Parah! Perambahan Hutan Marak di Tapsel

349

M24.CO|TAPSEL

Perambahan hutan marak terjadi di kawasan Gunung Lubuk Raya, di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Tapsel-Sumatera Utara, diduga melibatkan oknum pejabat Pemko Padangsidimpuan dan pengusaha secara korporasi di mana ratusan hektare ludes digarap.

Pihak penegak hukum dinilai lamban menentukan siapa tersangka pelaku perusakan hutan produksi terbatas di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan itu pihak Polres Tapsel disebut-sebut pernah mendapatkan teror pemortalan menggunakan tebangan kayu besar menutupi badan jalan sehingga tidak dapat melintas ketika melakukan penyelidikan ke lokasi tersebut.

“Setelah kejadian itu hingga sekarang tidak ada lagi ekspos yang menyebutkan perkembangan,” ujar Alamsyah Pasaribu yang merupakan warga Marancar, “Dari Mana para oknum oknum itu memperoleh kawasan itu, Dan tentu kita akan mempertanyakan itu kepihak yang bersangkutan”, ujarnya,dengan Nada Heran

Alamsyah menambahkan, Kepala Bidang Pengawasan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Sumut dikabarkan telah memanggil oknum-oknum anggota DPRD Kota Padangsidimpuan terkait kepemilikan lahan dan dugaan alih fungsi hutan tanpa izin di kawasan Gunung Lubuk Raya itu.

Alamsyah warga Marancar mengatakan akan melakukan upaya hukum ke Mabes Polri dalam waktu dekat untuk melaporkan Oknum yang Telah melakukan perambahan dan pengrusakan, sebab Kawasan Aek Sabaon itu jelas-jelas dilindungi oleh Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan pasal 50 ayat 3 huruf a dan b ” “Pasca peninjauan mereka ke lokasi.

Hal senada dikatakan Sekjen Masyarakat Pemantau Hutan Indonesia (MPHI) Tabagsel, Erwin Hutagalung, mengatakan, agar tidak terkesan adanya unsur pembiaran maka pihak kepolisian seharusnya melakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan Tapsel guna untuk mencari tahu siapa pelaku perusakan hutan itu. Menurutnya kejadian perambahan hutan di Aek Sabaon dan terjadinya alih fungsi terhadap bentang alam di sana, diduga karena adanya unsur pembiaran dari aparatur yang ada.

“Kenapa sejak awal pihak kehutanan setempat tidak melakukan tindakan akan hal tersebut hingga sampai berdirinya bangunan-bangunan megah di sana? Nah ini kan bukti indikasi adanya pembiaran,” tegas Galung. -(sabar)

Loading...