Perjalanan spiritual Abah Rahman, usai ditolak sidang leluhur sering terima petunjuk gaib

13

Rel-Dedi | TAK terhitung sudah ritual gaib yang digelar. Begitu pula ragam lelaku. Juga rupa sesaji yang disiapkan. Ada ritual berat, ada pula sederhana. Hasilnya? Seperti gelap mengantar terang. Bermula ditolak sidang leluhur, sekarang telah sering mendapat pesan gaib. Inilah kisah gigih sosok spiritualis yang supranaturalis.

“Semua perjalanan itu berawal di tempat ini.” Abah Rahman, spiritualis itu, berkata sambil menengadah ke langit. Ia lalu terdiam. Usai menatap langit, sorot matanya lalu pelan menyapu lembah mungil di hadapannya. Bahasa tubuhnya serasa mengagumi sesuatu yang tak nampak di balik panorama alam di depannya. Itulah Pancur Gading. Di situlah Putri Hijau, sang legenda hidup Tanah Deli meninggalkan sekeping misterinya.

Pancur Gading dan Sungai Deli yang membelah wilayah itu, bagi Abah Rahman merupakan simbol kekuatan mistis Putri Hijau dan para roh pengikut setia sang ratu jelita. “Inilah daerah penyangga mistik Tanah Deli dan sekitarnya. Dan fakta Pancur Gading setiap hari didatangi orang-orang yang dirundung problem kehidupan merupakan lambang masihdiakuinya ikatan mistis baheula itu,” ujar Abah Rahman.

Paranormal bertubuh subur itu memang memercayai alam semesta sangat berhubungan dengan alam manusia. Keduanya saling berkaitan. Saling memengaruhi. Karena itulah, setiap peristiwa yang dialami manusia akan ditanggapi oleh alam semesta. “Jujur, di tempat inilah sebenarnya saya banyak belajar. Belajar soal kehidupan dari kegaiban.” Abah Rahman mengenang kisah belasan tahun lalu saat mulai mempelajari ilmu gaib.

Dan sepanjang masa itu, tak terhitung sudah ritual gaib yang digelarnya di Pancur Gading. Mulai dari ritual yang berat hingga ritual yang sederhana. Semua itu tentu untuk mengobati atau mengatasi masalah orang-orang yang menjadi pasien Abah Rahman. Cenayang itu bercerita.

“Ritual yang berat tentu akan dibarengi pula dengan sesajian dan syarat yang bermacam-macam. Semua sesaji itu dipersembahkan bagi roh leluhur yang bersemayam di Pancur Gading, utamanya tentu untuk Tuan Putri dan panglimanya.”

“Di mana-mana, setelah media ritual disiapkan, maka yang perlu diperhatikan adalah tempat ritual. Soalnya, semakin tempat itu memiliki kekuatan gaib, maka indikasi keberhasilan dari niat atau keinginan yang kita panjatkan akan semakin terbuka. Nah, saya sudah membuktikan besarnya kekuatan supranatural di sini. Dari sini sampai sungai (Deli) itu penuh dengan rute-rute roh halus,” Abah Rahman memetakan kekuatan klenik Pancur Gading.

Saking besarnya energi gaib di situ, setiap jengkal tanah di Pancur Gading nyaris telah menjadi lokasi ritual tokoh supranatural itu. “Yang namanya ritual gaib tentu harus digelar di tempat yang gelap, sunyi. Itu agar kita bisa berkonsentrasi penuh. Lihatlah, semua wilayah (Pancur Gading) ini memenuhi syarat-syarat itu.”

Begitulah. Jumat (4/5/2018) Wage lalu, untuk kali tak terhitung, Abah Rahman menggelar ritual di Pancur Gading. Kali itu ritual yang sederhana. Ceritanya, siang itu Abah Rahman tengah berupaya membuang sejumlah sial yang dirasa menempel dalam kehidupan seorang perempuan paruh baya. Setelah mengoles minyak misik di telapak tangan, Abah Rahman pun tampak memandu perempuan itu.

Di depan petilasan Sang Putri, mereka duduk bersila. Lalu berkonsentrasi agar mudah memasuki alam bawah sadar. “Ya Tuhan… Sang Penguasa Alam Semesta, hanya padaMu lah langit dan bumi bersujud, hamba minta sedikit saja kekuatanMu untuk mewujudkan….” demikian terdengar keluar dari mulut Abah Rahman.

Setelah mengucap rangkaian doa itu, Abah Rahman nampak diam, hening, mata tertutup, dan hampir 20 menit kemudian mulutnya kembali ditemukan komat-kamit. Kali itu tak diketahui apa yang diucapnya. “Ya, saya ingin mendapatkan kelimpahan barokah, ketenangan batin, dagangan sukses, dan keluarga saya terus harmonis,” aku perempuan ‘penuh sial’ itu, seusai ritual perdana. Ia menolak membeber identitasnya.

“Sekarang ini,” timpal Abah Rahman, “garis pemisah antara yang jahat dan baik semakin susah dilihat. Banyak musibah alam yang terus terjadi, kejahatan semakin bersimaharajalela, hukum rimba tampak semakin berkuasa, aturan dan norma kehidupan semakin banyak ditinggalkan, masalah pelik selalu berujung polemik, pertentangan muncul di mana-mana, kesulitan hidup akan semakin menghimpit dan mencekik, dan segudang persoalan terus muncul dan semua itu berujung kekacauan.”

“Ops,” sambungnya lagi, “itu semua bukan saya yang bilang ya. Bukan. Semua (pesan) itulah yang menjadi petunjuk gaib yang saya dapat dari ritual barusan tadi. Lalu apa arti atau kaitan semua pesan itu dengan masalah adik kita ini? Pasti ada. Dan tak mungkin saya beber di sini. Sekarang setiap ritual yang saya lakukan syukurnya selalu mendapat petunjuk gaib. Kalau pertama-tama dulu, saya beberapa kali ditolak sidang para leluhur.” Siapa ingin mendapat pesan gaib? (***)

Loading...