RS Tembakau Deli Penghubung Sejarah di Masa Lalu (Bagian 1)

858

rs-tembakau-deli-787x445
M24.CO|MEDAN

Bangunan Rumah Sakit Umum Tembakau Deli – kini usianya lebih dari 116 tahun – perlu dilestarikan. Rumah sakit ini dibangun setelah produksi tembakau meledak di pasaran Eropa. Seperti apa kondisinya sekarang?

2015-03-22-14.21.44Namanya Jacobus Nienhuys. Sejarah perkebunan Deli tidak terlepas dari pria asal Belanda ini. Dikenal sebagai pengusaha di bidang perkebunan, langkah pertama Nienhuys membuka usaha perkebunan tembakau dengan menggandeng para pionir pengusaha perkebunan lainnya. “Dia pertama kali membuka wilayah perkebunan di Sumatera Timur,” kata Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSIS) Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phil Ichwan Azhari.

 Sejak awal dimulainya perkebunan, usaha Nienhuys menunjukkan kemajuan yang pesat. Pada 1864, produksi tembakau yang dikelola Nienhuys meledak di pasaran Eropa. Masa itu, Deli – kini menjadi Kota Medan – dikenal seantero Eropa dengan sebutan ‘Dollar Land’ predikat sebagai penghasil daun pembungkus cerutu terbaik dunia mengalahkan tembakau Brazil dan Kuba.

Pada 1869, Nienhuys mendirikan Deli Matschapij, badan usaha yang membawahi sekitar 75 daerah perkebunan di Sumatera Timur. Di sana berhimpun usahawan mancanegara seperti Jerman, Inggris, Swiss, Belgia dan Amerika. Usaha Nienhuys makin maju. Sebagai pengusaha, namanya terus populer di kalangan pejabat Belanda dan rakyat jelata. Pada 1870, Nienhuys memindahkan kantornya dari kawasan Labuhan ke Jalan Tembakau Deli, sekarang Jalan Putri Hijau Medan.

Tak berapa lama, Nienhuys membangun Rumah Sakit Tembakau Deli di bawah bendera Deli Maastchappij pada
1871. Dokter yang pertama kali bertugas adalah dr H Sanders Eza. Masa itu, rumah sakit tersebut hanya menangani pasien yang berpenyakit ringan saja.  “Jika ada pasien yang mengalami sakit berat, terpaksa dibawa ke Penang naik tongkang,” kata Ichwan.

Pada Juli 1899, atas prakarsa H Ingerman, selaku Hoofdadministrator Deli Maatschappij, mengajak orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Medan untuk membantu pengembangan rumah sakit. Dari hasil sumbangan, dia mendapat uang sebesar Fl 15.000 (Fl sering dipakai untuk melambangkan mata uang Belanda, Gulden) dari PW Janssen. Lalu dia membuka ruang operasi.

83b (8)Namun biaya pembangunan ruang operasi tidak cukup. Kemudian dia memungut sumbangan dari pemilik perkebunan Namoe Terasi, Firtz Meyer dari Zurich, sebesar Fl.10.000 ditambah sebidang tanah besar sebagai tempat untuk pembangunan rumah sakit tersebut. Kemudian dipunggut pula sumbangan dari masyarakat lainnya sehingga jumlah dana yang terkumpul mencapai Fl7.000. Lalu rumah sakit itu dibangun.

Pada tahun 1901, Tuan Schmid, selaku administrator Deli Batavia Maatschappij, juga menyumbang dana untuk pembangunan 8 unit ruangan buat pasien-pasien yang menderita penyakit parah, dengan mempekerjakan 5 orang perawat yang terlatih dan seorang koordinator perawat.  Pendapatan rumah sakit kebanyakan berasal dari sumbangan-sumbangan dan iuran 39 perusahaan, klab, baik di Jerman maupun Swiss.

“Ada beberapa contoh mata uang yang dahulu digunakan sebagai alat tukar perdagangan Tembakau Deli. Ada berupa uang berbahan logam dan ada juga berbentuk uang kertas,” kata Ichwan.

RS Tembakau Deli 2Sejarawan Belanda, Dirk A Buiskool mengatakan, Rumah Sakit Tembakau Deli dibangun untuk memberi pelayanan kesehatan kepada para kuli kebun yang datang ke Sumatera Timur. Belakangan rumah sakit itu mengalami kerugian besar menyusul meninggalnya 217 kuli sejak tahun 1869 hingga 1870.

Pada tahun 1915, rumah sakit ditetapkan sebagai rumah sakit laboratorium penyakit tropis. Namun beberapa bagian rumah sakit yang dibangun di lahan seluas 3,8 hektar itu bahkan sudah dihancurkan. Terakhir, lima pintu sudah hilang, sementara arsip-arsip dijual kiloan. Kusen-kusen di ruang perawatan VIP juga sudah hilang, dan ruang penyimpanan air hancur.

Menurut Ichwan, Kota Medan bakal kehilangan karakternya jika rumah sakit ini hancur. Jika penghancuran ini tidak mendapat perlawanan, maka telah terjadi kebangkrutan kebudayaan di ibukota Sumatera Utara ini. Medan juga bakal semakin terputus dengan masa lalunya karena satu persatu gedung bersejarah hilang.

Menurut Ahli hukum di Medan, OK Saidin, hak sewa atas tanah Rumah Sakit Tembakau Deli dikeluarkan pemerintah untuk PTP IX yang kemudian bergabung menjadi PTPN II. Itu artinya PTPN II dinilai tidak berhak melakukan penjualan lahan kepada pihak swasta.

“Saya yakin ada permainan dalam penutupan rumah sakit itu berdasarkan pengalamannya menjadi konsultan di PTPN II selama empat tahun,” katanya.

Rumah Sakit Tembakau Deli MedanSebelumnya, Kepala Humas PTPN II, Rachmuddin mengatakan, lahan dan gedung RS Tembakau Deli dikelola oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun). Namun dalam SK Direksi PTPN II Nomor II.0/Kpts/0 7/2011 tanggal 4 November 2011 dinyatakan bahwa RS Tembakau Deli akan di-swap ke Dapenbun/Swasta.

Rumah Sakit Tembakau Deli saat ini tidak beroperasi lagi. Rumah sakit tertua di Medan itu ditutup PTPN II pada 2011. Padahal keberadaannya tak bisa dipisahkan dari sejarah Kota Medan.

Berbagai elemen masyarakat Medan dari lintas profesi seperti akademisi, politisi, ahli hukum, aktivis, pelaku media, pelaku pariwisata, dokter, hingga karyawan Rumah Sakit Tembakau Deli, pernah berupaya melakukan gerakan penyelamatan agar rumah sakit tetap beroperasi, namun upaya mereka tak membuahkan hasil.

Bangunan Rumah Sakit Tembakau Deli dinyatakan sebagai bangunan bersejarah. Namun pada saat pemasangan plat register, tidak satu pun pejabat yang mewakili PTPN II hadir. Bahkan dalam pemasangan plat sempat ada keributan. “Pemasangan plat register harusnya di dalam rumah sakit, namun pimpinan rumah sakit keberatan makanya kita sepakat dipasang di depan dengan jaminan tidak berpindah tempat,” kata Mitra Lubis, aktivis penyelamatan Rumah Sakit Tembakau Deli.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemko Medan pada surat nomor 433/498 14 Februari 2013 menetapkan Rumah Sakit Tembakau Deli merupakan bangunan cagar budaya Kota Medan berdasarkan UU cagar budaya No 11 tahun 2010 dan Perda Kota Medan No 02 tahun 2012.(winsah)

Loading...