) sekarang ini. Sementara Mambang Sakti, sejak usai perang hebat itu, tetap berdiam di wilayah Delitua, memimpin para Demit dan Dhanyang, eks laskar Puteri Hijau.

“Sulung Hitam adalah yang sering masuk dalam kontak batin saya,” jelas Abah Rahman. Sulong Hitam adalah salah satu Dhanyang kepercayaan Mambang Sakti. “Ia mendiami palung (di sungai) dekat lokasi keramat ini,” imbuhnya, ditemui di Pancuran Puteri Hijau, Pamah, Delitua, Kamis (8/3) jelang Maghrib. Bertahun-tahun mengakrabi daerah keramat itu, Abah Rahman kini mengaku beruntung. Itu karena dia menjadi tahu soal ‘hambatan’ yang menghadang perjalanan hidup orang-orang yang meminta jasa spiritualnya.

“Manusia dan Jin,” bebernya, “sebenarnya punya kesamaan. Keduanya sama-sama berakal, dan sama-sama bisa memilah antara yang baik dan buruk. Yang membedakan hanya dalam hal penciptaan dan ruang hidupnya. Manusia hidup dalam alam nyata, dan hanya orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk bisa melihat Jin. Tapi Jin dan sekutunya bisa melihat manusia dalam keadaan apapun.

Tapi, hanya Dhanyang atau Roh Leluhur yang suka menolong masalah manusia.” Ingin Bukti? “Berikan foto serta cerita dari problem Anda. Soal asmara, usaha yang tak lancar, atau problem apa saja, biar saya ritualkan di sini,” tantang Abah Rahman. (Rel-Dedi)

Loading...