Medan Bisa Tiru Konsep Yogya Kendalikan Kawasan Kumuh

227

M24.CO|MEDAN
Konsep Pemerintah Kota Yogyakarta nampaknya perlu ditiru oleh Pemerintah Kota Medan dalam hal mengubah kawasan kumuh di Daerah Aliran Sungai (DAS) atau yang disebut code menjadi rumah susun warga.
Meski membutuhkan waktu lama, kata Kasubag Promosi dan Publikasi Pemko Yogya Tutiek Susiatun menjawab pertanyaan wartawan, mengubah kawasan itu dengan cara bertahap.

“Penataan Sungai jode dimulai tahun 2000 sampai sekarang, sudah berjalan selama 16 tahun. Untuk mengubah ini dilakukan bertahap,” kata Tutiek saat menjawab pertanyaan wartawan unit Pemko Medan bersama Humas Pemko Medan yang melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pemko Yogya.

Konsep yang dilakukan yakni dengan melibatkan komunitas yang terdiri dari masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh. Ini, kata Tutiek, agar setelah selesai pengerjaan maka masyarakat bisa langsung merasakannya. Misalkan anggaran hanya cukup untuk mengerjakan 100 meter, setelah melihat justru masyarakat tersebut yang meminta kapan daerah aliran sungai itu juga diubah.

“Kita mengubah mind set masyarakat bahwa sungai itu bukan halaman belakang, sekarang sungai itu halaman depan. Di depan rumah ada jalan setapak. Sehingga itu menjadi halaman muka rumah mereka dan pasti membersihkan dan sungai menjadi sungai,” terangnya.

Ia memaparkan di hadapan puluhan wartawan Unit Pemko Medan dan Humas Pemko Medan bahwa Kota Yogya dilewati tiga sungai. Di sisi barat ada Sungai Winomo, di sisi tengah ada Sungai Code, dan di bagian Timur terdapat Sungai Gajah Uwong. Akibat letusan Gunung Merapi, maka sungai tersebut meluap dan menjadikan daerah-daerah itu menjadi kumuh. Dari ketiga DAS tersebut, Pemko Yogya telah berhasil menata DAS di sekitar Sungai Code menjadi rusunawa.

“Kedepan, kita diberi tantangan oleh pemerintah provinsi yakni program ‘kotaku’ yang dulunya bernama PNPM. Program ‘Kotaku’ memiliki tiga slogan 3 M yakni Mundur 3 meter, Naik 3 Meter, dan Menghadap ke sungai. Sekarang di kawasan DAS yang sudah ditata itu, masyarakat pun nantusias mengecat atap rumahnya (genteng) bak seperti di Barcelona,” terangnya.

Untuk memperlancar program ini, Pemko Yogya juga menjalin kerjasama dengan beberapa instnasi dengan memanfaatkan Corporate Social Responsibility (CSR) dari luar. “Kalau membebaskan lahan kita tidak mampu, satu-satunya cara adalah menata keindahan,” ujarnya dengan mengatakan untuk melakukan penggursuran memerlukan anggaran yang harus diajukan setahun sebelumnya.

Kedatangan puluhan wartawan Unit Pemko Medan yang dipimpin oleh Kasubag Humas Yurmal Hasibuan bersama kru Humas disambut oleh Kabag Humas Pemko Yogya Tri Hastono, Kasubag Humas Tedi Saparian, dan Kasubag Promosi dan Publikasi Tutiek Susiatun.

Saling Sharing
Pertemuan saat itu juga membuka informasi di masing-masing kehumasan antara Pemko Medan dan Pemko Yogya. Misalnya terkait keterbukaan informasi yang diberikan oleh Pemko Yogya dengan memberikan keleluasaan para wartawan yang bertugas di Unit Pemko Yogya untuk mencari informasi ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). “Kalau beritanya sedikit miring, kami tidak intervensi sepanjang itu adalah fakta. Itu menjadi koreksi buat kinerja Pemko sendiri agar menjadi lebih baik,” ucapnya. (red)

Loading...