Penampakan wanita bergaun putih di air terjun Lae Pandaroh

843

Fajar-Sidikalang | Tak banyak referensi yang dapat digunakan untuk mengungkap sejarah ataupun legenda Air Terjun Lae Pendaroh ini. Namun, sebagian besar warga pernah merasakan pengalaman menyeramkan saat melintas di areal objek wisata alam tersebut. Dari penampakan sosok wanita bergaun putih, ular berukuran besar hingga hasil foto rusak.

Di balik keindahan dan kesejukan air terjun Lae Pendaroh di jalan lintas Sidikalang-Medan, ternyata tersimpan cerita mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Apalagi, lokasi yang terkenal angker ini juga selalu meminta korban jiwa.

Seperti kejadian mistis yang pernah dialami, Yogi warga Sidikalang. Kepada wartawan beberapa waktu lalu, Yogi mengisahkan, ketika itu dia melintas seorang diri melewati jembatan air terjun saat hujan gerimis sekira pukul 12.00 WIB dengan mengendarai kreta (sepedamotor).

Sesampainnya di lokasi jembatan air terjun yang kondisinya gelap dan berkabut, tiba-tiba melalui sorotan cahaya lampu kretanya, Yogi melihat sosok wanita memakai gaun putih sedang duduk di atas batu. “Ia terlihat menyisir rambut sambil tertawa,” bilang Yogi.

Di tengah rasa takut dan kaget luar biasa itu, mendadak mesin kreta yang ditunggangi Yogi mati. “Tapi sosok wanita yang kulihat tadi sudah menghilang. Aku mencoba mengengkol kreta. Beberapa kali diengkol gak juga mau hidup. Terus kubilang; Permisi, mohon maaf, saya cuman mau lewat jangan diganggu,” ucap Yogi sembari membaca Al-Fatihah.

Anehnya, usai mengucapkan kalimat tersebut kreta yang diengkolnya pun hidup kembali. “Langsulah aku tancap gas,” ucap Yogi.

Penampakan wanita bergaun putih dan berambut panjang tersebut ternyata tidak hanya sekali dialami Yogi. Di hari berikutnya, kejadian serupa terulang. Namun kali ini mesin kreta yang ditunggangi Yogi tidak mati.

Hanya ketika melintasi jembatan, sosok wanita tadi terlihat berjalan melayang di samping jembatan dekat air terjun dengan diiringgi suara, kuk, kuk, kuk… seperti suara burung malam. Penampakan itu sempat membuatnya merinding. Sambil tancap gas, Yogi pun mengucapkan kata-kata yang sama seperti sebelumnya.

Malam berikutnya dengan rasa takut, Yogi pun terpaksa memberanikan diri melintas jalan tersebut karena ada keperluan penting di Kecamatan Sumbul. Kali ini dia mencoba menunggu kendaraan yang melintas, namun hingga pukul 01. 00 WIB, dalam suasana hujan gerimis, tak ada satupun kendaraan melintas.

Takut hujan semakin deras, Yogi memberanikan diri berjalan dekat jembatan air terjun, Yogi pun membunyikan klakson kretanya. “Astaga… begitu membunyikan klakson, sosok wanita tersebut terlihat menyeberang dari jembatan. Setelah kejadian itu, Yogi pun tidak berani lagi melintasi jembatan dekat air terjun seorang diri.

Loading...