Workshop Revolusi Mental di Pemkot Binjai, ASN Jangan Cari Aman

23

HAMDANI-BINJAI | Pemerintah Kota (Pemkot) Binjai menggelar workshop revolusi mental di Aula Balai Kota, Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Binjai Kota, Rabu (22/3/2017).

Workshop tersebut dubuka langsung Wakil Walikota Binjai Timbas Tarigan dan dihadiri Sekdako Mahfullah Daulay, para peserta yang berasal dari Kepala SKPD, Camat, serta lurah. Dimana narasumber dalam workshop itu Dr Ir H Suroyo MSi, Kepala Pusdiklat Kemendagri Regional Bukit Tinggi.

Pada kesempatan itu, Wakil Walikota Binjai menyampaikan sambutan tertulis Walikota Binjai HM Idaham SH MSi, yang mengakui bahwa revolusi mental sulit untuk dilakukan. Sebab, revolusi mental berkaitan dengan karakter dan watak seseorang.

Karen itu, lanjut Wakil Walikota, dengan workshop yang digelar diharapkan para peserta dapat mengikutinya dengan serius. “Keseriusan para peserta merupakan contoh awal revolusi mental yang dimaksud,” kata Wakil Walikota membacakan sambutan Walikota.

Sementara itu, Kepala Pusdiklat Kemendagri Regional Bukit Tinggi, Dr Ir H Suroyo MSi, memaparkan banyak hal terkait revolusi mental. Dalam pemaparannya, Dr Ir H Suroyo mengulas sejarah perjuangan kemerdekaan RI.

Disebutkan Dr Ir H Suroyo, dalam buku sejarah pelajaran anak-anak didik saat ini dinyatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda lebih dari 300 tahun. Namun kenyataannya, kata Dr Ir H Suroyo, Indonesia hanya dijajah selama 17 tahun.

“Fakta itu bisa kita lihat dari awal lahirnya Bangsa Indonesia. Dimana bangsa kita lahir setelah para pemuda menyatakan sumpah pemuda. Sejak itu lah perjuangan dilakukan atas nama bangsa. Karena sebelumnya, Indonesia belum ada dan perjuangan masih membawa nama wilayah kerajaan masing-masing,” paparnya.

Tak hanya itu, Dr Ir H Suroyo juga memaparkan tentang Candi Borobudur. Dimana berdasarkan cerita rakyat, kata Dr Ir H Suroyo, Candi Borobudur dibangun atas bantuan jin.

“Tapi saya tidak begitu percaya itu. Kalau menurut kajian kami, Candi Borobudur itu adalah sebuah rumah ibadah. Dimana pada zaman dahulu di sana berdiri sebuah kerjaan dan kerjaan tersebut memiliki pangeran bernama Bandung Bondo Woso. Jika dilihat lebih dalam, Bandu itu artinya pekerja yang kebanyakan dari rakyat, Bondo itu kekayaan atau uang, dan Woso itu kekuasaan. Jadi, Candi Borobudur dibangun berdasarkan Pekerja, uang, dan kekuasaan atau raja,” terangnya.

Bukan itu saja, Dr Ir H Suroyo juga menegaskan perjuangan para pahlawan harus dihargai. Sebab, para pahlawan rela berkorban nyawa demi kemerdekaan. “Untuk siapa kemerdekaan itu, tentunya untuk kita sebagai anak cucunya,” tegas Dr Ir H Suroyo.

Tapi apa yang terjadi sekarang, sambung Dr Ir H Suroyo, lahan perkebunan diserah ke negara Malaysia. “Coba kita lihat lahan sawit di daerah kita. Siapa pekerjanya, orang kita, siapa yang memanen, orang kita, siapa yang menggiling buah sawit menjadi minyak, orang kita, setelah jadi minyak dan dijual, uangnya untuk siapa, untuk Malaysia,” pungkasnya.

“Siapa yang salah di disini. Yang salah itu kita, kita adalah penyelenggara pemerintah. Secara tidak langsung kita sudah terjajah,” tambahnya.

Karena itu, sebut Dr Ir H Suroyo, para ASN harus bertanggung jawab dengan amanah yang sudah diberikan. “Jangan cari aman, laksanakan tanggungjawab dengan baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala BKD Kota Binjai Amir Hamzah MAp, berharap dengan terselenggaranya workshop dapat mengubah menset di kalangan pejabat SKPD, pola pikir, kinerja, dan disiplin,  serta mengingat sejarah, rasa nasionalismi, maupun budaya kerja yang baik.

“Kegiatan ini merupakan program Depdagri dan Kota Binjai adalah kabupaten/kota pertama di Sumut yang menyelenggarakan Bimtek ini,” pungkasnya sembari menambahkan, dengan kegiatan ini juga diharapkan dapat mewujudkan Binjai Smart City.

Loading...