Samsuri, pedagang bakso ngelmu pelaris dagang

38

Rel-Dedi| Samsuri. Laki 51 tahun itu bukan hanya tampangnya saja yang ndeso. Kendati telah puluhan tahun tinggal di Medan, tabiatnya juga masih ndeso. Desa, yang masyarakatnya dikenal solider, tanpa pamrih, dan menjaga harmoni hidup. Samsuri pun begitu. Sampai sekarang ayah 5 anak dan asal Solo itu masih menguri-uri atau melestarikan budaya leluhurnya. Ia bercerita.

Sejak lajang, dia memang sudah tertarik dengan warisan baheulayang banyak berbau kegaiban. Saking tertarik, berbagai mantra yang didapat dikritisinya untuk diambil hikmah, lalu diuji tingkat kebaikan serta destruksinya. Samsuri juga dukun? Tidak. Dia hanya murni menjaga nilai-nilai luhur asal usulnya. Dan kisahnya menguri-uri warisan leluhur ternyata menjalar ke usaha dagang baksonya. Karena itulah, wasilah dan doa-doa tertentu dari sebuah ritual pelaris terus dilakukannya. “Ya, kesuksesan (dagang) saya ini dari situ lo,” katanya soal laku mistik pendongkrak usahanya itu.

“Kendati begitu,” katanya lagi, “kisah sukses usaha baksoku tak semudah membalikkan tangan. Semua kulalui dengan perjuangan keras dan juga doa.” Ditemui baru-baru ini di kediaman seorang spiritualis, Samsuri, yang ternyata datang ke situ bersama sejumlah temannya sesama pedagang makanan, sudi berbagi kisah awalnya membangun usahanya. “Usaha yang modal pertamanya cukup besar ini, berbulan-bulan awalnya tidak ada perkembangan yang berarti, bahkan cenderung jalan di tempat.” Dia yang kini memiliki sejumlah mitra usaha bakso coba mengenang kisahnya awalnya merintis.

“Untuk menguatkan langkahku, saat itu sering kuluangkan waktu berziarah di tempat karomah dan selanjutnya berkonsultasi dengan Abah. Beliau kan dikenal banyak kalangan, khususnya pengusaha terkait bimbingannya secara spiritual dalam bisnis,” jelas Samsuri soal sang spiritualis yang ternyata Abah Rahman. Dia terus bercerita. “Niatan bulat untuk menutup dan menjual tempat usaha kuutarakan pada Abah. Itu ya mengingat tingginya modal yang harus kukeluarkan dan pemasukan yang tak sesuai harapan. Beliau dapat mengerti kegundahanku karena dari sekian modal yang kutanamkan ke usaha, saat itu belum juga balik modal, malah cenderung merugi.”

“Hidup bukan untuk ditangisi, kejarlah segera mimpi-mimpimu, jangan berhenti di jalan. Begitulah ucap Abah saat itu menyemangatiku. Abah juga bilang, selalu ada harapan di tengah kesulitan. Kesuksesan tak akan pernah datang secara sendirinya dan tak juga dengan cara tiba-tiba pula, semua ada proses. Berhenti di tengah jalan bukanlah solusi, namun mundur dari kesuksesan secara dini. Semua omongan Abah itu masih kuingat.”

“Beliau pun menyarankan aku dan keluarga terus menjalankan usaha. Begitulah. Karena kesungguhanku mengamalkan semua wiridan dari Abah dan juga kerja kerasku, tiga bulan setelah aku memakai khodam hasil ritualnya, usahaku pun mulai menampakkan titik terang kesuksesan.”

“Satu tahun terakhir ini, omzet bahkan sudah bisa mencapai puluhan juta rupiah per harinya. Khodam pemberian Abah memang seperti menarik para pengunjung untuk membeli baksoku.Aku dan keluarga tentu tak melupakan siapa yang berperan atas kesuksesan ini. Berkat bimbingan Abah, serta kewibawaan dan kharisma amalan darinya yang sangat terasa, sekarang aku lebih merasa menjadi pengusaha seutuhnya.”

Tak hanya Samsuri, penuturan senada juga dilontar para pedagang yang duduk di samping kiri dan kanannya. “Alhamdulillah, lancar dagangan saya lancar, Bah.” Sambil mengangguk, Munir (43) menjawab sapaan Abah Rahman padanya. Menyambung Samsuri, toke warung pecal lele kawasan Gatot Subroto, Medan, itu lalu meneruskan cerita dahsyatnya khodam di balik ritual mereka
selama ini : ngelmu pelarisan dagang pada Abah Rahman.

“Hasilnya memang sangat tidak bisa dijangkau dengan akal,” kata Munir. “Bagaimana pun, khodam hebat itu tak bisa kami dapat kalau tanpa bantuan Abah Rahman,” imbuhnya. Diamini pedagang-pedagang di kiri kanannya, dia terus bercerita. Menurutnya, khodam yang mendongkrak usaha dagang mereka berasal dari makam seorang tokoh besar masa lalu yang selalu disowani
Abah Rahman.

Di masa hidupnya, tokoh itu dikenal banyak orang dengan karomahnya. Ia mampu berbicara dengan para arwah aulia yang telah meninggal. Itulah yang kemudian membawa Abah Rahman menemukan ilmu sejatinya yang tersembunyi. Kisah hidup tokoh sakti itu yang sangat terkenal adalah soal aksinya menangkap petir. Syahdan, suatu sore, saat sedang mencangkul di sawah, langit di atas tokoh sakti itu mendadak mendung, pertanda hari akan hujan.

Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun. Petir datang menyambar-nyambar. Petani lain terbirit-birit lari pulang ke rumah karena ketakutan. Tetapi tokoh ini tetap enak-enak mencangkul. Baru sebentar dia mencangkul, datanglah petir itu menyambarnya. Gelegar…petir menyambar cangkul di genggaman tangannya. Namun, ia tetap berdiri tegar. Tubuhnya utuh, tidak gosong, tidak koyak. Justru si petir berhasil ditangkap dan diikatnya, lalu dimasukkan ke dalam batu sebesar genggaman orang dewasa.

Cerita sang pemilik karomah yang dibeber Munir dan Samsuri belakangan diamini Abah Rahman. “Ya, dan sejak awal ritual hingga sekarang mereka sukses, roh leluhur (pemilik karomah) itu tetap tidak minta banyak. Dia hanya minta diberi sesaji setiap hari. Itu saja,” tandasnya soal syarat ngelmu pelaris dagang yang erbukti mendongkrak usaha bakso Samsuri, juga puluhan pedagang lain pelanggan jasa daya supranatural Abah Rahman.

Loading...